
Setelah acara resepsi pernikahan Kyara dan Agam selesai. Kyara dan Agam sudah berada dikamar mereka. “Dimana Diana ?” tanya Kyara pada Agam.
“Tentu saja dia dikamar yang lain, apa dia akan menyaksikan malam pertama kita ?” jawab Agam dengan santainya ia mendekat ke arah Kyara sambil membuka kancing kemejanya satu persatu.
Mendengar kata malam pertama Kyara menatap tajam Agam, bisa-bisanya Agam mengatakan itu. Sedangkan mereka menikah bukan didasarkan oleh cinta, mana mungkin dirinya mau melakukan hal tersebut.
“Kau jangan meminta hal mustahil yang tak mungkin ku kabulkan !” ucap Kyara tersenyum sinis pada Agam.
Agam terkekeh mendengar ucapan Kyara, karena ia adalah tipikal pria yang bisa mendapatkan hal apapun yang ia mau, baginya tak ada kata penolakan jika ia meminta sesuatu. Jelas saja ia selalu dijuluki pria yang arrogant.
“Tidak ada kata penolakan, aku suami mu mulai saat ini, apa yang ada dalam diri mu adalah milikku !” jawab Agam dengan tegas.
“Kau jangan gila, mana mungkin aku melakukan hal yang tidak sesuai dengan hatiku ! Kita menikah bukan karena dasar cinta !” sarkas Kyara
Agam menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman “Cinta dan nafsu hanya berbeda sedikit, benar bukan ?” ucap Agam lagi. “Lagi pula apa yang akan kau harapkan dari mantan kekasihmu, bahkan dia sudah tidur bersama istrinya setiap malam dan mungkin telah bercinta sepanjang waktu.” Agam mengatakan itu tanpa memperdulikan hati Kyara yang mungkin sakit mendengarnya.
Jantung Kyara terasa seperti diremas-remas, setelah mendengarkan ucapan Agam padanya. Benar apa yang dikatakan oleh Agam, Kevin sudah menikah dengan wanita lain. Seharusnya ia sadar tidak ada lagi yang perlu diharapkan dari Kevin untuknya.
“Tutup mulutmu, Tuan Agam !” sentak Kyara. Ia kemudian mendorong Agam hingga terduduk di atas ranjang sedangkan ia sendiri masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Kyara dan Agam sama-sama tengah membaringkan tubuh mereka, mereka larut dengan pemikiran mereka masing-masing. Hingga salah satu diantara keduanya membuka suara mengawali pembicaraan diantara mereka berdua.
“Kau tidak mengingkari janjimu bukan ?” ucap Kyara pelan ia menatap langit-langit kamar tanpa menoleh ke arah Agam
“Apa aku terlihat sebagai seorang lelaki yang suka ingkar dengan janjinya ?” jawab Agam ia mencoba memejamkan matanya.
Sebelum menikah Agam memberikan surat perjanjian dengan Kyara, jika mereka hanya menikah selama enam bulan. Karena memang benar mereka menikah tanpa ada rasa cinta.
“Siapa tahu kau berbohong !” balas Kyara kemudian ia memejamkan kedua matanya hendak tertidur, karena ia sudah merasa lelah.
Sepuluh menit berlalu Kyara benar-benar sudah tertidur pulas. Agam yang menyadari Kyara telah tertidur, ia memiringkan tubuhnya menatap wajah cantik istrinya tersebut entah mengapa wajah Kyara selalu membuatnya merasa nyaman jika ia berada di dekatnya.
Apalagi pada saat ia tengah bersama, bahkan saat ini mereka sudah menjadi sepasang suami istri, rasanya ia begitu nyaman berada di dekat Kyara.
“Apa yang aku lakukan.” Agam mengusap kasar wajahnya kala tersadar tangannya hendak memeluk tubuh Kyara. Ia kemudian menggulingkan tubuhnya ke samping dan tidur membelakangi Kyara.
... …………...