
“Aku ingin es krim.” Ucap Kyara pelan membuka obrolan, saat mereka tengah berjalan-jalan.
“Ah..penjual es krim di sini pasti sangat menjengkelkan !” gerutu Agam karena menganggap penjual es krim di Negara itu memang sangat menjengkelkan dan membuat pembelinya emosi.
“Ayo..!” Kyara menarik Agam menuju tempat penjual es krim yang tak jauh dari mereka.
Benar, bukan pada saat dirinya dan Kyara menunggu es krim yang dipesan, penjual es krim itu terlalu banyak menggunakan gaya dan itu membuat Agam menjadi kesal. Namun berbeda dengan Kyara, ia justru menikmatinya.
“Sayang, ayo kita pergi saja. Dari tadi dia hanya memainkannya !” ucap Agam dengan kesal hendak mengajak Kyara pergi dari tempat penjual es krim tersebut.
“Tunggu sebentar lagi.” Pinta Kyara, karena ia masih menimati adegan penjual es krim tersebut.
Agam semakin kesal karena sedari tadi penjual es krim itu terus saja mempermainkannya. Kemudian Agam mengambil cup es krim ditangan Kyara dan hendak melemparkannya ke penjual itu, namun dengan cepat penjual es krim itu langsung memberikan es krim nya dengan Agam.
Kyara hanya bisa menggelengkan kepalanya kala melihat reaksi Agam.
“Ini, ayo kita pulang. Lama-lama aku ingin meledakkan kepala penjual es krim itu !” ucap Agam dengan angkuhnya, hingga Kyara mendelikkan matanya ke arah Agam.
........ ...
Keesokan harinya Agam dan Kyara keluar dari kamar hotel mereka dengan membawa koper. Pada saat mereka berada di lobby hotel, langkah kaki mereka terhenti kala Nauder menghampiri mereka.
“Tuan Agam.” Panggil Nauder hingga Agam dan Kyara membalikkan tubuh mereka.
“Ada apa tuan Nauder ?”
“Aku hanya ingin meminta maaf, maafkan perkataanku semalam.” Ucap Nauder karena ia merasa bersalah pada Agam dan Kyara.
“Tak perlu seperti ini tuan Nauder, kami memaklumi itu.” Ucap Kyara membuka suara. Begitupun Agam ia malah memeluk Nauder.
“Aku akan meaafkanmu jika kau mau berteman denganku !” jawab Agam melepas pelukannya.
Nauder kemudian tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya menandakan kesutujuannya untuk berteman dengan Agam.
Tiba-tiba suara cempreng putri Nauder yang bernama Elisha mengalihkan pandangan Nauder. “Daddy…” Elisha berlari menuju Nauder dan Nauder merentangkan kedua tangannya dengan berjongkok memeluk putrinya.
“Ada apa ?” Tanya Nauder ia menatap Elisha kemudian Elisha menjewer telinga Nauder.
“Aaa…sayang sakit !” ucap Nauder memegangi telinganya kala dijewer oleh Elisha.
Sedangkan Kyara dan Agam saling tertawa menyaksikan itu.
“Daddy harus meminta maaf dengan Mommy, karena Daddy membuat Mommy marah !” omel gadis berusia empat tahun itu pada Nauder. Sedangkan Nauder hanya bisa menahan malunya karena ditegur oleh Elisha di hadapan Agam dan Kyara.
“Sepertinya kau harus menenangkan hati istrimu, Nauder. Aku memberimu semangat, fighting” Ucap Agam dengan mengepalkan kedua tangannya ke atas dihadapan Nauder.
“Fighting tuan Nauder !” Kyara juga memberikan reaksi yang sama seperti Agam pada Nauder. Jangan di Tanya bagaimana perasaan Nauder, jelas ia merasa malu.
“Ayo Daddy, kita bujuk Mommy dan jalan-jalan, aku ingin makan es krim !” pinta Elisha menarik-narik tangan Nauder agar menemui Syeira.
“Pergilah, tuan Nauder. Kami pun juga akan pergi, sampai jumpa lagi.” Ucap Agam berpamitan pada Nauder.
... …………....