Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Pindah Lagi?


Pagi ini setelah semua pada mandi, kita ngumpul buat sarapan bareng di ruang tamu. Lesehan aja udah, karena kalau pakai kursi juga nggak muat karena orangnya banyak.


Bu Ratmi juga ngajakin mbak Luri makan bareng kita-kita, walaupun dia agak sungkan gimana gitu ya. Pokoknya mataku selalu mengawasi mata mbak Luri dan kangmasku jangan sampai bertemu di satu garis lurus.


Makanan alhamdulillah melimpah ruah, tapi aku nggak makan dari rantangannya mbak Luri.


"Nak Reva udangnya dimakan..." kata bu Ratmi menawari.


"Reva alergi seafood Bu, jadi dia tidak makan makanan olahan dari laut!" ucap pak Karan nyerobot Ridho yang udah mau mangap


"Oh begitu, ya! maaf ya, Nak. Ibu tidak tau..." ucap bu Ratmi menyesal.


"Tidak apa-apa, Bu. Masih ada makanan lain yang bisa dimakan..." ucapku.


Bersyukurnya si mantan bos aing ini sempet nyuruh orang suruhannya buat beli makanan. Jadi disini perutku terselamatkan, coba aja nggak ada makanan dari pak bos, udah pasti cuma aku yang kelaparan disini.


Ridho lahap banget makannya, dalam hati aku mencurigai masakan dari mbak Luri. Jangan sampai nih dari perut naik ke hati.


"Seenak itu?" aku nanya ke samping kananku.


"Iya, Va! enak ba-nget..." suara Ridho mendadak mengecil saat ngeliat sinar mata aing.


"Enaaaaakkk?" aku nanya lagi.


"Ehm, kamu nggak habis?" Ridho ngalihin pertanyaanku.


"Mendadak kenyang liat cara makan kau yang begitu lahap!" ucapku yang emang cemburu kenapa Ridho makan begitu enaknya masakan dari mbak Luri.


"Apa jadi istri harus pinter masak? kalau cuma jago mesen gimana? suami nggak bakal pindah ke dapur lain kan?" suara hati aing berontak.


Ah, nggak mau mikir yang aneh-aneh. Aku nikmatin aja apa yang ada di piringku saat ini.


Setelah makan, Kita semua disuruh berkumpul lagi. Kecuali bu Ratmi dan Luri ya.


Kita duduk melingkar, pak Sarmin menghela nafasnya sebelum mulai bicara.


"Semalam itu yang kalian alami semuanya di luar kendali," ucap pak Sarmin.


"Lawan kalian itu mengirimkan begitu banyak makhluk ke rumah yang kalian tempati saat ini, bahkan jumlahnya diluar dugaan!" lanjut pak Sarmin.


Jadi itu yang bikin Ridho dan Bara langsung keluar rumah dengan terburu-buru.


"Dan ada satu makhluk yang energinya paling kuat, dia mengincar adik Ridho. Mungkin ada orang yang sedang bersinggungan dengan adikmu, nak Ridho..." kata pak Sarmin.


"Saya juga belum tau dengan jelas maksud dan tujuan orang ini, karena Mona juga belum begitu bisa saya ajak bicara..." ucap Ridho.


"Mon, jadi jelaskan kamu ada masalah apa sama Vena?" tanya Ridho pada Mona.


"Mona mantan pacarnya Bara, dia sempat nuduh aku jadi orang ketiga dalam hubungan mereka..." ucap Mona.


"Sebenernya dia udah pernah ngancem sebelumnya, tapi aku pikir itu cuma hertakan ajah. Toh emang aku sama Bara sampai detik ini masih berteman dan belum menjalun hubungan apapun, jadi aku ngerasa tenang-tenang aja," lanjut Mona.


"Kenapa kamu nggak bilang sama aku, Mon?" Bara menatap Mona nggak percaya.


"Ya karena aku pikir, dia nggak bakal berbuat hal senekat ini, Bar!" ucap Mona.


"Sebenarnya, aku dan Vena itu nggak pernah pacaran, Mon. Dia yang menyebarin gosip kalau kita itu ada hubungan spesial!" jelas Bara.


Mona yang baru mengetahui kebenarannya pun kaget dengan apa yang barusan Bara katakan.


"Nggak, nggak mungkin karena aku jelas-jelas..." Mona tiba-tiba menghentikan ucapannya. Mungkin hal yang mau dikatakan Mona ini privacy jadi dia nggak sampai hati buat bilang di depan kita semua.


"Karena aku sukanya sama kamu, Mon! tapi aku emang susah buat bilang ini karena .... ehm karena ... aku takut ngerusak persahabatan kita," kata Bara.


Pak Sarmin cuma geleng-geleng kepala. Ya gimana nggak bengek ya, percintaaan anak muda aja udah ngelibatin makhluk ghoib. Gimana permasalahan yang udah nikah dan bangkotan? makhluk apa lagi yang bakal turun kaki, eh tangan.


Pak Sarmin manggut-manggut, "Jadi semua ini terjadi karena sakit hati?"


"Huufh, tapi apapun itu. Makhluk yang dikirimkan wanita yang berselisih dengan Mona, bukan hanya satu tapi sangat banyak. Jadi, hal ini tentu bukan hal yang mudah..." kata pak Sarmin.


"Tapi pak Haji mau menolong kami, kan?" tanya Ridho.


"Inshaa Allah, Nak..." ucap pak Sarmin.


"Tapi sebaiknya nak Ridho setelah pulang dari sini jangan menempati rumah itu lagi. Dan sebaiknya Mona dan Reva jangan ikut mengambil barang kesana, cukup kamu dan Bara saja..." ucap pak Sarmin.


"Baik, pak Haji..." ucap Ridho.


Aku yakin habis ini Ridho puyeng banget, gimana nggak puyeng dia harus nyari rumah lagi dan dia pun harus pindah kosan lagi. Bener-bener kita ini kayak nomaden, idupnya pindah-pindah mulu.


Sekarang pak Sarmin sedang menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Dia memejamkan matanya, seraya mengucapkan sesuatu yang hanya terdengar seperti bisik-bisik aja.


Namun dari raut wajahnya begitu tegang, dan dia yang tadinya duduk tenang sekarang menjadi gelisah.


"Huuuufffhh ... hhh ... hhh" pak Sarmin ngos-ngosan.


"Kali ini mereka tidak bisa diusir dari jarak jauh, mau tidak mau aku harus kesana..." ucap pak Sarmin.


"Apa mereka sekuat itu, Pak?" tanya Bara yang penasaran banget.


"Tidak ada kekuatan melebihi kekuatan Allah SWT, hanya saja jumlahnya terlalu banyak, Nak! mereka ibarat sudah dikontrak, mereka tidak mau begitu saja pergi dan menuruti perintah oranglain," jawab pak Sarmin.


"Lalu, ada lagi yang mau saya tanyakan Pak. Ada satu hantu penunggu rumah itu yang katanya disandera Vena..." ucapku pada pak Sarmin.


"Kamu masih saja memikirkan hantu itu. Reva?" ucap pak Karan.


Ya iya sih, kenapa juga aku kepo banget sama Gadis. Tapi nggak tau, aku ngerasa kasihan aja kalau dia disandera atau disiksa oleh orang jahat kayak Vena.


"Gadis?" pak Sarmin memejamkan matanya lagi dan kemudian membukanya setelah beberapa menit.


"Kamu tidak perku khawatir, mereka tidak akan menyakitinya. Mereka hanya tidak ingin ada pengganggu lain yang merusak rencana mereka. Gadis baik-baik saja, bahkan sudah dilepaskan semalam..." ucap pak Sarmin.


"Dilepaskan?" aku mengernyit.


"Ya karena hantu itu ternyata sangat merepotkan! sekarang dia berada berkeliaran di rumah orangtuanya..." jawab pak Sarmin.


"Aiiihh, untunglah si Gadis udah balik. Pinter juga jadi hantu, dilepasin gara-gara bikin gedeg dan kesel orang yang nangkep dia!" batinku.


"Jadi, kapan sebaiknya kita kembali ke kontrakan itu dan membereskan semuanya?" tanya Ridho.


"Pagi ini juga!" jawab pak Sarmin.