
Dering ponsel membangunkan Agam dari tidurnya. Matanya mengerjab-ngerjab dan dirinya berusaha mengumpulkan kesadarannya. Namun betapa terkejutnya ia kala sadar dimana ia saat ini berada. Bahkan dengan kondisi polos hanya tertutup selimut tebal.
Saat ia mencoba mendudukkan dirinya, ia lebih kaget lagi saat tahu ada seseorang di balik selimut dan itu adalah Kyara. Ia dan Kyara bahkan sama-sama dalam keadaan polos.
Agam meraih ponsel yang terus berdering dan ternyata itu adalah ponsel Kyara, disana ternyata terdapat panggilan dari Diana. Agam kemudian mematikan ponsel Kyara karena tak ingin menjawab telepon dari Diana.
Ia kemudian mencoba membangunkan Kyara dan menepuk-nepuk pipi Kyara. “Kyara…Kyara..bangun !” Agam terus berusaha membangunkan Kyara hingga Kyara akhirnya terbangun dari tidurnya.
Kyara bangun dari tidurnya dengan wajah datar dan ia menatap tajam Agam.
“Kyara, katakana apa kau lakukan padaku ?” pertanyaan monohok yang tak bermutu itu lah yang membuat Kyara semakin marah dengan Agam.
“Kau bertanya aku melakukan apa padamu ! seharusnya aku yang bertanya kenapa kau melakukan ini padaku ! brengsek !” maki Kyara pada Agam hingga Agam terdiam tanpa sepatah kata apa pun.
Plak
Kyara menampar pipi Agam hingga memerah dan memukuli tubuh Agam terus menerus. “Brengsek ! Bajingan !” maki Kyara. Sedangkan Agam hanya diam saja saat tubuhnya dipukuli oleh Kyara. Ia sadar jika apa yang terjadi pada mereka berdua karena kesalahannya, dan Kyara berhak marah atas semua itu padanya.
“Bajingan kau Agam ! Aku benci padamu !” Kyara kemudian menangis dan menghentikan pukulannya di tubuh Agam.
Agam yang merasa bersalah dan kasihan pada Kyara, ia kemudian menarik tubuh Kyara masuk ke dalam pelukannya dan mencoba menenangkan Kyara.
Agam berusaha meminta maaf pada Kyara, karena hanya itu yang mampu ia katakan dan lakukan. Kyara tak menanggapi ucapan Agam ia hanya bisa menangis dan menangis.
Setelah puas menangis, Kyara mencoba melepaskan pelukan Agam dan mendorong tubuh Agam dan hendak turun dari tempat tidur dengan menggunakan selimut tebal menutupi tubuh polosnya.
“Kau mau kemana ?” Tanya Agam cepat, namun saat Kyara hendak melangkahkan satu kakinya tiba-tiba intinya terasa perih yang amat luar biasa.
“Aaakk…ssst…sakit !”
Agam dengan cepat menggendong tubuh Kyara masuk ke dalam kamar mandi. Ia tahu saat ini Kyara merasa kesakitan kala hendak berjalan karena Kyara baru pertama kali melakukannya dan itu hanya padanya. Semua itu terlihat jelas pada noda darah yang terdapat di sprei tempat tidur mereka.
“Apa yang kau lakukan ?” Kyara terkejut kala tubuhnya di gendong oleh Agam masuk ke dalam kamar mandi. Lebih parah lagi Agam malah melemparkan selimut yang membungkus tubuh Kyara hingga keduanya sama-sama dalam keadaan polos masuk ke dalam kamar mandi.
Kyara menjerit kala melihat kondisi mereka berdua di kaca kamar mandi yang sama-sama tidak memakai busana sama sekali.
“aaaaaa…”
“Bisakah kau tidak berteriak, telingaku bisa saja rusak karena teriakan mu !” Agam yang merasa risih karena teriakan Kyara dan memang benar Agam tidak dapat dipisahkan dengan sifat arrogantnya, Agam Josephine tetaplah pria yang arrogant.