Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Menemukan Kamu


---Masih POV-NYA RIDHO----


Lagi-lagi, aku harus merelakan Reva dibawa oleh orang yang menyukainya. Lagi-lagi keadaan yang membuatku harus bersabar. Uang memang bukan segalanya, tapi disaat seperti ini uang yang banyak jelas sangat diperlukan.


Baik Bara maupun Vena sudah diamankan oleh aparat. Tinggal tersisa adikku yang masih belum sadarkan diri. Aku dibantu pak Sarmin melarikannya ke rumah sakit yang sama dengan Reva.


Aku pasrahkan keadaan Mona pada tim medis, karena kondisi Reva yang lebih serius. Aku dan pak Karan, menunggu Reva di depan ruangan yang hanya boleh dimasuki oleh dokter dan perawat saja.


"Kau sudah puas melihat dia celaka?" tanya pak Karan.


"Apa maksudmu, hah?" aku terpancing emosi.


"Kau sama sekali tidak layak, melindunginya saja kau tidak bisa! apa perlu dia hilang dari dunia baru kau sadar, kalau kau tidak bisa berbuat apa-apa untuknya!" ucap pak Karan yang bikin aku ingin sekali meninju wajahnya yang sombong itu.


Aku mencengkram kemeja berikut jasnya, "Jangan coba-coba berharap aku akan pergi dari hidup Reva! dengar, tuan sombong! Reva pergi dari rumahmu yang kau anggap aman itu. Apa gunanya memiliki pengawal jika menjaga dua orang wanita saja kalian bisa lengah dan bisa kecolongan...?! hah?"


Mendengar keributan di luar seorang perawat menegur kami, "Pasien dalam keadaan kritis, jantungnya berhenti berdetak! dokter sedang berusaha mengembalikannya, jadi tolong kalian jangan membuat kegaduhan di sini!"


Aku yang mendengar itu melepas bos sombong dan segera menerobos masuk ke dalam ruangan yang sebenarnya tidak boleh dimasuki, tapi perawat segera menyuruhku keluar, "Anda tidak boleh masuk, Tuan!"


Tinn ... tiiin ... tiiiiiiiiiiiiiin...


Satu garis lurua dengan bunyi panjang menandakan jantung Reva-ku sudah tidak berdetak.


"Revaaaaaaaaa!" aku mencoba menjulurkan tanganku, berusaha meraih seseorang yang terbujur kaku disana.


"Vaaaa, kembali, Vaaaaaaaaaaa! jangan tinggalin aku, Vaaaaa!" aku berusaha untuk masuk, tapi mereka mendorongku dan segera menutup pintu.


"Revaaaaaa!" tubuhku merosot begitu saja seakan tidak ada lagi satu kekuatan yang mampu membuatku berdiri.


Sedangkan pak Karan hanya bisa diam seperti patung.


"Kamu nggak boleh pergi gitu aja, Va! nggak boleh! kamu harus tetap hidup!" ucapku tanpa kuasa menahan rasa sakit yang benar-benar membuatku sulit sekali untuk bernafas.


"Kembali, Revaaa. Kembalilah...." aku memegang dadaku sendiri.


Dan tiba-tiba saja, pintu terbuka. Sebenernya aku nggak siap buat mendengar kabar duka ini. Dan bagaimana aku menyampaikan hal ini pada tante Ivanna, hatinya pasti hancur dan remuk mendengar kalau anaknya sudah menghadap Tuhan.


"Bersyukurlah, jantung pasien kembali berdetak. Namun saat ini dia dalam keadaan kritis," ucap dokter yang menanganinya.


Sontak aku bersujud, bersyukur dengan keajaiban yang diberikan Tuhan. Reva-ku akhirnya dia kembali.


.


.


Buatku sehari seperti satu windu, aku nggak tau bagaimana keadaan Reva. Dimana dia dirawat dan apa yang dia butuhkan. Melihatnya penuh luka dan darah, sudah bisa dibayangkan hal mengerikan apa saja yang sudah dia alami akibat perbuatan dukun jahanam yang diperintahkan Vena untuk mengganggu Mona.


Tapi sayangnya karena Mona mendapat perlindungan dari pak Sarmin, jadilah Reva yang menjadi sasarannya. Pak Karan memindahkan Reva ke rumah sakit lain tanpa sepengetahuanku persis beberapa jam setelah Reva dinyatakan koma. Dia licik sekali, dia mengambil kesempatan ketika aku pergi ke mushola rumah sakit.


Aku mencarinya seperti orang gila. Aku kehilangan jejak wanitaku. Baru saja aku bersyukur atas keselamatannya, tapi sekarang aku nggak tau dimana keberadaannya.


"Breng-seeekkk kau Karaaaaaaannnnn!!!! Breng-seeeeekk!!!" aku mengumpatnya penuh benci.


Aku berjalan gontai ke ruangan dimana Mona dirawat. Rasanya aku nggak punya kekuatan lagi, hati dan pikiranku tertuju pada satu wanita. Tapi lagi-lagi sebagai seorang kakak, aku nggak boleh egois. Mona juga baru saja mengalami hal buruk, aku nggak boleh terlihat kacau dan nggak berguna.


"Huuuhh," aku menarik nafas sebelum menarik handle pintu dan masuk menemui adikku.


"Mas Ridho?" ucap Mona ketika melihatku masuk.


"Gimana? udah lebih baik?" tanyaku.


"Mbak Reva? dimana mbak Reva?" lirihnya.


Hal pertama yang ditanyakan Mona ketika dia sadar adalah keberadaan Reva.


"Dia...." ucapku terhenti sejenak.


Aku hanya bisa bilang kalau Reva baik-baik aja, tanpa tau keadaannya yang sebenarnya. Aku terpaksa berbohong, karena aku juga harus menjaga psikis Mona, aku nggak mau dia menyalahkan diri sendiri dengan kejadian yang dialami Reva.


Besok paginya, pak Sarmin akhirnya pamit untuk pulang, dia sudah terlalu lama meninggalkan istrinya sendirian di rumah.


"Terima kasih atas bantuannya, Pak! saya banyak berhutang budi," ucapku saat di terminal bus.


"Jangan berucap seperti itu! saya hanya membantu semampu saya, dan soal Bara. Dia memang dalam pengaruh sesuatu yang diluar akal manusia. Maafkan dia," ucap pak Sarmin menepuk pundakku sebelum masuk ke dalam bus yang akan membawanya kembali kepada istrinya.


Aku berdiri sampai bus yang dinaiki pak Sarmin sudah menghilang dari pandangan.


Kemudian aku kembali ke rumah sakit.


Melihat kondisi Mona yang sudah lebih baik, aku pun pergi lagi dan mulai mencari informasi mengenai Reva. Nggak ada tujuan lain, selain rumah si bos sombong itu.


Aku mengawasi rumah pak Karan, tapi nggak ada tanda-tanda kalau si empunya rumah megah itu wara-wiri dengan mobil mewahnya.


"Aaarrrghhhh!!!" aku meninju angin


"Kamu dimana, Va?"


Aku udah nungguin dari pagi sampe sore, tapi nggak ada hasil pun seakan pengen nyerah. Tapi mungkin Tuhan pengen aku berjuang sekali lagi. Pintu gerbang dibuka dan masuklah mobil yang biasa pak Karan bawa.


Aku yang mendapat satu titik pencerahan pun menghubungi salah satu temenku buat bantuin aku ngikutin mobil pak Karan seandainya mobil itu keluar.


Nggak lama, temenku itu dateng. Dan bener aja, mobil yang dikendarai pak Karan keluar lagi. Aku meminta temenku itu duluan yang ngikutin mobil berwarna hitam itu.


Dalam hati aku berharap banget bisa nemuin Reva. Boro-boro ngurusin kerjaan, aku udah nggak mikirin itu. Kali ini aku pengen egois. Kali ini aku pengen ngelakuin hal buat diriku sendiri.


Mobil yang aku ikutin itu, akhirnya menuju sebuah rumah sakit.


"Dia ada di dalam sana," ucap temanku yang sengaja aku minta buat ngikutin Karan Perkasa.


"Thanks..." ucapku lirih.


Temenku itu nepuk pundakku sebelum dia pergi.


Dengan perasaan yang campur aduk aku mendekati ruangan yang dimasuki oleh bos sombong yang telah membawa Reva pergi.


Aku melihat dari celah pintu, ada seseorang yang sedang terbaring di atas ranjang dengan alat-alat yang terpasang ditubuhnya. Hatiku mencelos melihatnya, apa keadaannya belum membaik? Atau bahkan lebih buruk?


"Akhirnya, akhirnya aku bisa ngeliat kamu lagi, Va..." ucapku dalam hati.