MARRY ME AGAIN

MARRY ME AGAIN
TAK SANGGUP


Sarah menangis dihadapan Agam seolah-olah merasa dinodai olehnya. Ia bahkan mengeluarkan kata-kata kasar pada Agam dan memukuli dada bidang Agam seolah-olah Agam sudah memperkosa dirinya.


“Cukup !” bentak Agam, bukannya merasa iba dan bersalah. Agam malah merasa Sarah menjebak dirinya, lagi pula mengapa Sarah seolah-olah seperti wanita suci yang baru pertama kali disentuh seorang pria, karena ia tahu pasti sudah banyak pria yang menjamah tubuh Sarah.


Sarah terdiam saat dirinya mendapatkan bentakan dari Agam. Ia menghapus air matanya, dan mencoba melawan Agam dengan mengata-ngatai Agam.


“Apa ? Kenapa kau marah ! Hah ! Kau yang sudah memperkosa aku ! Harusnya aku yang marah padamu !” teriak Sarah.


“Aku tidak percaya dengan semua ini ! Kau pasti menjebakku ! Dasar wanita ular !” Agam mencengkram pipi Sarah hingga Sarah meringis dan merasakan sakit di pipinya.


Setelah mengatakan itu Agam menghempaskan tubuh Sarah hingga terlentang di atas tampat tidur. Agam kemudian mengenakan pakaiannya, dan pergi meninggalkan Sarah seorang diri menuju hotel dimana ia menginap.


Begitu ia sampai di hotel dan masuk ke dalam kamarnya, di lihatnya Nathan yang sudah berpakaian rapi berada di dalam kamarnya.


Nathan terkejut saat melihat tampilan Agam yang begitu acak-acakan. “Tuan anda…” belum selesai Nathan berbicara, ia sudah diusir oleh Agam keluar dari kamar.


“Keluar dari kamarku, temui aku dua jam lagi !” Agam mengusir Nathan keluar dari kamarnya.


Setelah Nathan pergi, Agam masuk ke dalam kamar mandi. Ia membanting apa saja yang ada di dalam sana. Saat ia tengah mengguyur tubuhnya dibawah pancuran air, ia memukul-mukul tembok kamar mandi hingga tangannya berdarah untuk meluapkan emosi dan kemarahannya.


Kemudian ia teringat akan istri tercintanya, Kyara. Ia merasa sudah gagal menjadi suami yang baik untuknya. Ia sudah menghianati Kyara. Ia merasa bodoh pada dirinya sendiri, mengapa ia tak bisa mengendalikan dirinya.


... ……...


Kyara terus berjalan mondar mandir di dalam kamarnya. Ia sudah berulang kali pagi ini menghubungi ponsel Agam. Namun hasilnya masih sama tidak aktif seperti semalam.


Kyara kemudian teringat akan Nathan, ia kemudian menghubungi Nathan.


“Hallo Nathan, Kau bersama suamiku ? dimana dia ? apa dia baik-baik saja ? apa yang dia lakukan ? mengapa poselnya tidak aktif ?” sederet pertanyaan dilontarkan oleh Kyara hingga Nathan bingung harus menjawab pertanyaan yang mana lebih dulu ia jawab.


“Nyonya, Tuan Agam ada dikamarnya. Dia baik-baik saja. Mungkin dia tengah membersihkan diri.” Bohong Nathan ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya jika Agam baru kembali ke hotel dalam keadaan yang tak baik-baik saja.


Ia terpaksa mengatakan itu karena tak ingin Kyara merasa khawatir apalagi jika Agam tahu dirinya mengatakan yang sejujurnya pada Agam. Bisa-bisa ia dipecat dari pekerjaannya.


“Ah…syukurlah jika dia baik-baik saja. Katakan padanya untuk menghubungiku, aku menunggu telfon darinya.” Ucap Kyara memberikan perintah pada Nathan.


“Baik, Nyonya. Akan ku sampaikan dengan Tuan Agam !” balas Nathan, kemudian telfon pun terputus.


Meskipun Kyara telah mengetahui kondisi suaminya baik-baik saja. Namun ia masih tidak puas jika belum berbicara langsung dengan Agam.


Agam…