
Hari semakin sore, nenek Darmi mulai mengucapkan sesuatu dari mulutnya. Nggak tau apa yang dia ucapin yang jelas aku cuma denger was wes wos gitu aja. Dia sempat nanyain nama orang yang sedang aku cari sebelum memulai semua ini.
Aku ngelirik Ridho yang duduk anteng disampingku. Dia membalas tatapanku, kalau diartikan 'kenapa?' kira-kira begitulah.
Aku cuma menghela napas, nungguin si nenrk selesai dengan bacaannya.
"Sekarang, benamkan wajahmu ke dalam bokor itu. Tahan nafas dan buka matamu lebar-lebar," suruh nenek Darmi.
"Gimana-gimana tahan napas? emh ... berapa lama saya harus..."
"Terserah kamu anak bodoh! cepat lakukan!" bentak nenek Darmi.
"Astaghfirllah, galak amaaat ini si nenek! nanya dikit dibentak, nanya dikit dibentak. Nggak nanya ntar salah ... beuuh, sabaaaarr Revaaaaa..." aku dalam batin.
"JANGAN MENGUMPATKU DALAM BATINMU YANG BUSUK ITU! CEPAT MASUKKAN KEPALAMU KE DALAM BOKOR ITU!" bentak nenek.
Edunlah, sakti mandraguna ini si nenek. Bisa banget denger suara batin aing yang tersiksa gara-gara dimarahin mulu daritadi.
Nggak mau digetok pakai gayung atau siwur yang terbuat dari batok kelapa, aku pun segera mengikat rambutku sebelum aku benar-benar membenamkan wajahku yang cantik paripurna ini ke dalam air yang berisi bunga setaman, eh bunga tujuh rupa.
"Bismillah!" aku tarik nafas dan memasukkan wajahku ke dalam bokor tembaga.
Perlahan aku melihat aku sedang berada di sebuah hutan. Suasana begitu sepi, tak ada suara apapun benar-benar hening.
Namun...
Tiba-tiba aku ngeliat ada seseorang yang turun dari pohon. Dan aku baru nyadar kalau di pohon yang nggak begitu tinggi itu ada batu yang besar. Entah bagaimana caranya dia begitu lincah turun dari pohon, kalau aku mungkin udah tereakan minta tolong. Beruntung aku ngeliatnya saat matahari masih nongol, jadi aku bisa ngeliat dengan jelas wanita yang memakai kaos. biru dan celana jeans yang udah sobek sedikit di bagian lututnya.
Dan seseorang itu, yang sedang aku cari. Dia nampak mengendap-endap. Tebakanku, sepertinya dia ingin mengambil air. Karena disaku belakangnya dia menyelipkan sebuah botol kecil.
"Mbaaak, Mbaaak Senaaa!" aku teriak cuma bisa dalam hati, kalau teriak beneran air dalam bokor bisa masuk semua ke mulut aing.
Mbak Sena kayaknya nggak denger kalau aku panggil-panggil namanya. Dia terus mengawasi keadaan sekitar sebelum berjalan menuju suatu tempat.
"Mau kemana dia?" batinku bertanya-tanya. Dan sesaat mbak Sena berbalik, dia kayak ngeliat ke arahku.
"Mbaaak, Mbaaaaaakkkkk!" aku teriak lagi dalam hati, namun semuanya mendadak kabur dan akhirnya nggak keliatan apa-apa lagi.
Aku tarik wajahku keluar dari air.
"Revaaaa!" seru Ridho.
"Hah ... hhh ... Dho? dia masih hidup!" aku engep banget karena kelamaan nahan napas, aku seka wajahku sendiri yang habis kena air pakai kedua tangan.
Ridho memegang kedua bahuku, "Maksudnya? mbak Sena kamu itu? dia masih?"
Aku ngangguk, "Iya. Dia masih hidup, aku harus nolong dia, Dho! dia sendirian disana! aku harus bawa dia kembali, Dho!
"Kamu tenang dulu, kita bakal bantu dia. Oke?" Ridho menepuk kecil pipiku beberapa kali. Lalau Ridho berbalik menatap nenek Darmi yang terlihat begitu sinis melihatku.
Astaga, aku sampe lupa kalau aku lagi ditonton nenek Darmi dan juga bu Wati.
"Nek..." aku ragu untuk mengulangi apa yang tadi aku ucapkan sama Ridho.
"Aku sudah tau! kau ingin membantunya, iya kan?" sindir neneknya si karet bungkus nasi.
Aku menggangguk, "Iya, Nek..."
"Hahahahahahahahhaaa," nenek Darmi malah ketawa, kek orang lagi kesurupan, ups!
Lagian nggak ada yang lucu dia ketawa, mana ketawanya nakutin karena memperlihatkan mulutnya yang merah dan gigi yang hitam karena suka menyirih.
"Ibu...." bu Wati mengelus lengan nenek Darmi.
"Aaarghh! kau dengar tadi? dia ingin membantu temannya yang terjebak disana, sedangkan dia tidak ingat kalau dulu dia bisa keluar dari sana juga karena bantuan dariku dan cucuku," nenek Darmi ngomong sama bu Wati.
Please, jangan bilang kalau nenek Darmi berubah pikiran? Nggak, nggak boleh, dia harus bantu mbak Sena supaya bisa keluar dari sana. Keluarganya pasti sudah mengharapkan dia kembali.
"Bu ... bantulah mereka, Bu..." lirih bu Wati.
"Kau ini! kau ini masih saja pura-pura baik dengan anak itu!" nenek Darmi kayak marah gitu sama bu Wati. Dia melihatku penuh amarah.
"Sudahlah, Bu..." ucap bu Wati.
"SUDAH SUDAH BAGAIMANA?!"
Kan kan kan, nenek ini darah tingginya kumat. Kenapa lagi dah, dia marah-marah. Baru kali ini aku ngeliat bu Wati sampai tertunduk begitu, nggak berani ngeliat wajah nenek Darmi yang udah murka gaes!
"Nek ... saya mohon, bantu saya, Nek..." aku berucap, dan neneknya Karla menatapku dengan sorot mata yang tajam, ngeri sumprit.
"Dasar wanita tidak tau diuntung!" nenek tua itu mengumpatku lagi.
"Maaf, Nek. Tapi bukankah nenek setuju untuk membantu kami, Nek? kami mohon, nenek mau sekali ini saja membantu Reva menemukan temannya," ucap Ridho yang mungkin nggak tahan kalau calon istrinya dimaki-maki.
Lagian aneh banget neneknya si Karla ini, kan dia udah setuju buat bantu aing nyari mbak Sena. Lah kenapa sekarang kayak mau berubah haluan? Udah gitu dia jadi merong-merong begindang. Sumpeh, sampe sini aing kagak paham. Bukan cuma aku yang kena semprot, tapi bu Wati juga. Yang agak mendingan si Ridho, dia cuma dapet lirikan sinis. Tolong yang ngerti, kasih tau akikah ini neneknya si karet nasi warteg lagi kenapa, kesurupan demit mana?
"Bu ... mereka sudah jauh datang kemari, ibu tolonglah nak Reva sekali ini saja..." bu Wati bicara setelah beberapa saat terdiam.
"Kau yakin hanya sekali ini? hah? lagi pula, aku sudah tidak ingin menggunakan kekuatanku, aku ini semakin lemah, Wati! Dan lagi ... aku pikir, aku tidak sudi membantu orang yang sudah melukai hati cucuku!" ucap nenek Darmi.
"Melukai hati cucunya dia? Maksudnya si Karla? lah, emang kita ngapain Karla?" aku dalam hati.
Plaaak!
Aku segera nabok mulutku sendiri, bisa-bisanya aku ngomongin nenek Darmi dalam hati. Bisa tambah merong-merong lagi ini si nenek.
Ridho dan bu Wati natap aing heran. Aku cuma bisa senyum kikuk, tanpa mau ngejelasin kenapa tiba-tiba aku nabok bibir sendiri.
"Itu masalah lain, Bu..." ucap bu Wati pada nenek Darmi.
"Halah, kau ini! ibu macam apa kau ini? jika aku membantu anak ini, itu sama saja aku melukai hati cucuku sendiri..." kata nenek Darmi.
"Kau sudah menolak cucuku!" nenek Darmi menunjuk Ridho.
"Dan semua itu juga karena kau!" kali ini nenek Darmi mengarahkan telunjuknya ke arahku.
Oh, ya ya ya. Jadi semua ini perkara Karla naksir Ridho, tapi kangmas Ridho yang ganteng paripurna lahir batin ini lebih milih aing yang emang udah mempesona dari lahir. Oke, sampe sini aing paham.
"Sudah lah, Bu. Itu masalah anak-anak, kita tidak perlu ikut campur..." bu Wati mencoba meredam suasana yang udah mulai panas.
"Karla pasti kecewa denganmu, Wati!" kata nenek Darmi.
"Karla bukan wanita pendendam, Bu. Wati yakin, Karla sudah dewasa dan bisa menerima penolakan yang hadir di dalam kehidupannya. Yang namanya perasaan tidak mungkin bisa dipaksakan, Bu. Mungkin memang mereka tidak berjodoh!" ucap bu Wati.
Namun tiba-tiba.
PRAAAAAANG!
Nenek menyingkirkan bokor tembaga dengan tangannya hingga bokor itu terguling ke lantai.
"Ibuu..." bu Wati memegang tangan nenek Darmi.
Tapi nenek menatap bu Wati dengan penuh amarah. Dia menepis tangan anaknya itu.
"Karla pasti kecewa terhadapmu!" ucap nenek Darmi penuh penekanan.
...----------------...