Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Model Madul


Setelah ngomong gitu, si adek sepupu malah senyum cenderung ketawa.


"Aku serius! aku nggak lagi becanda. Bukan berarti kalau aku nerima ini lagi, terus aku mau nikah sama kamu. Inget kita saudara," kataku lagi.


"Iya aku tau!"


"Hah?" aku ngah ngoh.


"Iya aku tau," kata pak Karan yang lepasin tangannya dari bahuku. Sementara aku masih belum bisa ngedip sambil mangap dikit.


"Gimana?"


"Iya, aku tidak akan memaksa kamu untuk menikah," ucapnya.


Sumpeh demi apa aku malu banget. Secara tadi udah lepedean bin ke-GR an karena udah nyangka kalau perusahaan yang dikasihkan ke aku sebagai bentuk sogokan atau iming-iming hutang budi supaya aku mau jadi Nyonya Perkasa.


"Karena aku tau sampai kapanpun yang ada di otak dan hati kamu cuma si mantan pengangguran itu!"


"Namanya Ridho bukan mantan pengangguran!" aku ngeralat ucapan pak Karan.


"Tuh aku bilang seperti itu saja kamu sudah tidak terima..." pak Karan naikin dua sudut bibirnya, dia senyum.


"Ya bukannya kamu ngebet pengen aku jadi istri kamu," lirihku.


"Ya itu dulu. Aku pengen banget bareng sama kamu bahkan sampai tua. Tapi setelah liat kamu koma dengan semua alat yang menempel di tubuh kamu, di saat kamu berada diantara hidup dan mati, saat itu aku berjanji kalau jika kamu bisa selamat dan hidup seperti sedia kala, aku akan lepasin kamu..." ucap pak Karan.


"Dengar Reva ... jika aku membiarkan dia mendekatimu dengan keadaannya yang seperti itu, yang ada kamu tambah sengsara. Dan aku juga ingin tau seberapa usaha dia untuk mendapatkan kamu. Dan kamu bisa lihat sekarang?"


"Jadi, kamu misahin aku bukan karena---?"


Pak Karan menggeleng, sontak aku memeluknya. Dia membalasnya, mengusap rambutku lembut.


"Aku ingin kamu bahagia," ucapnya tulus.


"Aku janji aku bakal bahagia," kataku yang masih menikmati pelukan dari adek sepupu.


Kita udah sama-sama lega. Pak Karan menjarak tubuh kita, dia menepuk pipiku pelan. Aku tersenyum, dia pun sama.


Tadinya waktu akubjadi karyawannya, kayaknya bakal seneng banget kalau bisa jadi Nyonya Perkasa. Tapi ternyata Allah maha membolak-balikkan hati. Giliran si penguasa bisnis kesengsem sama aku, akunya malah suka sama Ridho.


Aku pulang dengan hati yang berbunga, sebelum akhirnya senyum itu luntur karena ketemu sama demit di dalam lift, Karla.


"Wow, kayaknya nggak sia-sia ya nempelin pak Karan mulu, jadi benalu!" ucap Karla.


"Aduh kalau mulut udah jarang disekolahin begitu ya, asal nyablak aja!" aku nggak kalah nylekit sbil kibasin rambut.


"Kasian ya yang punya penyakit iri," lanjutku dengan tolak pinggang satu tangan. Vibesnya udah model madul banget pokoknya.


"Dih, duit hasil dikasih aja bangga!" kata Karla.


"Haeeeeeee, jaga mulut andaaaaaahhhh ya!" kataku, sambil nunjuk ke depan mukanya.


"Aaaaaaawwwhhhhhh!" tiba-tiba si Karla njerit. Padahal kan aku cuma kasih liat jari telunjuk. Sakti juga nih jari ya.


"Aaawwhhhh!!! lepasiiiin!" kepala Karla ketarik ke belakang. Tapi kali ini jariku udah aku turunin, masa iya masih ada efeknya.


"Siapaaa siih?" Karla berusaha negelpasin rambutnya.


Dan tau nggak yang ngejbak Karla siapa? Rania.


Ya ternyata Rania muncul di belakang Karla. Nguwes-nguwesin rambutnya nih orang sampe kusut


"Heh, siapa nih yang jambakin rambut akuuu!!!"


Dan ketika bunyi 'ting'. Pintu lift kebuka, Ramia menghilang. Aku yang berdiri agak jauh dari Karla langsung keluar. Sesangkan di depan udah banyak orang yang ngeliatin Karla dengan muka heran. Aku cuma nempelin jari telunjuk di jidat, terus dimiringin.


"Maklumin aja, beban hidupnya berat!" gumamku pada salah satu orang yang ada disana.


"Dia lagi stres," bisik-bisik orang-orang bergosip.


Dan pas masuk mobil ternyata, si Rania udah ngejogrog duluan di kursi samping.


"Ya ampuuuuun! Rania, bisa nggak sih kamu jangan ngikutin aku terus? tutupin tuh muka, ngeri tau nggak?" aku nyuruh Rania nutupin wajahnya pakai rambut yang bisa jadi korden dadakan.


Rania nurut untungnya, nggak banyak ngebantah.


"Tadi aku udah nolongin kamu, sekarang giliran kamu yang nolongin aku,"


"Siapa yang minta ditolongin coba? masalah kayak gitu doang mah, keciiiiil!" ucapku.


"Tapi tetap saja aku udah bantunkamu. Dan sekarang wajib bantuin aku! bilang sama Barraq kalau--"


"Kalau kamu fans dia iya? suka banget ama dia? metong dan gentayangan gara-gara pengen foto sama tanda tangan asli dia gitu? " aku nyamber aja.


"Iya, boleh! tapi nanti nggak sekarang. Karena aku harus kerja,"


"Kamu juga harus mengambil bunkusan putih dan membuangnya ke laut!" tambah Ramia.


"Iya iya iya, ntar ya. Nggak sekarang! ini masih pagi, Barraq nya aja mungkin masih molor di apartemen!" aku stres ngadepin hantu yang satu ini.


Dan dia ngilang gitu aja tanpa permisi, "Heran jadi hantu nggak ada sopan santunnya!" aku menggerutu.


Udah hampir jam sepuluh dan aku belum juga ngantor, baru juga nyalain mesin mobil ada chat dari si Ravel. Dia bilang kalau sekarang aku harus ke butik yang udah dia share lokasinya.


"Ya ampun, ini adek durhaka nggak tau apa ya. Ini tuh jam kerja," gumamku sambil jari ngetik balesan di layar hape.


Tapi dari isi chat si Ravel, dia bilang kalau di designer itu mau pergi ke luar pulau. Katanya mau liburan sekalian belanja bahan. Dan kesempatan aku buat ukur-ukur badan cuma hari ini. Ya udah lah, daripada ribut mulu si Ravel akhirnya aku iyain. Sekarang mobilku melesat ke butik.


Berbekal map pintar di hape, aku jadi cepet nemuin tuh tempat.


"Selamat pagi..." sapa pegawai butik saat pertama kali aku masuk ke sana.


"Pagi,"


Aku langsung ketemu sama Madam Anna, pemilik butik yang khusus menjual atau mendesign gaun pesta dan penganten.


"Pinggangnya ramping sekali, yaaa?" puji Madam.


"Jadi inget deh waktu Madam masih gadis, ya segini ini bentukannya..." ucap Madam yang lebih mirip kulkas dua pintu.


Aku iya-iyain aja udah. Daripada dia tersinggung dan malah kebayaku jafinya nggak bagus kan.


"Duuuh, Madam suka banget deh bentuk badan kamu! gimana kalau Madam minta tolong buat cobain satu kebaya pengantin yang baru aja Madam bikin. Kayaknya cocok banget nih kalau kamu yang pakai..." Madam Anna nyerocos.


"Cuma nyobain, kan?" tanyaku ragu.


Ternyata, aku bukan cuma nyobain gaes. Pas Madam Anna liat kebayanya aku pakai, kata dia perfect banget. Dan dia minta aku buat didandanin dikit supaya bisa dia foto. Alhasil nih rambut disanggul-sanggul modern gitu, aku disuruh pose alakadarnya. Jadilah aing model dadakan.


Jepreetttt!


Jepreeeettt!


"Oohhh, niceeee!" puji Madam.


"Pasti kebaya ini bakal cepet ada pemilliknya!" kata Madam.


"Sebentar, Madam tinggal dulu..." ucap Madam yangasuk ke dalam dengan orang yang membawa kamera.


Aku memandang kebayan yang melekat di badanku, bahannya enak banget.


Tap!


Tap!


Tap!


Ada seseorang yang datang dari arah depan, "Permisi, saya kau ambil pesanan Nyonya Amrita!" ucap seorang laki-laki. Aku pun menoleh ke arah sumber suara, dan aku melihat sepasang bola mata yang sangat indah.