
“Tidak..Agam..Aku tidak ingin bercerai dengan mu !” teriak Sarah saat Agam meninggalkannya di kamar hotel itu dengan seorang pria yang hanya menutupi tubuh polos mereka dengan selimut.
“Untuk apa kau menangis ? dia sudah menceraikan mu, bukan kah lebih baik kau bercerai dari pada terus mencintainya sendirian ?” ucap pria disamping Sarah dengan santainya.
“Diam kau !” bentak Sarah pada pria disampingnya, ia benar-benar kacau saat ini. Begitu sulit untuk menjadi istri Agam, segala cara ia lakukan untuk menjadi istrinya. Namun pada saat Agam menjatuhkan talak padanya, tidak ! tentu saja ia tidak terima.
^^^
(SARAH PUTRI MALIK) ^^^
Menceraikan Sarah ternyata tidak segampang yang Agam pikirkan. Karena ternyata Sarah meminta bantuan Ayahnya, Malik. Malik mengancam Agam akan membeberkan perbuatan Agam yang sudah memperkosa Sarah dan membuat Sarah hamil kepada media, jika Agam menceraikan Sarah.
Namun bukan Agam namanya jika ia tidak bisa melawan Malik. Jika dulu ia tidak bisa melawan Malik karena memang ia bersalah tapi kali ini lain cerita dan pelakunya.
Agam membayar mahal asissten pribadi Malik untuk mendapatkan informasi mengenai Malik yang ternyata melakukan korupsi setelah ia menjadi wali kota. Agam seperti mendapatkan keberuntungan saat asissten pribadi Malik menyerahkan bukti pengkorupsian yang Malik lakukan.
Malik tentu saja merasa cemas pada dirinya sendiri. Karena takut Agam melaporkan dirinya. Maka dengan berat hati Malik pun hanya bisa pasrah dan menerima keputusan jika Agam menceraikan Sarah.
Drama perceraian diantara Agam dan Sarah tak kunjung usai. Sebab Sarah dengan berani membawa Amara pergi tanpa sepengetahuan Agam. Sarah bahkan tega menyakiti Amara agar Agam menarik gugatan perceraiannya dipengadilan.
Pada saat itu Sarah bahkan dengan berani mengancam Agam akan melemparkan Amara dari atas gedung, jika Agam benar-benar tidak mau menarik gugutan cerainya.
“Apa kau gila ?! Amara itu putri kandungmu ! Dimana hati nurani mu sebagai seorang Ibu ?” bentak Agam berhadapan dengan Sarah dan Amara dari jarak yang tidak terlalu jauh di atas gedung tua.
"Iya aku sudah gila, aku gila karena mencintaimu ! Apa salah ku jika aku mencintai mu, hah ? katakan apa salahku ?" teriak Sarah menatap Agam dengan nanar, ia bahkan meneteskan air matanya. Mengapa perjuangannya selama ini tak membuahkan hasil, percuma saja ia sudah menikah dan memiliki anak dari Agam, karena nyatanya Agam tidak pernah mencintainya sedikit pun.
"Itu bukan cinta, itu obsesi mu ! Jika kau memang merasakan cinta, kau tidak akan mungkin tega menyakiti Kyara dan Amara putri kandungmu sendiri !" jawab Agam dengan nada beratnya.
“Lepaskan Amara, lepaskan dia Sarah !” teriak Agam.
“Tidak ! Aku tidak mau ! Kecuali kau mencabut gugatan cerai mu !” sentak Sarah ia bahkan tak peduli dengan tangisan Amara yang semakin menjadi-jadi.
“Diam Amara !” Sarah membentak Amara karena Amara terus menangis dan meronta dalam gendongannya. Karena Amara terus meronta dan membuat Sarah terus bergerak, Sarah tidak tahu jika dirinya dan Amara dalam keadaan bahaya berdiri dipinggir atas gedung.
“Kemari Sarah ! Kau bisa celaka !"
Tiba-tiba Sarah terpeleset dan melepaskan Amara dalam dekapannya. Ia terjatuh dari atas gedung dan meninggal dunia.
"aaaaa"
"Sarah….Amara…!” Agam berteriak kencang dan secepat kilat mengambil Amara saat Sarah jatuh dari atas gedung.
Nafas Agam memburu mendekap erat Amara kejadian itu begitu cepat terjadi, telat sedikit saja sudah di pastikan Amara akan terjatuh ke bawah bersama Sarah.
Sarah meninggal pada kejadian itu, kedua orang tua Sarah tentu saja merasa tak terima anaknya meninggal dalam keadaan mengenaskan. Mereka menyalahkan Agam dan ingin menuntut Agam serta mempenjarakannya.
Namun kedua orang tua Sarah tidak bisa melakukan itu, karena Agam memberikan bukti jika Sarah meninggal karena ulahnya sendiri, bahkan Sarah tega ingin membunuh Amara dengan melemparkan Amara.
Semua orang merasa syok dengan bukti rekaman cctv yang memperlihatkan betapa teganya Sarah menjadikan Amara sebagai Sandraannya.
Setelah kepergian Sarah, semua berubah. Agam bahkan hidup tenang dan bahagia bersama Amara dan kedua orang tuanya.
Agam…