Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Sekarang Waktunya


Sekarang kita berempat berdiri di tepi air terjun. Aku dan pak Karan masing-masing udah lepas alas kaki.


"Kamu yakin?" tanya Ridho yang kini memegang kedua bahu ku. Aku maksain buat senyum walaupun dalam hati sebenernya ketar-ketir juga.


"Yakin, demi kita bisa pulang dengan selamat. Lagian nggak ada cara lain lagi kan? kamu lihat cincin ini sudah berubah menjadi hitam, energiku sudah banyak terserap di cincin ini. Dan sebelum aku semakin nggak berdaya, lebih baik kita lakukan secepatnya..." aku berusaha meyakinkan Ridho.


"Tapi kamu nggak bisa berenang," ucap Ridho khawatir.


"Aku aja yang gantiin kamu, siapa tahu bisa..." lanjut Ridho, aku bisa melihat semburat rasa takut di wajah Ridho. Ah, apa ini artinya Ridho sebenernya punya rasa sama aku, rasa lebih dari sekedar temen.


"Kamu jangan konyol, Dho! waktu kita sudah semakin sedikit, bahkan hanya tinggal kurang dari dua jam," ucap Karla.


"Benar kata Karla, Dho. Kita nggak punya pilihan lain selain ini," aku berusaha meyakinkan Ridho.


"Reva tidak sendirian, dia bersamaku. Saya yakin kita berdua bisa melakukannya," ucap pak Karan.


Sejujurnya aku takut, tapi balik lagi aku nggak punya pilihan lain selain mengikuti permainan ini. Sebelumnya kita udah mikirin gimana supaya aku nggak berenang sejauh itu. Jadi nanti aku dan pak Karan akan jalan menyebrangi air, dan ketika kita udah di tengah pak Karan bakal bantu aku buat nyelam.


Lagi pula aku punya daun ajaib dari Elin, aku rasa ini akan membantu aku saat berada di dalam air, jadi aku lumayan cukup berani buat ngambil resiko ini.


"Percaya aja Dho ... kalau aku bisa kembali," aku ngomong seakan nggak ada ketakutan dalam hatiku.


"Andai aku bisa gantiin kamu, Va!" lirih Ridho.


Dan tiba-tiba aja datang angin kencang, sampai dahan pohon pun bergoyang.


Wuuuuuuuuuzzzz.


Wuuuuuuuuuzzzz.


Gggaaakkk gaaaakkk!


Ggggggaaakkk gaaak!


Bukan hanya angin tapi ada banyak burung gagak yang keluar dan menyerang kami.


"Aaarrkh!" aku berusaha menutupi wajahku dari angin dan juga menghindari dari burung-burung yang tiba-tiba beterbangan dalam jumlah yang banyak.


"Hah, ada apa ini, arrrgkkk?" pekik pak Karan sembari menepis burung-burung yangbjuga menyerangnya.


"Hahahahhahaha,"


"Hihihihihihi..."


Suara-suara aneh muncul saling sahut bersahutan.


Dan ada sebuah cahaya keluar dari kalung milik Karla.


"Cepat! kalian sudah tidak punya waktu lagi!" seru suara nenek-nenek menggema dangat keras.


"Cepat Reva! kata nenek, kamu harus melakukannya sekarang," seru Karla.


"Revaaa, nggak! aku nggak bisa biarin kamu masuk ke dalam air, nggak Va!" Ridho narik aku sambil menghalau beberapa burung yang menyerang.


"Kamu apa-apan sih, Dho! biarin Reva pergi," Karla melepaskan tangan Ridho dari aku.


"Karla benar! kita nggak bisa buang-buang waktu, matahari semakin naik ke atas!" kata Pak Karan yang kini udah menggenggam tanganku.


"Aaargkkkk!" tangan aku ditarik pak Karan, mau nggak mau aku ngikutin kemana pak Karan akan membawaku.


Ridho menggeleng, "Nggak, aku yang akan gantiin kamu, Va!" kata Ridho, tapi Karla nahan supaya Ridho nggak ngejar aku.


"Revaaaaaa!" teriak Ridho.


Sekarang aku dan pak Karan udah nyebur ke dalam air, kita jalan memembelah air. Aku nggak mau liat ke belakang, aku nggak sanggup liat Ridho yang manggilin namaku.


"Aaarkkkh!" aku mengusir beberapa burung yang mengejar aku dan pak Karan.


Aku rogoh saku jeans, dan mengambil daun, "Pak..."


"Ada apa?" tanya pak Karan.


"Makan ini," aku membagi daun itu untuk pak Karan.


"Buat apa?" tanya pak Karan.


"Makan aja, Pak! nggak usah banyak nanya," kata ku.


"Iya buat apa? ini bukan waktunya kamu bercanda menyuruh saya memakan daun ini!" pak Karan keukeuh nggak mau makan kalau nggak ada alasannya.


"Ini supaya kita bisa napas lebih lama dalem air," ucap ku, moga aja pak Karan percaya.


Aku memasukkan daun itu ke dalam mulutku, dan ternyata pak Karan ngikutin apa yang aku lakuin. Rasanya getir dan bikin aku mual. Dan dengan susah payah aku kunyah dan telen tuh daun. Dan rasa aneh mulai terasa, aku merasa badanku panas seperti terbakar.


"Sudah," kata pak Karan. Aku mengangguk dan kita berjalan lebih cepat karena sekarang bukan hanya burung yang mengejar kami tapi makhluk-makhluk dengan berbagai bentuk mulai bermunculan dan tertawa.


"Cepat!" pak Karan mengajakku supaya berjalan lebih cepat, kini air sudah sebatas leherku. Kaki ku mulai berat buat melangkah.


"Sekarang!" Pak Karan memberi aba-aba buat menyelam.


Aku pun menurut, aku menenggelamkan badanku ke dalam air. Pak Karan yang lihai berenang meraih badanku dan membawaku dengan satu tangannya.


Jarak pandang kami terbatas, dan benar saja di dalam sini aku merasa kalau aku lebih tenang dan walaupun aku menahan nafas, tapi aku nggak ngerasa kalau aku nggak kekurangan oksigen di dalam paru-paru ku.


Aku ngerasa ada yang mengikuti kami, aku mengkode pak Karan supaya berenang lebih cepat.


Perasaanku udah nggak enak, beneran. Aku berusaha banget buat gerakin kaki, supaya bisa mengimbangi pak Karan dan bisa cepat mencapai tempat kita buat menaruh cincin ini, cincin yang ada di jari manisku.


Kita berenang lumayan jauh, pak Karan menunjuk sebuah kolam di dalam air, aku mengangguk, akhirnya kita bisa nemuin kolam itu. Aku juga bisa ngeliat ada sebuah batu yang cekung mirip sebuah kerang. Tapi ketika kita udah ada di depan batu cekung itu, tiba-tiba aja ada sebuah tangan yang menarik kakiku ke belakang. Aku menoleh, ternyata makluk berambut panjang itu yang menarikku.


"Aaarggll!" aku berusaha menendang air, aku berusaha melepaskan cekalan tangan yang ada di kaki ku.


"Hahahahahahahaha aku bilang tak akan semudah itu, hahahahah" suara mengerikan memekik membuat gendang telingaku kesakitan.


Pak Karan nggak tinggal diam, dia berusaha menarik badanku tapi sepertinya itu nggak cukup berhasil. Malahan sekarang aku terlepas dari pak Karan. Aku berusaha menggapai tangan pak Karan yang semakin jauh.


"Aaaargllll!" aku berusaha menendang makhluk ini. Tapi sia-sia, yang aku lakuin hanya membuang energiku. Dan membuat tubuhku semakin lama semakin lemah. Dan ketika badanku ditarik menjauh aku bisa melihat sebuah cahaya menembus air menyinari batu cekung tempat cincin ini seharusnya dikembalikan.


Padahal tinggal sebentar lagi, tapi aku malah dibawa makhluk ini. Apakah memang takdirku hanya sampai disini?


"Ridhooo...." aku cuma bisa neriakin nama Ridho dalam hatiku aja.


Pak Karan berusaha mengejarku, aku julurin tangan berharap pak Karan bisa menangkap dan menarikku lagi.


Hanya tinggal sejengkal lagi, tapi badanku ditarik lebih jauh lagi.


"Hahahahahahahahah," makhluk itu tertawa penuh kemenangan.


...----------------...