Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Kalung


Aku nggak tau aku diapain aja, kayaknya sih di laser gitu lah. Aku nggak begitu peduli yang penting aku masih sadar dan nggak liat alat-alat tajem yang bikin ngilu. Tapi tadi sebelum perawatan dimulai dokter yang mau nanganin muka aku keluar bentar dan aku sempet disuruh ngelepas kalung, karena males ta udah aku copot dan aku titipin sama pegawai yang pakai seragam pink.


"Mbak titip, ya?" aku kasih tuh kalung ke dia dan aku kembali rebahan sambil nunggu dokter dateng.


Sebenernya keinginanku nggak muluk-muluk, aku cuma berharap nih luka bekas baret si hantu nggak beradab itu bisa ilang. Wajahku balik lagi kayak semula, karena emang kan aku udah cantik dari masih berbentuk zigot. Jadi nggak perlu lagi tuh diubah-ubah bentuk muka dan lain-lain. Nggak lama dokter kembali dengan satu pegawai yang memakai seragam biru tua untuk memulai treatment.


Percaya nggak percaya, aku ini bibit unggul yang berhasil papa berikan pada mama. Jadi aku menolak buat filler wajah saat ditawari sama dokter. Pokoknya aku udah love banget sama bentuk mukaku saat ini, dan aku nggak mau mengubah itu.


Aku nggak ngitung aku udah berapa lama terbaring di tempat ini. Yang jelas mereka kerja nggak pakai suara, apalagi ngegosip. Karena mataku di tutup biar nggak silau dengan lampu, aku cuma bisa ngerasain kalau di ruangan ini ada dua atau tiga orang.


"Sudah selesai, Nona," kata si dokter.


"Terima kasih, Dok..."


"Sama-sama, oh ya ada semacam cream yang harus dioles setiap hari. Agar bekas lukanya bisa memudar dengan sempurna," lanjut dokter wanita itu.


"Siap, Dok!"


Si dokter meninggalkan ruangan, dan hanya ada satu orang pegawai yang nemenin aku di ruangan ini.


"Silakan berganti pakaian, Nona..." ucap si wanita yang kedengerannya asing.


"Mungkin pegawai yang lain lagi," ucapku dalam hati.


Brrrrr!


AC nya dingin banget, udah berasa di kutub ini mah. Dinginnya itu udah menjalar ke bagian tengkuk dan punggung gitu. Aku harus cepet-cepet ganti sebelum aku masuk angin.


"Mba? ac-nya kenceng banget. Mbak nggak kedinginan?" aku nanya sambil bangun dan julurin kaki ke lantai tanpa melihat orang yang ada di belakangku.


"Saya sudah biasa, Nona..."


"Oh, gitu, ya? padahal dingin banget loh!" aku pakai selop khusus yang disediakan disini. Aku nengok sebentar ke arah si mbak yang aku liat bajunya agak beda sendiri. kalau yang lain pakai baju biru tua dan dengan layer putih tulang. Kalau ini pakai baju soft pink dengan pita di bagian leher. Aku sempet liat dia pakai tanda pengenal bertuliskan Wina.


Tanpa menghiraukan si mbak yang bernama Wina yang kayaknya lagi males dandan karena wajahnya polosan tanpa lipstik dan bedak, aku pun langsung jalan menuju ruang ganti.


Sat set sat set, aku keluar dengan pakaian yang sama ketika aku baru datang.


"Mbak maaf, ini kembennya!" aku keluar dari kamar ganti tapi keadaannya sepi.


"Lah kemana si mbak tadi?" aku garuk kepala karena melihat kondisi ruangan yang kosong.


Dan nggak lama, ada yang buka pintu.


Krieeeeeeeeeeettt.


Nampaklah sosok perempuan yang lain, yang memakai seragam biru tua, seperti yang dipakai pegawai yang lain yang sempet aku liat berseliweran di tempat ini.


"Anda sudah berganti baju, Nona?"


"Iya disuruh sama mbak yang pakai seragam pink. Lagian perawatannya sudah selesai kan? oh ya, panggilin mbak yang tadi dong, soalnya waktu mau " aku balik nanya tapi si mbak ini kayaknya kayak orang lagi lodong eh loading gitu.


"Mbakkkkk???! udah selesai kan perawatannya?" aku lambaikan tangan di depan wajah nih perempuan yang masih melongo bae.


"Sudah, untuk wajah anda. Tapi..."


"Ya udah nih kembennya, berhubung sudah selesai jadi saya mau pulang..." aku ganti selop dengan sepatu teplek punyaku dan cuss jalan nemuin para lelaki yang dengan setia nungguin putri cantik lagi perawatan.


"Saya sudah selesai, Pak..." aku nyapa pak Karan yang kebetulan lagi duduk di sofa sambil pijit-pijit hidungnya yang mancubg kayak perosotan anak TK.


"Sudah selesai?" pak Karan liat arloji di tangan kanannya.


"Ridho kemana, Pak?" mataku mencari- cari sosok kangmas.


"Isssshhh, seriusan dikit napa, Pak!"


Dan tanpa di duga ada sosok yang merangkulku dari belakang.


"Udah selesai? kok cepet?" ucap seorang pria yang sempet aku cariin tadi. Pak Karan ngeliatinnya nggak enak.


"Kemana aja sih? aku kira kamu udah balik duluan," aku ngelepasin rangkulan tangan Ridho.


Nggak enak diliatin ini mantan bos yang kayaknya kurang sajen hari ini.


Pas aku lepasin tangan Ridho, aku baru nyadar kalau aku belum ngambil balik kalung yang sempet aku titipin.


"Astaga, kok aku bisa sampe lupa!"


"Kenapa? apa yang lupa?" tanya Ridho.


"Kalung! bentar ya, Dho aku mau ambil kalungku dulu, tadi sempet aku titipin sama salah satu pegawai di dalem ruang treatment!"


"Aku temenin," Ridho nawarin bantuan.


"Nggak usah, bentar doang kok! nanti aku balik lagi..." kataku dan aku langsung ngeloyor pergi.


Baru beberapa langkah aku ketemu tuh sama oegawai yang pakai seragam baju biru tua yang nongol pas aku udah selesai ganti baju.


"Mbak, mbak. Permisi..." aku deketin dia sopan.


"Iya ada apa, Nona?"


"Mbak, tolong panggilin pegawai yang namanya Wina dong! aku sempet nitip kalung sama dia sebelum mulai treatment! tolong, ya..." aku ngatupin kedua telapak tangan.


"Wina? maaf, tapi disini tidak ada pegawai yang bernama Vandira, Nona..." jawab wanita itu.


"Jangan ngadi-ngadi deh, Mbak. Jelas-jelas dia ada di ruang treatment, seragamnya warnanya pink. Coba deh cari," aku ngotot, sambil mata mencari- cari sosok pegawai yang bernama Wina.


"Saya tidak bohong, Nona ... disini tidak ada yang yang bernama Wina, dan semya pegawai memakai seragam biru tua seperti ini. Kalau seragam pink itu sudah tidak dipakai lagi, sejak 2 atau 3 tahun yang lalu..." jelas wanita yang ada di depanku.


"Jangan becanda deh, Mbak. Tolong panggilin, saya mau ambil kalung,"


"Nona, berapa kali saya harus jelaskan. Disini tidak ada pegawai yang anda maksud, karena di ruangan tadi hanya ada dokter dan saya tidak ada yang lain..."


"Ada apa ini?" suara pak Karan menginterupsi perdebatan kami berdua.


"Kenapa, Va?" tanya Ridho yang ternyata juga nyamperin aku.


"Aku minta tolong buat panggilin pegawai yang namanya Wina, aku titip kalung sebelum mulai treatment! dan kata mbak ini, disini nggak ada pegawai yang bernama Wina. Jelas-jelas, di dalem ruangan ada orang itu, aku nggak mungkin salah liat..." kataku nyoba jelasin.


"Tapi tidak ada pegawai yang memakai serag pink yang seperti anda sebutkan tadi, Nona..." kata si mbak yang aku liat berusaha sabar, nahan nada suaranya biar nggak jebol.


"Maksudnya mata saya yang siwer gitu? nggak bisa bedain warna biru sama pink?" aku mencoba bersikukuh.


Tapi mulutku langsung dibekap sama pak Karan.


"Maaf atas kegaduhan ini, mungkin saudara perempuan saya ini lupa menaruh kalungnya. Maklum daya ingatnya sangat lemah," kata pak Karan yang kemudian membawaku keluar.


"Mmmmmppph!!!" aku mencoba membuka bekapan di mulutku,


Sedangkan Ridho langsung ngejar aku dan ngelepasin tangan pak Karan.


"Bukan seperti itu caranya!" kata Ridho.


...----------------...