
“Apa kau tidak melihat waktu jika menghubungiku ? Ini jam kerja dan aku banyak pekerjaan!” ucap Agam dengan nada dinginnya pada panggilan Renata.
Renata diam terpaku, ia tak menyangka jika Kevin marah padanya karena ia menghubunginya. Tapi harus bagaimana lagi, ia begitu menginginkan Kevin membawakan makanan untuknya, karena ia tengah mengidam.
“Maafkan aku, Kevin. Aku tidak bermaksud menganggumu !” balas Renata dengan nada lirih. Rasanya begitu aneh saat Kevin berbicara dingin padanya, padahal sebelum hamil dirinya biasa-biasa saja menghadapi Kevi yang berbicara dengan sikap semacam itu padanya.
“Katakan, apa yang kau ingin bicarakan ?” sentak Kevin karena tak ingin berbicara lama-lama dengan Renata, sebab ia pun begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
“Aku hanya ingin kau membawakanku makanan, bisakah ?” pinta Renata
“Apa kau tidak punya pekerjaan lain ? Kau meminta sesuatu yang sepele seperti ini disaat aku sedang sibuk bekerja, pesan saja makanan lewat online jika kau malas memasak !” balas Agam kemudian mematikan ponselnya, ia bahkan meletakkan ponselnya dengan kasar karena kesal dengan Renata yang menghubunginya hanya karena ingin dibawakan makanan.
Renata menangis setelah panggilannya terputus secara sepihak oleh Kevin. Ia begitu sedih karena kemauannya tak ia dapatkan. Padahal bukan ia yang menginginkannya, melainkan janin yang ada dikandungannya.
Malam harinya,
Kevin pulang ke rumah dengan keadaan lelah. Ia pulang ke rumah pada waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Pada saat ia ingin menuju kamarnya, tiba-tiba ia merasakan haus dan bertolak ke dapur. Namun rasa hausnya tiba-tiba hilang begitu saja kala melihat Renata yang sudah tergeletak di dapur.
Kevin dengan cepat menghampiri Renata dan menepuk-nepuk pipi Renata namun Renata tak kunjung sadar juga.
“Renata !”
Kevin kemudian menggendong tubuh Renata dan membawanya ke rumah sakit. Begitu mereka tiba disana, Renata langsung diperiksa oleh para dokter dan perawat.
Kevin berjalan kesana kemari karena merasa khawatir dan takut akan kondisi Renata, ia bahkan tak berani memberi kabar mertuanya. Sebab jika sampai mereka tahu Renata jatuh sakit, ia pasti akan mendapatkan amukan kemarahan dari mertuanya itu.
Begitu dokter keluar dari ruangan, Kevin segera menghampiri dokter tersebut dan menanyakan kondisi Renata. Namun ia dibuat terkejut kala dokter mengatakan calon bayi padanya.
“Apa maksudmu, dokter ? calon bayi ?” ucap Kevin mendadak ia menjadi bingung dan tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh dokter tersebut.
“Apa anda tidak tahu jika istri anda tengah hamil ? Istri anda kekurangan asupan makanan dan dehidrasi. Beruntung calon bayi yang istri anda kandung baik-baik saja !” ucap dokter itu panjang lebar.
Kevin diam mematung dihadapan dokter tersebut, bahkan dokter itu pamit dari hadapan Kevin pun ia belum tersadar sama sekali. Dalam pikirannya adalah “Renata mengandung, calon bayi”.
Begitu Kevin tersadar ia kemudian masuk ke dalam ruang perawatan Renata, di lihatnya Renata sedang tertidur. Ia mendudukkan diri di kursi samping ranjang Renata.
Kemudian tangannya tiba-tiba terulur mengelus perut Renata yang memang terasa mulai membuncit sedikit. Kevin kemudian tersenyum, ia tak menyangka jika Renata tengah mengandung padahal jika dipikir ia hanya sekali menyentuh Renata.
Rasa bersalah mulai menghantui Kevin kala tadi siang dirinya berbicara kasar pada Renata. Ia benar-benar tidak tahu jika permintaan Renata tadi siang, bisa saja itu adalah permintaan dari calon anaknya.
“Maafkan Daddy, Boy..” ucap Kevin mengelus perut Renata mengajak calon bayinya berbicara dengan menyebutnya “boy” padahal belum tentu calon bayinya itu berjenis kelamin laki-laki.