
Paginya aku bangun kesiangan, soalnya semaleman aku nggak bisa tidur. Alhasil jadwal keberangkatan mundur 1 jam dari waktu yang disepakati sama Ridho.
Sekarang aku ada di dalem kapal bareng orang yang daritadi berdiri di sampingku dengan outfit kemeja pendek warna putih dan celana pendek warna krem.
Kapal mulai berlayar, mataku dimanjakan dengan birunya air laut dan cerahnya matahari pagi ini. Rambut panjangku yang berkilau dipermainkan angin.
"Sampai dimana kita harus membuangnya?" tanya Ridho tiba-tiba.
"Aku nggak tau persis, kata Rania cuma dibuang di tengah laut lepas, gitu aja sih..." jawabku.
"Sebaiknya kita berlayar jangan terlalu jauh, firasatku nggak enak..." ucap Ridho yang emang dari awal berangkat mukanya ditekuk mulu, nggak ada senyum-senyumnya sama sekali.
"Tapi cuacanya lagi bagus banget, jarang-jarang kan aku bisa liburan kayak gini..." kataku yang menepis kekhawatiran Ridho.
"Alam nggak bisa diprediksi, sekarang cerah tapi bisa jadi setengah jam kemudian langit jadi mendung dan datang badai, semua kemungkinan buruk bisa aja terjadi..." kata Ridho.
"Ya udah, terserah kamu aja..." ucapku yang nggak mau dibilang ngeyelan sama Ridho.
Kapal pribadi, kapal sewaan lebih tepatnya membawa kami ke tengah lautan. Aku merogoh saku, aku yang memakai dress selutut dengan warna orange ini melihat sebentar apa yang aku pegang.
"Pergilah, yang jauh sampai ke dasar lautan!" ucapku.
Aku julurkan tanganku keluar kapal. Sesaat aku memandang Ridho yang juga menatapku dengan matanya yang bikin klepek-klepek itu. Tangannya juga terulur, menyentuh tanganku yang siap membuang benda keramat itu.
Satu ... dua ... tiga...
Aku melepaskan bungkusan kain mori yang terdapat keris dan juga tanah yang dibungkus juga dengan kain.
Entah reflek atau bagaimana, aku memeluk Ridho. Dia kayaknya kaget dengan apa yang aku lakuin. Angin laut yang kencang membuat dress orange ku berkibar-kibar, untung aja aku pakai short hitam, jadi kain segitigaku nggak keliatan kemana-mana.
Dan laut yang tadimya tenang, tiba-tiba saja bergelombang. Sontak aku melepaskan pelukanku dan melihat keadaan sekitar.
"Sepertinya akan ada ombak besar!" seru Ridho.
"Kita harus segera berputar arah!" lanjutnya yang menarikku masuk ke dalam kapal.
Keadaan kapal nggak terkendali, Ridho memanggil nahkoda untuk segera berputar dan menuju daratan.
Langit yang semula mendung, sekarang menghit dan siap-siap menerjunkan hujan.
"Sepertinya akan ada badai, Tuan!" ucap salah seorang yang bertugas mengawal kami di kapal ini.
"Cepat putar arah!" ucap Ridho.
Aku takut banget ngeliat Ridho yang udah panik. Dia menarik aku buat ngikutin kemana dia pergi.
"Pakai ini!" Ridho makein aku jaket pelampung.
"Aku takut, Dho! apa kapal ini akan tenggelam? aku ... aku nggak bisa renaaaaang!" ucapku panik.
"Nggak akan! tenang aja," ucap Ridho yang aku yakin ngomong itu cuma buat bikin aku tenang. Tapi ngeliat situasi sekarang, kayaknya apa yang diucapkan Ridho hanya bualan semata.
"Aakkkh!" aku memekik.
JEDDEERRR!!
BYUUUUURRRR!!!
Nggak bisa diprediksi, air lautan yang semula tenang, bisa berubah mengganas seperti ini. Bahkan deburan ombak masuk ke dalam kapal dan membuat basah semua lantai.
Kapal bergoyang nggak stabil, Ridho dengan segera memakai pelampung di badannya.
Hujan turun bersamaan dengan kumpulan awan abu-abu yang seakan menyelimuti kami dari atas.
"Apa ini ada hubungannya dengan keris itu, Dho?" tanyaku.
"Aku nggk tau, Va! mungkin hanya kebetulan aja, kita jangan terlalu sering mengkaitkan sesuatu dengan yang ghoib. Pasrahkan saja semuanya sama Allah, kita cuma bisa berlindung pada-Nya..." kata Ridho. Aku mengangguk, tapi jujur dalam hati ini aku nggak siap buat ngadepin hal yang mengerikan lagi.
Aku merasa kapal ini berputar arah, semoga aja badai ini cepat berlalu. Ridho nggak pernah ngelepasin genggaman tangannya. Sambil matanya terus mengawasi keadaan di luar. Awak kapal semuanya panik, tapi aku yakin mereka udah dilatih dengan kejadian kayak gini.
Ridho mencekal salah satu awak kapal yang kebetulan lewat, "Apa yang terjadi?" tanya Ridho. Karena orang ini begitu panik, bukankah mereka harusnya terbiasa dengan adanya badai?
"Ehm..," laki-laki ini ragu untuk menjawab.
"Jawab, apa ada yang tidak beres?" Ridho melapaskan tangannya dari genggamanku dan kini mencengkram kerah baju laki-laki itu. Memaksa orang itu untuk bicara jujur.
"Kapal kita mengalami kebocoran, dan air mulai masuk ke dalam kapal!"
"Shiiiiiiittt!!! kenapa bisa?" Ridho melepaskan cengkramannya dengan kasar.
"Kalian sudah mengabari pusat untuk mengirimkan bantuan?"
"Sudah, Tuan! kami sedang berusaha semaksimal mungkin, mohon anda tetap di dalam dan jangan panik..." ucap pria itu yang kemudian pergi
Tapi aku ngerasa lantai kapal ini agak miring, apa karena aku yang lagi pusing atau gimana.
"Dho..." reflek aku memeluk Ridho. Sedangkan Ridho menelisik keadaan sekitar. Barang-barang mulai bergeser dengan sendirinya
Demi apa coba aku takut banget sama air dengan jumlah yang banyak ini dan keadaan ini yang semakin kacau.
"Dho kayaknya kapal ini mulai miring," ucapku.
"Mungkin. Jangan takut, ada aku disini, kita harus yakin bantuan pasti akan segera datang..." ucap Ridho, dia mengecup keningku sekilas. Air udah mulai masuk bahkan sekarang udah semata kakiku.
Pikiranku udah kemana-mana. Aku udah sering nyaris berhadapan maut, tapi buat yang sekarang aku bener-bener nggak siap. Aku nggak siap berpisah sama Ridho lagi, aku peluk dia dengan erat. Air mataku lolos gitu aja, aku nggak bisa bayangin kalau aku menghadapi ini sendirian.
"Hey, Reva ... tenang, aku janji kamu akan selamat. Aku nggak akan biarin kamu tenggelam bersama kapal ini, aku janji! sshhhh, udah jangan nangis lagi," ucap Ridho.
Air semakin naik, kapal ini terus bergerak semampunya meskipun terus saja diserang ombak tanpa ampun.
Ridho bergerak melihat ke arah jendela.
"Kira harus keluar," ucap Ridho yang ngajak aku buat ngikutin kemana dia pergi. Kita udah nggak pakai alas kaki.
"Hati-hati..." ucap Ridho ngingetin.
Dengan posisi kapal yang semakin miring, kayaknya udah nggak mungkin bagi kapal ini buat terus bergerak. Yang bisa dilakukan cuma nunggu bala bantuan datang.
Ridho terus bergerak menuju keluar kapal dan menjangkau bagian yang tertinggi. Untuk ukuran kapal yang mewah, harusnya nggak ada tuh kejadian kayak gini, aku udah bayar mahal loh. Tapi balik lagi semewah apapun, secanggih apapun, kapal ini hanya buatan manusia yang bisa mengalami kerusakan.
"Kita harus selama mungkin bertahan di dalam kapal ini," ucap Ridho yang mengajakku buat naik ke atas dek kapal.
Dan badan kita diguyur hujan, dan ombak yang membuat kapal kita terombang ambing di lautan.