Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Makam Rania


Jadi selepas aku layangkan tatapan tajam ke Ridho si Rimar keluar tuh dari goa, bukan ya tapi dari toilet. Dia basa basi lah ke aku. Aku sih berusaha banget nggak jutek nggak ketus, walaupun hatiku empet banget ngeliat si Rimar pake rok kesempitan dan kependekan kayak gitu tapi ya aku tahan aja. Selama tatapan Ridho nggak melenceng kemana-mana gitu ya.


"Cepat sembuh, Nona..." ucap Rimar sopan.


"Ehm, ya makasih..."


"Sudah sore, saya pamit pulang," ucap Rimar.


"Mar, tuh..." Ridho nunjukin heels yang tergeletak di deket sofa, dia kayaknya lupa kalau dia pakai sendal jepitnya Ridho.


"Oh ya, lupa..." kata Rimar.


Dan ya, dia duduk lagi. Keangkat lagi roknya. Mana sekarang lebih parah. Emosi banget aku jadinya.


"Ehem," aku bersuara, Ridho yang mau nunduk ambil sendal jepit yang tadi dipake Rimar pun nggak jadi.


"Kenapa, Va? mau minum?" tanya Ridho.


"Ya," aku nyaut seadanya.


Ridho koplak apa gimana sih, sengaja banget bikin aku kebakaran. Niat nggak sih balikan sama aku, kalau nggak ngapain dia bersikap begitu perhatian sama si Rimar. Takutnya ntar nih perempuan salah pengertian dan ujung-ujungnya kayak Karla. Kesengsem ama kutu kupret yang satu ini.


Sedangkan Rimar udah selesai pakai heelsnya lagi.


"Kalau begitu saya permisi, sekali lagi semoga lekas sembuh..." ucap Rimar menunduk sebelum keluar dari ruangan.


"Nih minumnya, Va..." ucap Ridho yang ngasih aku air mineral.


"Mendadak aku udah nggak haus!" ucapku sinis.


"Kamu kenapa sih, Va?"


"Kamu nggak suka kalau Rimar kesini? tadi dia nggak bawa mobil, terus dia numpang, dan kebetulan dia janjian sama temennya jam 5 nanti. Daripada nunggu nggak jelas diluar, jadi aku tawarin dia ikut kesini,"


"Udah selesai jelasinnya? kalau udah aku mau tidur," kataku dingin.


"Kamu marah, Va?"


"Nggak, Ridhooo! aku nggak marah, aku malah lagi jingkrak-jingkrakan ini saking bahagianya..." ucapku dengan senyum palsu.


"Oh, syukur deh kalau kamu nggak marah. Aku jadi lega," dia naruh air mineral di meja dan duduk di sofa, sambil ngelonggarin dasinya.


Jawaban Ridho itu malah tambah bikin aku gedeg banget. Tadi ngomong sama Rimar kayaknya lembut giliran ngomong sama aku kayak cuek banget kayak gitu. Tau akh!


Aku yang semula mulai menghangat, dan mau ngebuka hati aku lagi buat Ridho mendadak bimbang. Nggak tau dia lagi banyak pikiran atau emang dia udah nggak niat bersikap manis karena ngerasa udah dapetin hatiku lagi atau gimana, yang jelas aku ngerasa dicuekin. Dia nggak nanya sekian banyak barang ini dari mana dan siapa yang dateng. Atau mungkin dia udah bisa nebak kalau pak Karan yang abis jengukin aku kesini.


Malam ini seperti biasa Ridho nemenin. Tapi dengan leptopnya. Aku cuma bisa ngunyah cemilan yang dibawain sama adek sepupu. Daritadi mulutku nggak berhenti buat ngegiling. Sekali lagi masa bodo dengan diet, dietku udah nggak tau kemana.


"Ehmmm, sereeet!" ucapku.


"Mau minum?" tanya Ridho sambil ngedongak liat aku.


"Nggak, aku mau beol!" ucapku.


"Ya udah aku anterin," sahut Ridho.


"Nggak jadi!"


"Nanti kalau mau ke toilet ngomong aja ya," ucap Ridho yang palingan juga nganterin ke depan pintu doang.


Lagian buat jalan dari tempat tidur ke toilet aku nggak perlu juga dipapah. Sakitku nggak separah itu.


"Nih orang nggak nyadar apa emang otaknya lagi kemana gitu ya, nggak ngeh apa aku lagi dongkol ama dia? Sumpeh ye, Dho! jangan bikin aku puter haluan, mumpung masih banyak yang memperebutkan cinta aku nih!" ucapku dalam hati.


Beruntung semaleman nggak ada tuh yang namanya gangguan makhluk halus, yang ada gangguan dari makhluk yang bamper depan belakangnya bikin panas mata, udah tau lah siapa dia.


Paginya Ridho ijin buat berangkat pagi-pagi, katanya ada pertemuan penting jam 8 nanti, tapi dia udah out dari jam 6. Minum juga nggak tuh orang. Katanya dia harus ngewakilin pak Bagas buat meeting sama orang, ya iyalah masa iya sama setan.


Ya udah aku sendirian disini. Dari awal aku emang ngelarang Arlin buat kesini, dia ngurus perusahaan aja udah capek, jadi aku nggak mau lah ngrepotin dia. Termasuk dengan kepulangan aku dari rumah sakit pagi ini.


Selepas Ridho pergi, aku urus semua administrasi selama aku dirawat. Aku juga nggak ngomong sama adek sepupu. Semua barang aku bawa ke apartemen, lumayan ada tas baru, jangan disia-siakan karena dia nggak salah.


Sampai di depan lift, ternyata aku ketemu Barraq.


"Reva? kok kamu udah balik kesini? emangnya kamu udah sembuh?" cecar Barraq.


"Udah lah, buktinya aku udah boleh pulang..."


"Sini aku bantuin," ucap Barraq yang liat aku kerepotan pas mau masuk ke dalam kotak besi.


"Makasih..."


Aku nggak nolak soalnya aku emang lumayan masih lemes. Barraq nganterin aku sampai ke depan unit.


ajy buka pintu dan mempersilakan Barraq buat ikutan masuk.


"Mau ditaruh dimana nih?"


"Di sofa aja, Bar!" ucapku.


Dan aku baru ngeh kalau Barraq bawa sebuket mawar putih.


"Itu buat..." ucapku menggantung sambil menunjuk bunga yang masih di pegang Barraq.


"Ini buat Rania..." ucap Barraq.


Alisku slaing bertautan, kan Rania udah nggak ada cuy.


"Maksudnya, aku mau ke makamnya Rania," jelas Barraq.


"Sekarang?"


"Iya," sahutnya.


"Aku boleh ikut?"


"Bolehlah, masa nggak boleh? dia pasti seneng juga kamu kunjungi,"


Ya udah aku dan Barraq naik mobil menuju sebuah pemakaman umum. yang pakai serba hitam dan juga kerudung yang buat nutupin kepala dan pundak pun mendadak sendu pas sampai di sebuah gundukan tanah tempat peristirahatan terakhir gadis yang selama ini Barraq cari.


Aku dan Barraq pun menabur bunga dan menyiramkan air mawar. Satu buket mawar putih Barraq taruh di samping nisan bertukiskan Rania Maheswari.


Barraq mengusap nisan itu lembut, "Semoga sekarang kamu tenang di tempatmu yang baru..." ucap Barraq.


"Aku sudah mengabulkan permintaan konyol kamu, Rania. Aku bahkan hampir kehilangan nyawa karena itu..." aku menyambung ucapan Barraq.


Setelah selesai mengirimkan doa, aku dan Barraq pun meninggalkan pemakaman itu.


Di dalam mobil, kita sama-sama terdiam. Mata Barraq fokus ke jalanan sedangkan aku daritadi kayak nggak enak badan. Pundakku kayak berat aja rasanya. Semoga ini bukan pertanda aku ketempelan setan.


"Gimana soal Cherryl?" aku tiba-tiba penasaran dengan gadis pengirim pelet untuk Barraq.


"Cherryl? dia udah aku beresin!" ucap Barraq ambigu.


"Maksudnyaa?" aku nengok ngeliat Barraq yang masih menatap lurus jalanan.