Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Nggak Ada Taring Drakula


Setelah beberapa jam yang sangat melelahkan akhirnya kita sampai juga di kontrakan. Hari sudah menunjukan pukul dini hari.


"Aku panggil Mona dulu ya, buat bantuin kamu mapah mbak Sena. Kalau aku yang angkat kan ntar kamu merong-merong!" ucap kangmas.


"Emangnya Mona tidur di kontrakan?" ucapku. Karena ini kan udah tengah malem. Biasanya Mona bakal nginep di kosan temennya buat ngerjain tugas.


"Iya, dia juga baru nyampe kok jam 10 an. Jadi kemungkinan dia belum molor, tadi udah sempet telfonan. Aku masuk dulu bentar!" ucap Ridho seraya buka pintu mobil.


Pas kangmas pergi, aku celingukan. Soalnya mobil satunya tuh belum nyampe kesini.


"Nyari apa, Mbak?" tanya si supir yang menyadari penumpangnya celingukan kayak orang ilang.


"Pak Karan nggak kesini?"


"Tidak, Mbak. Mobil pak bos langsung ke rumah utama," jawab si supir yang udah diketahui namanya mas Cahyo.


Kayaknya dia bukan supir yang sebenernya, maksudnya bukan supir gadungan bukan. Tapi dia itu lebih mirip bodyguard alias pengawal. Badannya tinggi dan ototnya kemana-mana. Aku baru perhatiin, kayaknya ini orang termasuk dalam team tambahan yang dikirim masuk ke dalam hutan sama pak bos. Lah kok malah bahas Cahyo, sih!


Ridho keluar dengan Mona yang jalan dibelakangnya. Dia ngernyit heran saat buka pintu mobil dan ngeliat ada satu orang yang kayaknya lagi sakit.


"Temen aku, Mon..." ucapku.


"Ooooh..." Mona bersuara lirih.


"Kamu bantu mapah bisa kan, Mon?" tanya Ridho.


"Bisa, Mas..." jawab Mona.


"Mas Cahyo makasih ya udah dianter sampe sini..." ucapku.


"Sama-sama, Mbak..." jawab Cahyo yang nurunin barang-barang kita dari bagasi.


Aku yang sebenernya udah capek, mapah mbak Sena buat masuk ke dalam kontrakan. Mona juga ikutan ngebantu sampe ke dalem kamar yang dulunya kamar Ridho.


Ridho masih di luar mungkin basa-basi dulu sama Cahyo. Nggak lama Ridho nutup pintu depan, dan nggak lupa buat ngunci.


Berhubung udah tengah malem juga, terus kita emang udah pada kecapean. Ridho mutusin buat tidur di ruang tamu, alesannya sih kali aja ada jurig yang ngikutin kita dari hutan. Padahal mah dia kayaknya males buat jalan lagi ke kosannya yang sebenernya cukup ditempuh dengan jalan kaki sekian menit.


Malam ini kita semua istirahat debgan tenang, dab berharap nggak ada gangguan apapun. Sebelum mata merem aku masih penasaran dengan gelang tali yang waktu di alam demit, mbak Sena sempet ngasihin ke aku.


Ternyata gelang itu masih tersemat di pergelangan tangan mbak Sena, aku jadi bisa tidur nyenyak kalau gitu. Soalnya aku paling nggak bisa kalau ngilangin barang orang. Apalagi itu barang yang berharga.


Tengah malem aku haus. Aku yang malam ini tidur nemenin mbak Sena pun keluar buat ngambil air di kulkas.


"Loh belum tidur?" aku negur Ridho yang lagi duduk sendirian di meja makan.


Aku ngucek mata mastiin ini setan apa manusia. Nggak cukup sampai disitu aja, aku nunduk dan liat itu kaki napak lantai atau nggantung.


"Kenapa, Vaaa?" dia nanya heran.


"Nggak, kali aja setan..."


"Ya ampun harus banget dicek sampe sekaki-kaki ya, Va? atauau cek yang lain juga?" tanya Ridho.


"Cek gigi misalnya, kali aja curiga kalau aku punya taring drakula..." kata Ridho.


Bener juga ya. Kalau drakula kan nongolnya melem-malem. Aku mendekat dan buka itu mulut Ridho dan ngabsen satu-satu giginya.


"Nggak ada taring drakula, cuma ada permen belang yang belum dikunyah!" kata ku yang berdiri di depan Ridho yang lagi ngedongak.


Ridho narik senyumnya setelah aku selesai ngecek pergigiannya.


"Gampang banget dikerjain?" ucap Ridho.


Aku nggak sadar kalau kita sedeket ini, tangannya melingkar di pinggangku. Aku nggak nanggepin omongan dia yang tadi karena aku fokus sama senyumnya yang bikin jantung aing dag dig dug der.


Dia nyuruh aku buat duduk di salah satu pahanya. Dengan nyamannya dia peluk aku dari belakang, dia naruh dagunya di perpotongan leherku.


"Trauma banget ya liat setan? sampe nggak bisa bedain mana manusia dan mana yang cuma nyamar?" tanya Ridho yang terkesan lembut.


"Ya gimana, waktu itu kan aku tersesat karena ada sosok yang bener-bener mirip sama kamu. Dan pas diliat, eh kakinya nggak napak tanah, kan amsyong..." jawabku, Ridho semakin mengeratkan pelukannya. Dia mencium pipiku sekilas.


Please, Dho. Dipeluk aja ini jantung udah kayak lagi dangdutan plus kosidahan. Kalau kayak gini kan aing kayak eskrim yang mendadak kena panas, lumer coooy!


"Tapi sekarang kan kemampuanmu ngeliat makhluk itu udah dikurangi kadar persennya. Yang tadinya bisa liat 100 persen mungkin sekarang tinggal 50 atau 40 persen. Itu artinya kan nggak bakal ketemu langsung sama setan-setan itu lagi kan?" ucap Ridho.


"Iya juga ya..." aku baru inget kalau aku kan udah ditutup mata batinnya setengah. Jadi para demit dan jurig nggak akan bisa tiba-tiba nunjukin mukanya sama aing.


"Vaaa..." panggil Ridho lembut.


"Ya..."


"Aku fokus nyari kerja dulu ya, habis itu kita baru planning ke depannya mau gimana..." ucap Ridho.


"Hemm ... iya,"


"Nggak mungkin kita mutusin buat nikah sedangkan aku belum ada kerjaan. Kan nggak lucu kalau di buku nikah, pekerjaaannya ditulis pengangguran..." kata Ridho.


"Iya, Dho. Aku manut aja gimana baiknya..." ucapku yang tumben-tumbenan bisa diajak diskusi serius begini.


Nyadar bobotku ini nisa bikin kram kaki si kangmas, aku pun beranjak.


"Mau kemana, Va?" tanya Ridho.


"Mau minum, haus!"


"Baru juga main romantis-romantisan eh malah udahan. Kamu gimana sih, Va..." Ridho merengut.


Glek


Glek


Glek


Aku milih basahin tenggorokanku yang kering pakai air dingin daripada ngeladenin kangmas yang lagi pundung.


Aku taruh gelas yang ada di tanganku ke wastafel, tumpuk aja dulu. Nyucinya besok.


"Ngerusak suasana banget kamu tau nggak, Va!" Ridho ngoceh lagi.


"Kalau kelamaan ntar kamu klepek-klepek karena nggak kuat dengan pesona seorang Reva. Kalau kamu pingsan kan repot, nggak ada yang bisa ngegotong!" kataku pede.


"Bisa banget kalau ngejawab!" Ridho narik hidungku.


"Awwwkkkk! sakiiitt, Ridhooo!" ucapku spontan uhuy.


"Jangan kenceng-kenceng, ntar yang lain pada bangun!" dia ngebekep mulutku.


.


.


Pagi harinya, aku bangun kesiangan. Karena apa? karena semalem kita ngobrol sambil makan mie pakai telor setengah mateng. Aku liat mbak Sena udah segeran, mungkin udah mandi.


"Eh, udah bangun, Mbak?" aku basa basi. Dia cuma senyum aja.


Mungkin masih lemes kali ya, ya udah aku tinggal ke kamar mandi. Tapi tumben si Mona nggak ngebangunin buat sholat subuh.


Setelah keluar dari kamar mandi dengan bau harum yang mewangi sepanjang hari, aku denger ada orang yang ngobrol di luar. Kayak suaranya Ridho tapi ada suara laki-laki lain.


Karena penasaran aku pun keluar untuk memastikan siapa yang bertamu pagi-pagi begini.


"Mbak aku keluar dulu, ya?" aku ijin sebelum nutup pintu kamar.


...----------------...