
"Jangan teriak!" ucap seorang wanita begitu lemah.
Demi apapun, aku nggak berani nengok, apalagi nyautin. Aku masih anteng aja nyamar jadi patung selamat datang. Makhluk ini menarikku buat bersembunyi di balik pohon. Posisinya dia ada di belakang, jadi aku sama sekali nggak ngeliat. Dia cuma narik dan aku ikutin aja kayak orang bego.
"Ya amploooop, Ridho my pacar tolong selametin akuuuuu..." ucapku dalam hati.
Kata pak Sarmin tempat pemberhentian kita itu tempat yang aman, tapi apa? Disitu malah banyak kejadian. Aku tuh kesini bukan mau sowan atau pun wisata ghoib sama para penunggu hutan, bukan. Aku disini mau nyari temen, kenapa halangan dan rintangannya seberat ini.
"Sssshhh, jangan menimbulkan suara," kata wanita itu lagi.
Astaganaga, daritadi aing udah jadi patung wahai makhluk ghoib. Gimana bisa aku menimbulkan suara, yang ada situ yang berisik bae.
Sreeeeek!
Sreeeeeek!
Aku cuma bisa merem dan udah nggak mau tau apa yang terjadi. Walaupun aku ngerti kayak ada yang jalan bolak- balik kayak setrikaan, tapi ya udahlah sabodo amat.
Aku diem aja, sampai bunyi srak srek itu berlalu dan perlahan menghilang.
Puk!
Yang dibelakang nepuk pundak.
"Apa kamu terluka?" tanya wanita itu.
Duh Gusti, kepriben! Nengok apa nggak nih. Kalau nengok takut shock tapi aing juga penasaran sama si wanita ini. Dia ngomongnya lemes banget kek orang nggak makan berbulan-bulan.
Oke deh, aku coba tengok ya. Semoga aja nih setan kagak nyeremin dan mirip artis masa kini biar aing nggak ngeri.
1... 2... 3...
Jeng Jeng Jeng!
Aku puter badan tapi mata sambil merem.
"Revaaa?" ucap si wanita menyebutkan namaku dengan sempurna.
Aku yang dipanggil namanya pun segera membuka mata selebar-lebarnya.
"Mbakk Sena?" mataku terbelalak melihat siapa yang ada di hadapanku sekarang.
"Mbak? ini mbak Sena beneran?" lanjutku nggak percaya. Orang yang lagi aku cari udah ada di depan mata.
"Iya ini aku, Va..." ucapnya lemas.
"Ya ampun, Mbak! aku kesini nyariin mbak! mbak belum jadi setan kan? atau jangan-jangan..." aku mundur sambil ngesot.
"Jangan berisik disini, Va. Nanti mereka-mereka curiga..." kata mbak Sena.
"Maksudnya?
"Capek, Va kalau aku jelasin. Yang jelas kamu harus bersembunyi dan cepat keluar dari tempat ini. Karena jujur aku udah terlalu lama terjebak disini dan aku udah nggak kuat," kata mbak Sena.
"Kamu harus kembali ke asalmu, Va. Dan aku ... aku titip ini buat ibuku. Dan bilang, kalau aku sayang sama dia..." mbak Sena menlepaskan gelang tali yang ada di tangannya lalu memakaikannya di pergelangan tanganku.
"Kita keluar bareng-bareng, Mbak! mbak pasti kuat!" aku sok nyemangatin padahal kaki aja belum kelar urusannya.
Tapi, gimana keluarnya dari sini. Mana portal yang bisa menembus ke alam nyata.
"Kaki kamu..." mbak Sena menunjuk kakiku yang udah bengkak, baguuuuuuuussss!
"Astaga, kenapa jadi bengkak begini!"
"Lurusin, Va. Jangan ditekuk..." kata mbak Sena nyuruh aku buat selonjoran.
"Aaaarrgggghhhh!" aku memekik, sakit.
Tadinya kan aku pakai sepatu, tapi pas keluar dari tenda aku itu pakai sandal jepit. Jadilah ini kaki pada baret juga kena tumbuhan berduri. Untung sendalnya kuat, nggak putus dijalan. Jadi aku nggak nyeker kayak ayam.
"Kamu tunggu aja, aku nanti balik lagi!" jawab mbak Sena.
Elah, baru juga ada temen sesama manusia. Lah ini mau ditinggal lagi. Nasiiib nasiiib. Aing kan takut sendirian disini, mana batre di hape tinggal dikit.
"Matiin aja, biar agak awetan!" aku matiin dan milih gelap-gelapan.
Jangan ditanya, disini selain takut para jurig pada nongol aku juga takut kali aja ada ular kelaparan yang lagi nyari mangsa buat dimakan.
"Tapi mbak Sena tadi masih jadi manusia kan ya?" aku mulai ragu.
"Bodo amatlah, yang penting mukanya nggak nakutin, ntar kalau dia kesini aku liat lagi kakinya nggantung atau napak!" aku menghilangkan pikiran-pikiran negatif. Karena tanpa ditakut-takutin sebenernya aing udah takut loh disini.
Katanya kalau diatas jam 12 malem kan setan-setan pada kliaran gitu ya. Ibarat kata ya emang jamnya mereka pada party gitu atau sekedar buat nongkrong ama gengnya.
Dan tau, nggak? suasana yang tadi sempat sepi sekarang berganti kayak orang yang lagi pada aktivitas.
"Sumpeh, mbak Sena ngapain sih tadi pergi? aku kan takut..." aku ngumpet sambil ngawasin keadaan.
Aku ngeliat kalau ada beberapa makhluk yang muncul, dan lama kelamaan jadi banyak, bahkan mirip kayak pasar.
"Vaaaa!" tepok mbak Sena di bahuku.
"Astaghfirllah, ngangetin tau, mbaaaak!" aku ngelus dada.
"Maaf. Coba aku liat kakimu, Va..." kata mbak Sena.
Dan aku denger kayak suara-suara berisik kayak orang lagi tawar menawar barang.
"Itu apa, Mbak?" aku menunjuk sekumpulan makhluk yang berkumpul.
"Itu pasar ghoib, Va!" jawab mbak Sena.
"Pasar ghoib?" aku ngerutin kening.
"Pasarnya para lelembut. Oh ya, disini kamu jangan suka nunjuk-nunjuk," ucap mbak Sena.
Aku sontak ngempit jari telunjukku ke ketiak. Biar jariku nggak bengkok. Katanya sih begitu, aku juga baru inget kalau di tempat-tempat tertentu kita nggak boleh sembarangan nunjuk-nunjuk pakai jari.
"Kalau itu pasar, ada nggak tuh yang jual kue putu atau kue pancong, Mbak?" tanyaku.
"Apa aja ada, Va! tapi abis makan makanan mereka kamu bakal mual-mual, karena yang dijual kan bukan makanan yang sebenarnya!" ucap mbak Sena.
"Aku pijet dikit, kamu tahan ya?" ucap mbak Sena yang mau nolongin padahal dia sendiri udah pucet banget, tenaganya juga nggak seberapa.
"Nggak usah, Mbak! mbak kan lagi lemes," kataku.
"Minimal aku bisa ngelakuin apa yang bisa aku lakuin..." ucap mbak Sena.
Aku itu kesini buat nolongin dia. Eh, malah aku yang ditolongin, ini kebalik nggak sih?
Dan beneran, mbak Sena kayak ngurut kakiku yang naudzubillah sakitnya itu sampai to the bone!
"Aaaaawhhh!" aku cuma bisa nutup mulut pakai tangan, biar nggak berisik.
"Tahan ya, sakit dikit abis itu udah lebih enakan kok!" kata mbak Sena lirih.
"Udah, Mbak! nanti mbak Sena capek! irit tenaga, Mbak..." kataku yang emang nggak tega ngeliat kondisi mbak Sena.
Dia nggak ngegubris omonganku, mbak Sena malah ngebuka bungkusan daun dan ngeluarin dedaunan yang udah ditumbuk halus. Dia tempelin tumbukan itu ke kakiku, rasanya dingin.
Sebenernya banyak hal yang ingin aku tanyakan sama mbak Sena. Tapi ngeliat keadaan yang lagi kayak gini kayaknya nggak tepat buat mencecar mbak Sena dengan berbagai macam pertanyaan.
"Kita tunggu sampai pasarnya bubar, baru kita pergi dari sini..." kata mbak Sena.
Aku manggut-manggut aja nurut.
...----------------...