
Kyara menutupi bagian atas tubuhnya dengan kedua tangannya jelas saja ia merasa malu kala Agam terus menatap dirinya.
“Keluarlah…aku malu dilihat olehmu !” ucap Kyara dengan ketus ia memalingkan muka ke arah lain, bukan hanya malu dirinya dalam keadaan polos tapi ia juga malu melihat tubuh Agam yang juga dalam ke adaan polos. Apalagi milik Agam yang besar dan panjang itu, jelas saja miliknya merasakan perih yang teramat luar biasa.
“Aku tidak akan keluar, lagi pula aku sudah melihat semuanya. Mengapa juga kau harus malu ?” jawab Agam dengan santainya, bukan tanpa sebab Agam terus berada di kamar mandi bersama Kyara. Karena pikirannya sudah melayang cukup jauh, ia takut Kyara berbuat nekat dengan melakukan hal yang tidak-tidak di kamar mandi, mungkin saja bunuh diri, mungkin !
“Agam !” bentak Kyara ia benar-benar kesal dengan Agam bisa-bisanya Agam mengatakan itu dengan santainya.
Agam menutup kedua telinganya ia merasa lama kelamaan ia bisa tuli karena Kyara.
“Aku ingin pipis, kau keluar saja !” Pipi Kyara merona merah kala mengatakannya ia begitu malu, sangat malu !
“Kau tinggal mengeluarkannya, apa susahnya ?” jawab Agam ia benar-benar tidak ingin keluar dari kamar mandi, kali ini ia menarik handuk untuk menutupi tubuh bagaian bawahnya sedangkan Kyara tak ia berikan handuk.
“Hei itu handukku !” sentak Kyara ia tak terima jika handuknya dipakai oleh Agam. Namun karena Kyara sudah tidak bisa menahan untuk buang air kecil, ia kemudian merasakan perih yang amat luar biasa di miliknya.
“aaaaa…sssstt…” Kyara merintih merasakan sakit yang teramat di area intinya. Sedangkan Agam merasa khawatir melihat kondisi Kyara yang kesakitan.
Agam kemudian menggendong Kyara kembali dan masuk ke dalam bathtube yang sudah ia isi dengan air hangat. “Berendam Lah terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa sakitnya, aku akan mandi di kamarku.” Agam kemudian meninggalkan Kyara, ia ingin Kyara merasa rileks.
Kyara terdiam dengan perlakuan Agam padanya, ia tak menyangka jika Agam bisa bersikap manis dan lembut dengan wanita. Namun buru-buru ia menepis penilaian itu karena yang ia tahu Agam adalah pria yang arrogant dan sombong.
“Ayo makanlah.” Agam menyodorkan piring berisi makanan yang ia pesan lewat online.
Mau tidak mau, Kyara memakan makanan yang diberikan oleh Agam karena perutnya pun memang sudah lapar.
Setelah keduanya selesai makan, Agam mengajak berbicara serius dengan Kyara.
“Aku akan membatalkan perjanjian yang pernah aku buat !” ucap Agam dengan sungguh-sungguh.
“Apa maksudmu ?” Kyara menatap Agam tatapan mereka saling mengunci satu sama lain.
Agam menggenggam tangan Kyara, ia sudah yakin dengan keputusannya bahwa ia akan membatalkan, merobek bahkan menghancurkan perjanjian pernikahan diatas kertas yang pernah ia buat untuk mereka.
Bagi Agam saat ini dan sampai kapanpun Kyara adalah miliknya, karena ia orang yang pertama mendapatkan mahkota berharga itu. Ia begitu bangga mendapatkannya dari Kyara, dan ia tak ingin melepaskan miliknya.
“Ayo kita jalani hubungan pernikahan layaknya pasangan suami istri yang normal.” Pinta Agam dengan tak melepaskan tatapannya pada Kyara.
Kyara diam terpaku ia tak menyangka jika Agam berubah pikiran, padahal Agam sendiri yang meminta hubungan mereka hanya sebatas sebuah perjanjian dan jangka waktu. Mengapa Agam berubah pikiran ? Apa yang di pikirkan oleh Agam, pikirnya ?”
“Apa kau mau Kyara ?”