
“Mommy, ayo kita makan es krim hari ini !” Amara mengirim pesan voice note pada Kyara.
“Mommy sedang mengunjungi orang tua Mommy, nanti jika Mommy sudah pulang, Mom akan mengajak Amara makan es krim yang banyak.”
Hubungan antara Kyara dan Amara sangat baik, bahkan keduanya seperti layaknya ibu dan anak. Padahal Amara bukanlah putri kandung Kyara. Namun entah mengapa Kyara pun merasa nyaman dekat dengan Amara, begitupun dengan Amara.
“Apa orang tua Mommy jauh ?” tanya Amara lagi dengan polosnya.
“Jauh sayang, nanti Mommy akan mengajakmu untuk bertemu mereka jika Amara sudah bisa menulis nama Amara di buku tulis.”
“Amara tidak mau sekolah !” Amara mengerucutkan bibirnya ia begitu tak suka jika bersekolah. Padahal Kaylin dan Agam sudah berusaha membujuk Amara untuk masuk sekolah TK, namun apa daya Amara begitu enggan untuk bersekolah.
“Kenapa Amara tidak mau sekolah ?”
“Amara mau sekolah jika tunggui Mommy !” jawab Amara dengan suara cemprengnya.
Tiba-tiba ponsel Amara diraih oleh Agam yang tak sengaja mendengar Amara tengah mengobrol dengan Kyara.
“Dad..kembalikan ponsel ku !” Amara tidak terima jika ponselnya direbut oleh Agam.
“Sebentar saja, Daddy ingin bicara dengan Mommy !” bujuk Agam pada Amara yang pada akhirnya Amara menurut dan memilih bermain dengan boneka.
Agam menekan tombol video call di layar ponsel Amara. Kyara yang tidak tahu jika yang menelpon itu adalah Agam, ia membulatkan matanyaa saat tahu wajah siapa yang muncul di layar ponselnya.
“Kau tega sekali padaku ! Kenapa kau pergi tanpa memberi tahu ku !” ucap Agam to the point.
“Aku sudah mengirim mu pesan !” sangkal Kyara karena telah merasa pamit dengan Agam.
“Kenapa tidak jujur padaku sejak awal jika kau putri dari Tuan Morgan, adik Rain !” lirih Agam menampakkan wajah lesunya.
“Kau meragukan aku ?” ucap Agam dengan percaya diri, padahal dalam hatinya ia begitu gugup jika bertemu dengan Morgan.
Namun sedetik kemudian Agam menelan kasar silvanya saat melihat bagian dada Kyara yang terekspos di kamera ponsel.
“Kau lihat apa ?” Kyara kemudian menutup tubuhnya dengan selimut sampai ke lehernya. “Dasar mesum !” maki Kyara pada Agam, dan Agam terkekeh mendengarnya.
“Iya aku begitu rindu berbuat mesum padamu ! ingat aku sudah puasa selama lima tahun, jadi jangan memancingku !” ucap Agam dengan suara beratnya.
Kyara diam terpaku mendengar ucapan Agam barusan, ‘berpuasa lima tahun’ apa itu artinya Agam tidak pernah menyentuh Sarah selama menjadi istrinya ?
“Kenapa kau diam ?” tanya Agam yang melihat Kyara hanya diam saja setelah ia menjawab pertanyaan Kyara barusan. Namun ia menyadari ucapannya barusan mungkinkah Kyara terkesima.
“Ah..tidak..”
“Iya, aku tidak pernah menyentuh Sarah sekalipun !” Jawab Agam memotong ucapan Kyara, dan itu membuat Kyara ingin sekali merasa bahagia, karena nyatanya Agam tidak pernah sekali pun mencintai Sarah.
“Cintaku tubuhku hanya untuk mu ! Aku tidak akan menyentuh wanita lain selain dirimu !” perkataan Agam barusan seolah membuat Kyara terbang ke atas awan, namun ia begitu gengsi untuk mengakuinya jika dirinya senang dan bahagia ia malah menjawab sebaliknya.
“Aku tak percaya, dasar !”
“Baiklah jika kau tak percaya, akan ku buktikan dengan segera !” Agam menjadi kesal sendiri ia mematikan ponsel Amara hingga Kyara melongo seorang diri melihat panggilan video call itu terputus secara sepihak oleh Agam.
“Tunggu saja aku akan membuat mu memohon ampun dibawah tubuhku jika kita sudah menikah nanti !” Agam menggerutu dan meremas ponsel Amara dan itu membuat Amara jengkel dengan kelakuan Daddy nya yang meremas ponselnya.
“Daddy, ponselku bisa rusak, nanti !” suara cempreng Amara menyadarkan Agam dan membuatnya terkejut dengan apa yang ia lakukan.