
Setelah salah satu dari pengawal tersebut menelpon Agam, bos mereka. Agam tentu saja memperbolehkan Kyara membawa Diana ikut bersama Kyara ke Hotel yang telah dipersiapkan oleh Agam. Agam berpikir mungkin Kyara butuh teman untuk menemaninya besok pada acara pernikahan mereka.
Saat Kyara dan Diana telah tiba di kamar hotel tempat dimana mereka akan menginap. Mata Kyara dan Diana tertuju pada patung gaun pengantin yang sudah dipersiapkan oleh Agam untuk dipakai besok pada acara pernikahan mereka.
“Kyara, ini..ini gaun rancangan Bos ku !” Diana menunjuk gaun yang ia ketahui jika gaun pengantin itu adalah rancangan Bos nya tempat ia bekerja.
Sedangkan Kyara menatap gaun pengantin tersebut dengan biasa-biasa saja. Tidak ada yang spesial baginya karena pernikahannya bersama Agam bukan berasal dari sebuah cinta tapi sebuah keterpaksaan karena Agam mengancam dirinya dengan sebuat video.
Tentu saja Kyara tidak ingin sampai video itu sampai tersebar karena ia tak ingin kehilangan pekerjaannya sebagai seorang Guru. Ya, sejak Kyara keluar dari perusahaan Agam. Ia menjadi sulit mendapatkan pekerjaan. Tanpa sepengetahuan Kyara ternyata Agam dalang dibalik dirinya yang sulit mendapatkan pekerjaan.
Beruntungnya ia pada saat ia datang ke sekolah swasta nan elit, ia diterima bekerja di sana dan menjadi seorang Guru.
“Apa kau tidak bahagia ?” Tanya Diana yang melihat raut wajah Kyara tampak tak bahagia menyambut hari pernikahannya bersama Agam.
“Bagaimana aku akan bahagia !” jawab Kyara dengan nada lirih. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamar. Ia tak menyangka jika besok statusnya akan berubah menjadi wanita yang sudah memiliki seorang suami.
“Kau bisa membatalkannya jika kau tidak bahagia, Kyara !” ucap Diana memberikan nasehat pada sahabatnya tersebut karena ia pun tak tega menyaksikan Kyara yang tidak bahagia dengan pernikahannya bersama Agam.
“Aku yakin kau akan bahagia bersama Tuan Agam, siapa tahu dia adalah pria yang dikirimkan oleh Tuhan untuk mengakhiri nasib buruk mu selama ini, Kyara.” Diana ikut merebahkan dirinya di samping Kyara.
Kyara hanya diam mendengar ucapan yang disampaikan oleh Diana untuknya. Pria yang dikirim oleh Tuhan ? Kyara hanya menarik sudut bibirnya sedikit membentuk senyuman yang sulit di artikan, karena baginya mungkin Tuhan telah keliru menjadikan Agam sebagai kebahagiaan untuknya.
“Apa kau tidak ingin menghubungi Papa mu ?” Tanya Diana dengan pelan.
Kyara kemudian teringat dengan Papa nya, haruskah ia menelpon Papa nya jika besok dirinya akan menikah. Kyara begitu ragu untuk menghubungi Papanya, karena ia takut jika Papa nya menolak untuk datang ke acara pernikahannya.
“Jika kau ragu untuk menghubunginya dan mendengar suaranya, kau bisa mengirimkannya sebuah pesan.” Diana kembali menasehati Kyara, karena bagaimana pun Arsen adalah Papa Kyara meskipun bukan Papa kandung.
“Aku takut dia menolak untuk datang, Diana.” Kyara merasa tak sanggup menerima kenyataan jika Papa nya menolak dirinya atau mungkin mengabaikan pesannya. Padahal dalam lubuk hatinya ia sangat menginginkan Papa nya datang dan melihat dirinya menikah.
“Papa…”