Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Mereka Salah Target


"Anterin aku pulang!" ucap Vena sembari lelendotan di lengan Bara. Astaga, pengen aku kasih pembatas di tengah mereka itu biar jaga jarak.


Aku yang liat aja pengen nampol si cewek nggak tau malu itu, apalagi Mona coba? pasti tangannya udah gatel pengen nyakar atau ngejambak.


Mereka berdua pergi ninggalin aku dan Mona di tengah ruangan gelap dan nyeremin ini. Dan yang bikin keganggu itu ya, ini bau-bau menyan yang bikin kepala puyeng banget rasanya.


Mulut ditutup bikin kita berdua terpaksa diem. Karena percuma juga, nggak bakal keluar suaranya. Tangan udah mulai pegel, untung waktu ambil tas sebelum ide gila ke rumah sakit dengan drama-drama nggak jelas itu, aku sempet ganti celana jeans sama kemeja warna biru. Jadi kakiku selamat dari gigitan nyamuk.


Coba bayangin, ini udah sore dan suasana di dalem ruangan ini begitu pengap dan gelap. Ditambah kebul-kebulan dari dupa dan menyan yang dibakar bikin kadar horor di ruangan ini meningkat sekian puluh persen.


Aku kasian sih liat Mona, tapi balik lagi. Coba dia nggak ngeyel, pengen ketemu Bara. Kita nggak bakal jadi tawanan kayak gini.


"Hihihihihih..." begitulah bunyinya.


Tenang, kali aja itu suara tape recorder, atau dari speaker bluutooth yang nyempil di ruangan ini.


Mona yang udah panik, gerak-gerakin kursinya. Dia nyoba mendekat ke aku.


Aku menggeleng. Dengan cuma kode tatap-tatapan aku minta Mona supaya tenang.


Kan dia pernah tuh ditakut-takutjn pakai suara rekaman mbak Kunti, ya kali aja tuh dukun ngibulin kita pakai suara rekaman juga.


Tapi ehem, kayaknya harapanku tadi pupus. Karena dari arah depan. Aku ngeliat ada sosok perempuan memakai dress putih sedang mondar-mandir nyari koin. Eh, bukan ya.


"Hadeeeeuuuh, siapa lagiiii ini!" ucapku dalam hati. Males banget nggak sih kalau yang begituan nongol di depan mata.


Nggak cuma itu, mungkin banyak tapi karena mata batinku nggak sepeka dulu, aku cuma ngeliat beberapa aja.


Kreeeekkk!


Aku bergeser dikit-dikit ke arah Mona, aku tau dia pasti takut banget sekarang.


"Aaarrrgghhh!!!"


Kreeeeekkkk!


Kursiku bergeser dikit-dikit, Monaa udah ngeliat aku dengan ketakutan.


"Ya ampun buat deketin Mona aja susah banget! ini kursi kenapa susah banget di geserin! aarrrgghhh!" aku dongkol banget.


Kreeeeekkkk!


Sedikit demi sedikit kursi aku geser ke depan Mona, biar apa? biar dia nggak usah ngeliat makhluk apa aja yang mulai sowan atau datang ke ruangan ini.


"Hahahhahahahhahah!" suara lebih ngebas lebih berat terdengar menggelegar.


"Hadeeeeuuh siapa lagi dah! mereka keaini mau arisan antar setan apa giman? kalau iya sini aku bantu ngocokin, biar kelar dan cepetan pada balik ke rumahnya masing-masing!" ucapku dalam hati.


"Aaaarrrrrhhhhh!" aku coba sekuat tenaga buat ngelolosin tangan dari tali yang di diiket kenceng banget ke kursi yang aku duduki.


"Ya Allah, bantu aku biar bisa nglepasin diri! aaaaaaarrrrrrgghhhh!" aku mengerang kesakitan. Karena aku paksa tanganku keluar dari ikatan. Tali jemuran yang keras bergesekan dengan pergelanganku yang super lembut.


Mereka satu persatu datang dengan berbagai bentuk dan rupa. Ruangan yang tadinya cuma ada aku dan Mona kini diisi dengan bermacam-macam makhluk mengerikan.


Pengen nangis iya, tapi ini bukan saatnya jadi cengeng. Aku denger Mona sesenggukan, apalagi ketika ada satu makhluk bertanduk yang mendekat ke kita Mona jadi histeris banget, "Hmmmmmpph!"


"Aaaarrrrrrghhhhhhhhhhhhh!!! Susah banget! Ridhoooo, pak Karan please salah satu diantara kalian dateng dong!" aku udah mulai nggak kuat.


Mereka begitu banyak sampai ruangan ini begitu sesak, dan kita kayak gula yang dikerubungi semut.


"Astaghfirllah, ya Allah lindungi kami..." aku cuma bisa berucap dalam hati.


Aku lihat ada yang merayap di dinding, dengan rambut panjang dan mata yang penuh rasa benci makhluk itu mendekat bergabung dengan para makhluk lain yang seakan ingin saling berebut buat ngedapetin aku dan Mona.


"Rrrrrrrrrghhhhhhhh!" suara geraman dari makhluk-makhluk itu mengisi ruangan ini.


Kursiku kini perlahan melayang ke atas.


"Hemmmmpphhhhh! hemmmph!" Mona menggeleng berusaha berteriak.


Aku udah pasrah sih, kalau udah diangkat begini. Pasti ujung-ujungnya dibanting ke bawah. Aku merem, dan coba bayangin kalau sekarang aku lagi naik wahana permainan penguji adrenalin.


BRAAAAAAAKKKKK!!!


"Uhuuukkkkk!" aku nyungsep berbarengan dengan kursi yang ambruk.


"Aaaaaaaaakkkhhhh!" Mona menjerit saat ngeliat darah keluar dari hidung dan pelipisku.


Pandanganku agak buram, tapi aku ngeliat Mona yang bergerak-gerak diatas kursi mencoba menolongku dengan air mata yang terus mengalir.


Baru terjun tadi, aku udah diangkat lagi. Mereka mungkin salah target. Karena musuh Vena itu Mona.


Aku liat Mona dari atas sini.


Tessss!


Darahku menetes tepat di wajah Mona yang sedang menengadah.


Wuuuuuussshh!


BRAAAAAKKKK!!!


Makhluk bertanduk melempar aku ke dinding lebih kencang sampai kursi itu bener-bener ancur. Sedangkan makhluk-makhluk lain ada yang tertawa ada yang bersorak dan ada yang masa bodo amat.


"Hahahahahahahahaha..." suara wanita melengking memekakkan telinga. Wanita bergaun merah yang seakan menjadi ratu diantara sekumpulan makhluk tembus pandang yang bergentayangan.


"Walgelijk mens!" teriak wanita bergaun merah dengan topi ala noni-noni.


Badanku rasanya udah nggak karuan. Aku kayak jadi bulan-bulanan makhluk-makhluk yang seharusnya nggak kita lihat ini.


Aku terkapar di lantai.


Dan aku baru sadar kalau secara nggak langsung aku udah terlepas dari ikatan karena kursinya juga udah ancur dan nggak berbentuk lagi.


"Akkkhhh! uhuuukkhh!" aku buka lakban yang menutup mulutku.


"Uhuuuukkk!" aku menyeka darah yang keluar dari mulutku.


Ngeliat aku yang tergeletak dengan pandangan sayu, mereka mulai mendekati Mona.


"J-jangaaaaannn!" aku teriak dengan tangan yang menjulur berusaha meraih Mona.


"J-jangan sentuh diaaa!" ucapku lagi.


Aku yakin Ridho bakal marah kalau terjadi sesuatu dengan Mona. Dan aku nggak siap menghadapi itu.


Beberapa benda melayang di ruangan ini dan dengan cepat bergerak ke arah Mona.


"Monaaaaaaa!" aku segera bangkit dan melindungi Mona dari hantan benda-benda itu.


"Aaakhhhhh!" aku mengerang saat merasakan benda keras menghantam punggungku.


Perlahan badanku merosot tepat dipangkuan Mona.


"Hemmmmpphhj!" Mona cuma bisa nangis.


Dengan tangan yang bergetar, aku julurkan tanganku yang penuh darah buat ngebuka penutup mulut Mona.


Sreeeettt!


"Mbaaak Revaaaa, Mbaaaaakkk....! sadar, Mbaaakkkk, hikksss!" Mona menangis berteriak.


"Toloooooong! tolong kamiiii!" Mona berteriak lagi.


Tapi teriakan itu disambut tawa dari makhluk-makhluk tak beradab ini.


Dengan sisa tenaga yang aku punya, aku berusaha melepaskan ikatan di kaki Mona. Tapi tanganku tiba-tiba saja kaku nggak bisa digerakkan.


"Tidak semudah itu..." ucap entah makhluk apa lagi yang berbisik di telingaku.