
Ting!
Tong!
Dan ya, bener kata Ridho. Pesanan baru datang. Tapi ini yang dateng steak yang disajikan dengan pottato puree dan juga salad.
"Makasih," ucap Ridho.
Dan pria menyebalkan itu nutup kembali pintunya.
"Makan, mumpung masih anget!" ucap Ridho nunjuk steak yang sangat menggiurkan itu.
Berhubung laper, aku pun menyambar makanan yang dipesan Ridho tanpa ngomong sepatah kata pun.
Daging steaknya lembut nggak ngajakin gelut. Sedangkan Ridho, dia makan nasi goreng yang sempet aku pesen yang katanya udah dingin. Ternyata, dia nggak berubah, masih nggak suka buang-buang makanan.
Liat dia makan, aku pun berpikir buat sedikit nawarin makanan yang ada di piringku. Tapi sesaat kemudian aku mengurungkan niat itu, "Halah, ntar dikiranya aku udah luluh!" ucapku dalam hati.
Selesai makan, Ridho masih aja ngejogrog di sofa. Dia mencetin hapenya.
"Balik sana!" kataku.
"Sama kamu, ya?" ucap Ridho yang nyimpen hapenya ke dalam saku jas.
"Kamu sendirian aja sana pulang, lagian aku kesini mau liburan..."
"Liburan sendirian mana asik, Va!" ucap Ridho.
"Denger, ya Va. Aku sama Rimar itu nggak ada apa-apa, suwer deh. Kita cuma rekan kerja, lagian Rimar itu punyanya si bos. Mana berani aku, Va. Kalau perlu aku telfon Rimar, deh! buar kamu yakin," ucap Ridho.
"Jangan-jangan nih orang belum tidur pas aku nyerocos, atau dia pura-pura molor tadi?" batinku.
"Halah, bisa aja ka kalian cinlok. Nggak ada yang bisa jamin..."
"Ya emang bisa, kalau kedua belah pihak saling memberi kesempatan. Tapi kan aku nggak, Va. Aku cuma serius sama kamu," ucap Ridho.
"Masa kamu nggak percaya?" lanjutnya, dia genggam tanganku.
"Ya gimana aku bisa percaya, kalau kalian sedeket itu. Kamu itu nggak kapok dan belajar dari masa lalu, ya? inget nggak gimana kamu sama Karla dulu, hem?" aku lepasin tangan yang dipegang Ridho.
"Kamu nganggepnya dia temen kan? tapi dia nganggepnya lain, karena apa? karena sikap kamu yang terlalu perhatian, terlalu lembut, terlalu baik sama dia. Dho, cewek tuh kamu kasih perhatian dikit aja, mereka bakal ngira kalau kamu itu suka. Ngerti nggak, sih?" aku gemes banget sama nih orang.
"Iya iya, Va. Aku salah. Aku bakal perbaiki sikap aku lagi," ucap Ridho, sedangkan aku melayangkan tatapan super tajem sama dia.
"Maksudnya, aku nggak ngelakuin itu lagi. Ngelakuin sesuatu yang bikin mereka salah paham sama sikap baik aku," Ridho cepat meluruskan maksud ucapannya.
"Udahan ya marahnya?" Ridho ngebujuk.
"Hem.." aku cuma dehem aja.
Dia meluk akikah, "Kalau ada masalah, jangan dibiasain kabur-kaburan, apalagi kalau kita udah nikah. Nggak baik..." bisiknya.
Berhubung nggak ada gunanya juga aku lama-lama di pulau ini, akhirnya aku ngikut Ridho pulang. Nggak jelas banget emang, baru juga check in pagi, sorenya udah check out lagi. Definisi buang-buang duit ini mah.
Ridho sebenernya nawarin nemenin liburan disini buat 2 sampai 3 hari ke depan. Tapi baru juga jam 1 siang, itu hape bunyi mulu. Kayaknya dia beneran lagi banyak kerjaan. Ya udah akhirnya, aku putusin buat mengakhiri acara kucing-kucingan kali ini.
"Ada yang ngikutin nggak?" tiba-tiba aku nanya pas kita udah mau take off.
"Siapa? setan?" tanya Ridho.
"Nggak ada," lanjutnya.
Syukurlah, setan yang di hotel nggak ngekorin sampai pesawat. Mungkin mereka takut jetlag.
"Udah mendingan?" tanya Ridho.
"Ya, lumayan," jawabku seadanya.
"Mau minum apa?" aku tawarin nih kutu kupret buat minum.
"Apa aja yang ada di kulkas!" jawab Ridho yang ngebuka jasnya. Dia buka dasinya yang seharian ini nyekek di leher.
"Nih," aku sodorin minuman kaleng, bersoda.
"Kamu jangan srring-sering minum kayak gini. Nggak baik buat lambung," tiba-tiba saja Ridho nyeramahin.
"Iyaaa bawel!"
Baru juga minum satu teguk itu hape bunyi lagi, ini sih pak Bagas kebangetan banget jadi bos.
"Ya, halo? gimana, Pak? nyiapin buat dinner? oke, oke. Siap!" ucap Ridho di telfon.
Setelah sambungan telfon diputus, Ridho nelfon resto buat reservasi. Dia balik lagi nelpon pak Bagas buat lapor kalau apa yang dia minta udah disiapin.
Tapi bukan cuma itu kayaknya pak Bagas nyuruh yang lain lagi, uh pengen aku jadiin tempe penyet itu bos. Udah tau ini udah diluar jam kerja, masih aja ngreibetin asisten buat urusan pribadi.
Ridho yang baru juga duduk semenit dua menit, ambil jasnya dan berdiri dan aku pun ikutan bangkit.
"Aku pergi dulu, ya? ada tugas dadakan. Nanti aku pesenin makanan, kamu jangan lupa makan..." ucap Ridho dia menarik pinggangku dan memberikan satu kecupan kecil.
"Hati-hati..." aku memandang badan tegap Ridho pergi menjauh dan hilang dari balik pintu.
Dan pas duduk di sofa, "Lah, dasinya ketinggalan..." aku mengambil dasi milik Ridho.
.
.
.
Paginya aku diribetin sama hape yang bunyi terus. Ternyata adek sepupu.
"Ya, halaooohh, hoaammmph!" aku ngomong sambil nguap.
"Hey, kamu ganyi kode aksesnya? cepetan buka!" suara pak Karan merong-merong dibalik telepon.
"Iya emang kenapa? biar nggak ada yang nyelonong masuk pas aku lagi tidur!" kataku yang langsung nutup telepon dan bergerak buat ngebukain pintu buat tamu yang sama sekaki nggak diundang.
"Astaga, kamu bikin kaki saya pegal, menunggu setengah jam di luar!" pak Karan misuh-misuh sepagi ini. Aku yang rambutnya masih awut-awutan pun sama sekali nggak ngegubris, dan ngelempar badan ke atas sofa, masih ngantuk.
"Revaaa, mandi sana!" pak Karan ngetukin jarinya di jidatku.
"Iya, bentar. Kumpulin nyawa dulu!" kataku yang sambil merem, dan sebenernya nggak ada niat buat melek. Pengennya males-malesan aja.
Tapi tiba-tiba badanku kayak melayang. Aku dipanggul sama adek sepupu, "Wooiy!! turuniiiiiinnnn!" aku kaget tiba-tiba nangkring di pundaknya Karan Perkasa. Emang perkasa banget nih orang, ngangkat aku kayak ngangkat bantal.
"Pak, turuniiiiinnn?!!!" aku klojotan dengan kepala mau ngejungkel ke bawah.
Dan dia nurunin aku dinkamar mandi, "Sekarang kamu mandi. Aku tunggu 15 menit, kita sarapan bareng!" ucapnya lalu nutup pintu sebelum aku ngomel-ngomel.
"Dasar adek sepupu durjanaaaaa!!!"
Mau nggak mau aku mandi dan siap-siap, sebelum suara dia melengking lagi dari luar.
"Kamu mau kemana?" tanya pak Karan yang ngeliatin aku dari atas sampai ke bawah, dia nyuruh aku duduk di kursi yang ada di sebelah kanannya.
"Kerja lah! masa ngelayab?" sahutku singkat.
"Hari minggu? kerja?" adek sepupu naikin alisnya terus dia manggut-manggut dan npelin punggung tangannya di jidatku, "Nggak panas!"
"Waktunya kerja ngilang, giliran libur mau ke kantor. Sebenernya kamu ini lagi kenapa?" adek sepupu menatapku dengan tatapan menelisik.