
Tak lama kepala pelayan datang menghadap pada Agam. Ia meminta Agam untuk datang di lain hari, karena Morgan sedang tidak bisa ditemui. Tentu saja Agam merasa tak puas, karena ia sudah jauh-jauh datang ke Jerman dan ia tak ingin menunggu hari lain untuk bertemu dengan Morgan apalagi Kyara.
“Kenapa ? Apa ada masalah ?” tanya Agam penasaran, karena ternyata Morgan tak mau bertemu dengan dirinya.
“Tuan ada sedikit urusan, jadi Tuan…” ucapan kepala pelayan terputus saat Agam melewati dirinya dan menuju ruang lainnya dimana terdapat banyak sekali orang berpakaian serba hitam disana begitupun dengan Morgan yang baru saja bergabung.
“Kita harus bergerak cepat, aku tidak ingin kedua anakku celaka untuk ke dua kalinya !” ucap Morgan dengan tegas ia sudah siap dengan senjata api di tangannya dan memasukkannya di belakang tubuhnya.
“Apa maksud anda, Tuan Morgan ? Ke dua anak anda ? Apa yang anda maksud itu adalah Kyara dan Rain ?” suara Agam mengagetkan Morgan ia menoleh ke sumber suara ia bisa melihat manik mata Agam yang menunjukkan rasa khawatir dan tatapan tajam padanya.
“Kau…” ucapan Morgan terputus saat Agam dengan cepat berbicara lagi.
“Katakan dimana Kyara, Tuan Agam ?” sentak Agam ia merasa Morgan tengah menyembunyikan sesuatu darinya dan itu mengenai Kyara.
Morgan menghela nafasnya kemudian ia mendekat ke arah Agam “Kyara di culik !.”
Deg
...****************...
“Katakan dimana kau sembunyikan chip itu ?” ucap seorang pria paruh baya yang memakai pakaian berwarna coklat tua dan kaca mata hitam pada Rain.
“Kenapa kau sangat menginginkannya ?” lirih Rain ia merasa muak dengan pria paruh baya seumuran dengan Daddy nya itu.
Dia adalah Justin musuh bebuyutan Morgan di dunia Mafia. Sebelum Morgan menjadi seorang pengusaha, ia adalah seorang Mafia. Ia menjadi Mafia karena warisan turun temurun keluarga De Costa.
Nyatanya hukuman yang Morgan berikan tak membuat Justin takut ia bahkan tak menyerah untuk menjatuhkan Morgan dan mengambil hak Morgan berupa kekayaan yang Morgan punya.
Apalagi lima tahun lalu Justin kehilangan putranya, karena Morgan dengan tepat sasaran menembakkan pelurunya di kepala putra Justin.
Justin semakin meradang dan murka atas kematian putranya. Dan itu membuat Justin semakin dendam pada Morgan dan niatannya untuk menghancurkan keluarga De Costa tidak pernah pudar.
Bugh
“Aaaaaa…” Perut Rain serasa diremas-remas saat salah satu anak buah Justin memukul perutnya dengan keras. Ia bahkan merasakan sakit yang luar biasa apalagi tubuhnya di ikat pada sebuah kursi kayu.
“Katakan !” teriak Justin pada Rain ia menatap Rain dengan tatapan membunuh.
Rain menghirup oksigen sebanyak-banyaknya kemudian ia tertawa pada Justin.
“Sampai mati pun aku tidak akan memberi tahumu ! Seharusnya Daddy bukan hanya membunuh putramu tapi juga dirimu, brengsek!” maki Rain dengan suara beratnya pada Justin yang membuat Justin semakin meradang.
“Kurang ajar kau !” Rahang Justin mengeras matanya memerah ia begitu marah pada Rain yang telah mengina dirinya. Ingin sekali ia menguliti Rain dan memotong kepala Rain dan membuangnya ke lautan. Justin yang diselimuti amarah ia kemudian mengeluarkan pistolnya dan…
Dor
...****************...