Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Menunggu


Tok.


Tok.


Tok.


"Assalamualaikum, Buuuu ... ini Wati, Bu..."


"Assalamualaikuuuummm!"


Bu Wati terus mengetuk pintu rumah yang udah tua itu tapi sama sekali nggak ada jawaban dari dalam. Kayaknya ini rumah lebih tua daripada neneknya Karla yang galak itu, ups!


"Sepi..." kata bu Wati.


Aku dan Ridho mengikuti bu Wati yang duduk di sebuah kursi kayu panjang. aku letakkan rantang yang lumayan bikin pegel tangan.


Bu Wati tengok kanan kiri, kayak mencari seseorang yang bisa ditanya. Tapi disini kan emang sepi banget, orang lewat aja nggak ada.


"Terus gimana, Bu?" aku menatap wajah bu Wati.


"Kita tunggu saja dulu, mungkin nenek lagi nyari kayu bakar..." ucap bu Wati.


"Kayu bakar? buat apa nenek nyari kayu bakar, Bu?" tanya Ridho.


"Oh itu, nenek kan di rumah pakai tungku buat masak. Biasanya nenek nyarinya kalau nggak pagi ya sore,"


"Memangnya masih jaman pakai kompor tungku?" tanyaku.


"Kalau disini masih, Nak. Biasanya yang pakai ya orang-orang sepuh kayak neneknya Karla ini. Tapi memasak dengan tungku itu masakannya lebih enak, walaupun agak repot sedikit," kata bu Wati.


Aku dan Ridho hanya ngangguk.


"Bu, nenek nggak takut ya disini sendirian? siang aja bisa sepi banget kayak gini, apalagi kalau malem? pasti horor banget suasananya..." aku melihat sekitar rumah nenek Darmi, memang ada 3 rumah berjejer. Tapi rumah nenek Darmi yang sepertinya masih terawat.


"Bagi orang yang suka ketenangan, tpat seperti ini malah disukai. Karena tidak ada suara berisik kendaraan atau orang lalu lalang,"


Buat aku sih serem ya, tinggal di rumah dengan pekarangannya luas ditambah lagi banyak pohon yang gede-gede, yang pasti udah tua. Apalagi nggak jauh dari sini ada hutan yang banyak binatang melatanya kayak ular. Beuuuh, merinding yang ada.


Untung disini nggak panas, jadi walaupun di luar juga oke-oke aja.


"Kalau itu rumahnya siapa, Bu?" aku menunjuk dua rumah yang berjejer di samping rumah nenek Darmi.


"Oh itu rumah saudaranya ibu saya..." kata bu Wati, tapi ekspresiku kayak orang bingung


"Nenek Darmi," tambah bu Wati.


"Oh..." aku nyengir katak oeang bego. Bisa-bisanya aku loading saat bu Wati bilang 'ibu saya', hadeuh.


"Jadi itu rumahnya saudaranya Nenek. Tapi orangnya sudah meninggal, dan anak cucunya tidak ada yang mau menempati rumah itu. Katanya tidak betah karena jauh dari mana-mana," jelas bu Wati.


Serem juga ya cuy, liat rumah tua yang udah pasti terbengkalai. Kalau aku sih udah out dari sini, nggak bakalan kuat. Beda sama neneknya Karla, dia mah nggak bakal takut setan. Yang ada setan yang takut sama dia, upss kelepasan.


Dan...


Sreeek!


Sreeeeek!


Ada suara langkah kaki yang diseret diatas tanah yang dipenuhi dedaunan kering.


"Ibuuuu!" seru bu Wati yang membuat aku dan kangmas kompa menoleh ke arah kanan.


Dengan sigap bu Wati menghampiri nenek Darmi yang kerepotan membawa kayu bakar.


"Biar saya saja, Bu! Ini lumayan berat," ucap Ridho yang mengambil tumpukan kayu di tabgan bu Wati.


Sedangkan neneknya Karla ini menatap ku dengan sorot mata yang tajam, cenderung nggak ramah. Ya emang dese kan kayak sebel sama aing sejak awal kan. Tapi herannya sebelnya kok nggak ilang-ilang gitu loh.


Nenek Karla masuk ke dalam rumahnya tanpa sepatah kata pun.


"Kalian tunggu disini dulu, biar saya bicara dengan Nenek ya?" ucap bu Wati.


"Oh ya, Dho. Kayu bakarnya taruh disitu saja," lanjut bu Wati menunjuk salah satu sudut di teras rumah itu.


Ridho menaruh tumpukan kayu, dan meniup telapak tangannya yang kotor.


"Sini aku elapin!" ucapku yang mengeluarkan tisu basah dalam pocket kecil.


"Makasih," ucap Ridho setelah aku selesia ngebersihin tangannya.


"Kenapa?"


"Aku ragu neneknya si Karla bakalan mau bantuin. Kamu nggak liat tadi ngeliat akunya kayak nggak welcome gitu?"


"Emang kamu dulu ada masalah apa sih sama nenek Darmi?" tanya kangmas.


"Nggak ada masalah. Cuma waktu kamu main di balongan sama Karla, aku kan sebel terus pergi sendirian. Aku nemu tuh sungai kecil yang airnya jernih, nah pas mau balik aku malah nyasar-nyasar dan malah masuk daerah yang banyak pohon-pohon gitu. Aku sampai ketemu ular segala, ya aku ngibrit dan nggak sengaja ketemu rumah ini..."


"Terus?" Ridho penasaran.


"Ya aku ketoklah rumahnya, berharap minta bantuan. Tapi nggak ada jawaban, ya udah aku numpang duduk disini. Eh, tau-tau neneknya Karla nongol dengan bibir yang merah gitu dan penampilan yang nakutin,"


"Terus kamu tereak?" tebak Ridho.


"Hu'um! terus aku dipukulin katanya aku nggak sopan,"


"Hahahahah, astaga! ada-ada aja kamu, Va..."


"Ck, malah ketawa!" aku melirik Ridho sinis.


"Lagian kamu pakai kabur segala, ngilang nggak jelas. Itu karma gara-gara bikin aku pusing nyariin kamu!" ucap Ridho.


"Ya kalau nggam pergi terus aku harus gitu nontonin kalian main air di balongan? mana si Karla genit banget lagi," aku kesel kalau inget itu.


"Maaf, ya!"


Cap cip cup balandar kuncup.


Ridho ngecup kepalaku sebagai permintaan maafnya. Kalau diginiin aku ngerasa disayang banget. Maksudnya sayang yang tulus, secara aku kan udah kehilangan sosok papa sejak lama. Dan perlakuan Ridho yang gini sedikit banyak ngingetin aku terhadap sosok papa.


"Kalau aku tau kamu punya rasa yang sama kayak aku, aku nggak perlu repot-repot dan susah payah buat nyingkirin perasaan ini, Va!" kata Ridho.


"Dan kamu nggak perlu ilang sama pak Karan di hutan,"


"Tapi kalau aku nggak ilang kesana, sampai kapan pun aku nggak akan pernah tau kalau papa sudah nggak ada, Dho. Dan aku bakal mengira papa itu orang yang jahat karena udah ninggalin aku, mama dan Ravel.." ucapku sendu.


"Iya kamu bener. Segala hal yang terjadi pasti ada hikmahnya, kamu jadi tau cerita yang sebenarnya dibalik menghilangnya papa kamu," kata Ridho.


"Dan mulai sekarang, aku bakal jagain kamu. Seperti papa kamu ngejagain kamu waktu kecil..." lanjutnya


Aku bener-bener beruntung ketemu sosok Ridho yang slengean tapi bisa jugadewasa disaat yang dibutuhkan. Nyebelin tapi suka ngangenin. Ah, kakanda aku padamuuu.


"Kamu nggak sendirian. Tapi ada satu hal yang aku minta, Va..."


"Apa?"


"Jangan suka ngeyelan!" Ridho ngedorong sedikit jidat nong-nongku yang penuh mempesona.


"Ih, apaan sih! siapa juga yang ngeyelan" aku nyingkirin tangannya.


"Sifat kamu yang suka ngeyelan dan sembrono itu yang suka bikin masalah baru, dan itu efeknya buat orang-orang disekitar kamu, Va..." kata Ridho.


"Iya iya iya, ih!"


"Kalau diingetin tuh kayak gitu, cemberut! aku itu ngomong demi kebaikan kamu sendiri, Va..." Ridho nyubit dikit pipiku.


"Iyaaaaa kangmas Ridhoooo...!" aku dengan nada sok dilembut-lembutin.


"Kamu ngomong apa tadi?" tanya Ridho.


"Apa?"


"Yang tadi,"


"Ya apa?"


"Eheeeemmm!" tiba-tiba ada suara nenek Karla yang berdehem.


Aku dan Ridho yang kompak menoleh ke belakang.


"Kalian masuk!" ucap nenek Karla dengan suara paraunya.


Aku memandang Ridho, dia ngangguk pelan.


...----------------...