Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Ngambeknya Dipending Dulu


Aku nanya tapi nggak dijawab.


"Siapa, Woy?"


"Mona, Mbak..." jawab seseorang yang aku yakin nih ada dibalik pintu.


"Mona? nggak, nggak mungkin! Mona kan tadi bilang kalau dia lagi nonton sama temen-temennya," aku ngomong dalam hati, dan aku mencium bau seperti singkong bakar lewat di depan hidungku.


Aku yang imannya cetek kayak selokan depan rumah pun, ngibrit ke dalam kamar. Aku nyoba ngehubungin Ridho.


Aku tempelin hape ke kuping.


"Angkat, combro!" aku mulai cemas.


Dan ya akhirnya tuh cowok mau angkat telfonku juga.


"Dho, ada Mona di depan kontrakan,"


"Mona? dia kan ijin mau nonton, itu juga mau aku jemput nanti. Kok dia udah balik?" lah Ridho malah nanya ke aku.


"Aiiiih, maksudku, yang di depan kontrakan bukan Mona yang sebenarnya..." aku ngomong ini tuh bulu kuduk merinding semua.


"Tunggu, aku kesitu! jangan dibukain pintu pokoknya sebelum aku dateng. Nanti aku kasih kode, tampan. Baru kamu bukain pintu..."


"Cepetan ya, Dho! takutnya dia nembus pintu..." kataku.


"Iya, iya..." Ridhoain matiin telpon gitu aja.


Aku yang emang takut akhirnya melupakan kekesalan aku kegondokan aku sama tuh orang. Karena yang aku butuhin sekarang orang yang bisa nyingkirin tuh makhluk itu biar nggak deker-deket aing.


Aku sih bersyukurnya, kontrakan ini dan kosan Ridho yang baru tuh deket banget. Jadi aku bisa bayangin pahlawanku yang nggak bertopeng itu bisa cepet nyampe kesini.


"Mbaaaaak, bukain pintu! Mona mau masuk!" nah si Mona jadi-jadian itu ngomong lagi.


"Iya, Mon! mbak lupa naro kuncinya!" aku jawab ngasal berharap mengulur waktu sampai Ridho dateng kesini.


Tok.


Tok.


Tok.


Pintu diketuk.


"Tampan!ini aku, Va, Ridho! buka pintunya!" ada suara Ridho.


Aku yang udah merinding, buru-buru bukain pintu. Dan bener aja, Ridho dateng. Aku ngelongok nggak ada orang, selain cowok yang pakai sweater item nutupin leher.


"Tutup pintunya!" aku nyuruh Ridho buat nutup pintu, dan bau singkong bakar tadi tiba-tjba aja udah ilang.


Ridho langsung ngeluarin hapenya.


"Mau nelfon siapa?" aku nanya.


"Mona,"


Ridho nempelin tuh hape di kupingnya.


"Mon? dimana? hmm, lagi di bioskop? nggak kenapa-napa, mas cuma mau bilang nanti selese nonton kamu balik ke kontrakan, jangan nginep di kos temen kamu," kata Ridho.


"Ya dianter siapa kek, kan kamu kesitu rame-rame kan? masa nggak ada yang bisa buar tebengan satu pun? mas nggak mau tau, kamu malam ini balik ke kontrakan! dah ya, assalamualaikum!" Ridho nyerocos kasih perintah ke adeknya.


Aku baru liat nih, kalau Ridho udah tegas ya tegas banget. Ilang tuh segala slengeannya dia.


Dia kantongin lagi hapenya ke dalam saku.


"Aku dah nyuruh dia pulang ke kontrakan, paling jam 12 atau jam 1 an dia nyampe kesini," kata Ridho. Dia bergerak ke pintu, tapi aku cegah. Aku langsung templokin punggung aku ke pintu supaya dia nggak bisa pergi.


"Kamu mau kemana?" aku nanya Ridho.


"Aku mau ngecek keluar, barangkali tadi cuma orang iseng yang ngaku-ngaku Mona..." kata Ridho.


"Aku ikut!"


"Bukannya kamu lagi ngambek sama aku?"


"Iya buat sekarang aku pending dulu ngambeknya. Nanti disambung lagi kalau situasi udah aman," aku nggak mau menyingkir satu senti pun.


"Ya ada, kalau kepepet!" aku jauhin jidatnya dia pakai telunjuk aku. Aku menyingkir dari tempat aku berdiri tadi.


Sepintas aku kuat Ridho ngelengkungin bibirnya ke atas. Aku lebih milih diledekin Ridho daripada harus sendirian di dalem sini. Lantas aku jadi kepikiran niat aku buat nolongin mbak Sena, kira-kira aku berani dan sanggup nggak buat nolongin mbak Sena yang entah masih idup atau udah wassalam. Karena kan nasib dia belum jelas, tapi kalau aku diem aja aku nggak tega. Kali aja dia nungguin bantuan dateng salah satunya dari aku.


"Gimana? jadi ikut nggak?" Ridho ngebuyarin lamunanku.


"Iya iya jadi, jangan ditinggalin dong!" aku narik tangan dia, kita keluar rumah bareng-bareng.


"Tutup dulu pintunya, nanti ada tikus atau kucing masuk berabe! Mona takut kucing soalnya!" Ridho nunjuk pintu yang masih kebuka lebar.


"Iya iya bawel!" aku julurin badan, tapi tangan aku masih pegangan Ridho.


"Udah," aku pepetin badan sambil nengok kanan kiri waspada kali aja ada penampakan.


Ridho ngeluarin hape buat nyalain senter dan dia ngajak aku ke samping kontrakan.


"Nggak ada siapa-siapa," gumam nih cowok yang dari tadi aku pegangin terus.


"Kamu yakin tadi ada yang manggil kamu dan ngaku-ngaku jadi Mona?" Ridho nengok ke belakang, ke arahku lebih tepatnya.


"Iya aku denger sendiri, lagian ngapain juga aku bohong?"


"Ya biar bisa deket-deket sama aku," jawab Ridho naikin turunin satu alisnya.


"Dih, pede banget jadi orang!" aku mau lepasin tangan Ridho, tapi pas aku ngeliat Ridho fokus ke belakang aku. Aku jadi ragu.


"Ada apaan?" aku nanya.


"Masuk ke rumah!" kata Ridho yang main narik aku buat masuk lagi ke dalam rumah.


Ceklek!


Ridho buka pintu dan segera nutup lagi. Dia ngelepasin tanganku, dia bergerak ke jendela, ngintip dari balik tirai.


"Ada apaan sih, Dho?" aku jadi parno banget.


"Ssssuuut, jangan berisik!" Ridho nyuruh aku diem, sementara matanya terus mengawasi keadaan luar.


Setelah beberapa saat, Ridho berbalik dan natap aku.


"Kamu habis darimana?" dia malah nanya random kayak gitu. Aku jadi nggak mudeng.


"Darimana? maksudnya?"


"Lupain aja. Yang jelas, ada yang ngikutin kamu sampai kesini..." kata Ridho dia ngeliat aku serius.


"Jangan becanda, nggak lucu tau!" aku peluk lengan dia posesif, kali ini emang jujur aku takut banget.


"Kamu udah sholat?" Ridho nanya.


Aku menggeleng pelan.


"Kita sholat bareng, paling nggak kita minta sama penguasa alam semesta ini buat menghindarkan kita dari makhluk-makhluk kayak gitu!" kata Ridho.


Aku ngikutin aja apa yang Ridho suruh, dan untuk yang pertama kalinya kita sholat bareng di ruang tengah. Malam semakin larut, dan kita sekarang udah selesai menunaikan kewajiban.


Bertepatan Ridho mau negeberesin sajadahnya, hapenya bunyi.


"Kamu angkat aja. Biar aku yang lipetin!" aku nawarin bantuan.


Ridho bangkit dan ngambil hapenya.


"Kenapa, Mon?" tanya Ridho.


"Udah mau otewe ke sini? oke, hati-hati..." kata Ridho sebelum memutus sambungan teleponnya.


"Mona, Dho?" aku nanya, aku dah selese beresin sajadah dan mukena.


"Iya, dia lagi perjalanan kesini..." jawab Ridho, dan aku lega akhirnya malam ini ada Mona di kontrakan.


"Oh ya, aku mau nanya. Kenapa kamu mibta alamat rumahnya Karla?" tanya Ridho.


"Emh itu, nggak apa-apa kok. Cuma pengen tau aja," aku ngeles.


"Ya udah kalau nggak mau jawab, aku balik ke kos ya. Kamu tungguin aja Mona, paling setengah jam lagi nyampe kesini," kata Ridho yang baru selangkah maju.