
Mau nggak mau, aku lepas jeans dan baju. Aku cuma julurin tangan keluar tenda. Nggak lupa aku ambil tuh cincin, takut ilang.
"Kamu istirahat, kalau ada apa-apa bangunin aja itu Karla..." kata Ridho waktu nerima bajuku yang super basah.
"Tapi baju kamu dan pak Karan juga basah, Dho..." aku ngomong dari dalem tenda.
"Kita di depan api unggun, paling juga bentar lagi kering nih baju..." jawab Ridho.
"Makasih ya, Dho..."
"Iyaaa, abis ini jangan ngrepotin lagi ya?"
"Jadi selama ini aku itu..."
"Canda kali, Vaaaaaa! serius amet. Dah sana tidur..." ucap Ridho yang bisa-bisanya
"Kamu jangan masuk ke tenda ya?"
"Ya nggak lah! tenang aja, tapi kalau lupa mah nggak apa-apa ya, Va?" Ridho mencoba melucu di tengah situasi gentong kayak gini.
"Ya udah aku jemurin dulu nih baju," kata Ridho.
"Kamu yang akur ya sama Karla, awas jangan cakar-cakaran..." lanjut Ridho, dia berasa iye banget deh. Pengen aku samplong itu orang pakai sepatu.
"Masih untung dia nggak aku timpuk pakai batu!" gumamku.
Sekarang aku duduk di pojokan deket pintu tenda sambil ngebungkus badan pakai jaketnya Ridho dan jasnya pak Karan, kek berasa serakah banget ya ngembat dua cowok sekaligus. Hahay, ya gimana pesona Reva kan udah terjamin halal dan berlabel SNI. Jadi jangan salahkan aing kalau pak bos dan Ridho kesengsem sama kecantikan akikah yang tiada duanya ini.
Jadi kenapa aing mojok dimari, karena tadi pas mau lepas baju kan posisinya bajuku itu basah jadi aku takut bikin nih tenda kena banjir dadakan, daripada si Karla ngomel-ngomel kayak emak-emak yang rebutan terong di pasar, jadilah akikah mepet di pojokan begini mana dingin kan ya.
Yang nanyain si Karla lagi ngapain, tuh orangnya lagi duduk juga nggak tau lagi mikirin apa, atau mungkin lagi nyari pangsit dari neneknya.
Dan lagi asik-asiknya ngedumel dalam hati kayak gini, seketika aku terpaku pada cincin yang semula berwarna merah, kini didominasi warna hitam. Hanya satu bagian kecil yang berwarna merah, badanku lumayan lemes. Kayak energi ku tuh mendadak terkuras gitu loh.
"Kenapa?" Karla tiba-tiba nanya.
"Nggak apa-apa," aku jawab seadanya. Padahal badan rasanya nggak karuan banget.
"Nggak apa-apa tapi pucet," nggak tau nih Karla nyindir apa gimana dah.
"Mungkin cuma masuk angin aja,"
"Jangan-jangan kamu hamil?" Karla nuduhnya nggak ada akhlak sumpeh.
"Heh, sembarangan banget itu mulut kalau ngomong! bikin emosi, deh!" aku yang lemes mendadak ngegas karena pancingan dari si Karla.
"Nah, berarti nggak sakit. Tuh buktinya ngomong bisa kenceng begitu,"
"Ya kamu nuduh nggak bener soalnya," aku sewot.
"Ya kalau nggak bener kan nggak usah marah, santai aja kali, Va..."
Sumpeh nih mulut perempuan bisa sejahat itu ya, apalagi disaat kayak gini loh. Bisa-bisanya dia mancing keributan, biar apa sih?
"Heh? kalian tidak lagi adu pencak silat kan di dalam?" suara pak Karan dari luar.
"Tidak, Pak..." aku jawab lembut. Eh bibir si Karla menya-menye nuruin aku ngomong, demi apa ini tolong orang ini diangkut kemana kek. Bikin rusuh aja dimari.
"Jangan berisik kalau gitu!" kata pak Karan lagi.
"Ya, Pak..."
Mataku melihat ke arah Karla, sedangkan tanganku nutupin badan bagian bawah pakai jasnya pak Karan, gila dinginnya itu loh bikin sendi-sendi ngilu semua. Apakabar pak bos dan Ridho yang tiduran di luar, aku yakin selain banyak nyamuk mereka juga lagi pusing gimana caranya bikin aku bisa naro itu si cincin di dalam air.
Kalau udah kayak gini tuh aku nyesel banget kenapa nggak bisa berenang, kenapa aku cuma bisa gaya batu dan gaya tenggelam.
"Nah, itu dia. Gaya batu, yang penting kan aku nyelem gitu kan, terus taro deh cincin ke tempatnya dan tadaaaa aku langsung balik lagi ke dunia nyata," aku tepuk tangan girang.
"Aku kasih tau ya, Va! di dalem sana nggak semudah yang kamu pikirkan, kamu nyelem dan kamu balikin tuh cincin terus selesai," lanjut Karla.
"Ya terus?"
"Ya kamu pikir aja, mana mungkin makhluk itu dengan mudahnya biarin kamu mrlakukan itu dan membuatnya terkunci di dalam wadah itu lagi, jawabannya jelas nggak ya. Aku yakin dia nggak akan tinggal diam, dia akan berbuat sesuatu buat menggagalkan rencana itu..." kata Karla.
"Jangan bilang kamu bakal bantu makhluk itu buat negdapetin aku?" aku langsung aja tuduh si karet, muka dia mencurigakan soalnya.
"Ya kali aku bersekongkol sama setan? jangan nuduh kalau nggak ada bukti, jangan bikin Ridho nggak percaya sama aku, ya!" kali ini Karla merong-merong.
"Ya udin, buktikan kamu emang nggak berpihak sama setan itu. Aku yakin sih, Ridho juga bisa berpikiran kayak gitu kalau melihat gelagat kamu, La..." aku ngomporin si Karla.
"Capek ngomong sama kamu," kata Karla yang rebahan, lalu munggungin aku.
Bukan cuma si Karla, aku juga capek kali harus ngeladenin omongan dia. Mana lrngan aku sakit banget. Aku coba bergeser ke tempat yang lebih kering, aku nyoba buat lurusin badan walaupun rasanya nggak enak karena nggak ada kasur dan bantal.
"Va...?" ada suara yang manggil aku, suaranya Ridho.
"Ada apa Dho...?"
"Nggak apa-apa, cuma mastiin kamu udah tidur atau belum..." kata Ridho.
"Kamu sendiri kenapa belum tidur? pak bos dimana?" aku nanya soalnya yang aku liat cuma bayangannya Ridho aja di luar tenda.
"Lagi ngumpulin kayu di sekitar sini, biar apinya nyala sampai pagi," jelas Ridho.
"Kamu istirahat, besok pasti akan sangat melelahkan," kata Ridho lagi.
"Kamu juga istirahat, baju kamu masih basah?"
"Nggak, kok. Ini udah lumayan kering..."
Kresss.
Kressss.
Suara daun kering yang diinjak diatas tanah.
"Itu siapa, Dho?" tanya ku penasaran.
"Dhoooooo?" aku kerasin suara supaya Ridho bisa denger.
Dan aku buka pintu resleting tenda dikit, ngintipin siapa yang dateng. Dan ternyata Ridho dan pak Karan yang bawa kayu.
"Kenapa buka tenda, Va?" tanya Ridho yang menyadari kalau aku ngintipin dari dalem tenda.
"K-kamu da-darimana, Dho?" aku gugup.
"Oh, tadi aku nyari kayu bentar sama pak Karan. Nih dapetnya cuma segini. Aku kira kamu udah tidur, makanya tadi aku main tinggal aja..." kata Ridho.
"Te-terus, y-yang ngajak ngomong sama aku tadi si-siapa?" aku menelan salivaku susah payah.
"Hahahahaa, ya aku lah, siapa lagi?" Ridho nyeletuk.
"Tadi kamu bilang..."
"Canda kali, Va. Tadi aku liat pak Karan repot bawa kayu makanya aku bantuin," Ridho tertawa.
"Dasar nyebelin!" aku tutup tenda sambil megangin dada yang udah kadung takut duluan.
"Reva kenapa?" tanya pak Karan sama Ridho.
"Nggak apa-apa, Pak. Cuma takut sama setan," jawab Ridho.
...----------------...