
"Daddy... Aku mau ikut !" rengek Amara pada Agam karena ia ingin ikut dengan Agam ke kantor.
"Daddy hari ini ada meeting, sayang. Besok saja okey.. Daddy akan mengajak Amara ke kebun binatang. " Bujuk Agam pada Amara agar mengerti dant idak ikut dengannya ke kantor hari ini.
"No! Aku tidak mau ke kebun binatang! Aku ingin ikut dengan Daddy!" Tolak Amara dengan menampakkan wajah cemberutnya.
"Amara... " Lirih Agam menatap Amara yang sudah cemberut kepadanya.
"Daddy tidak sayang Amara!" Gadis kecil itu kemudian meninggalkan kamar Agam sembari menangis menuju kamarnya sendiri.
Agam mengusap kasar wajahnya, ia benar-benar bingung jika Amara sudah merajuk padanya, karena putrinya itu jika sudah merajuk bisa mendiamkannya berhari-hari bahkan tidak mau bertegur sapa dengannya.
Agam pun menyambar jasnya dan memakainya kemudian menyusul Amara di kamarnya. Ia masuk ke dalam kamar Amara dilihatnya putri kecilnya itu sedang duduk diatas ranjangnya dengan memeluk boneka kesayangannya.
Hiks
Hiks
Hiks
Amara menangis jujur saja gadis kecil itu sebenarnya merasa kesepian, Agam yang sibuk bekerja dan ia hanya bersama Kaylin dan Josephine. Selama ini Amara banyak menghabiskan waktunya bersama pengasuhnya. Kaylin selalu pergi menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri, sedangkan Josephine ia masih aktif dan sibuk dengan yayasan yang ia kelola selama ini sebagai kesibukannya setelah tidak lagi memimpin perusahaan.
Amara adalah anak yang kurang akan kasih sayang kedua orang tuanya, bahkan ia pernah merasa iri dengan sepupunya yang memiliki kedua orang tua yang lengkap selalu memiliki waktu untuk bersama.
Sebenarnya Amara bisa saja bersama kedua orang tua Sarah, tapi kedua orang tua Sarah sudah memutuskan untuk tinggal di Jepang dan meninggalkan Indonesia.
"Maaf kan Daddy... " Agam memeluk putri semata wayang nya itu ia pun merasa bersalah, seharusnya ia memiliki waktu untuk Amara lagi pula anak seumuran Amara memang sedang fase senang bermain bersama kedua orang tuanya.
Namun apalah daya, Amara tidak berada di dalam sebuah keluarga yang lengkap dan mendapatkan kasih sayang kedua orang tua yang utuh. Sehingga kerap kali Amara sering bersikap manja dan semaunya jika keinginannya tidak dituruti oleh Agam dan juga kedua orang tua Agam.
"Ayo ganti pakaian, ikut Daddy ke kantor. " Bujuk Agam pada Amara, mau tidak mau Agam pun mengajak Amara ikut ke kantornya hari ini.
"Benarkah? " Mata Amara berbinar saat Agam mengajak ikut dengannya. Ia pun bersorak gembira dan kemudian memeluk Agam serta mencium pipi Agam.
Sedangkan Agam hanya tersenyum pada Amara dan mengelus pucuk kepala putrinya itu dengan lembut.
...****************...
Agam tiba di kantornya dan memasuki lobby kantor bersama Amara. Pria berstatus Duda beranak satu itu benar-benar selalu mempesona sehingga kaum hawa yang melihatnya sangat kagum pada Agam. Bahkan ada yang berandai-andai menjadi istrinya.
Agam membawa Amara masuk ke dalam ruang kerjanya, dan mendudukkan Amara di sofa. "Amara jangan nakal dan tetap disini, oke! " Pinta Agam kemudian dibalas sebuah anggukkan kepala oleh Amara. Sedangkan Agam menuju kursi kerjanya dan membuka laptopnya.
Tiba-tiba Nathan masuk ke dalam ruangan Agam dengan membawa beberapa berkas ditangannya untuk ditanda tangani oleh Agam.
"Haa... Kuda poni ku! " Suara Amara membuat Nathan kaget karena Nathan sebenarnya sangat tidak ingin bertemu dengan Amara, karena Amara selalu menjadikannya kuda selama berjam-jam.
"Selamat pagi Nona Muda. " Sapa Nathan dengan senyuman dibibirnya senyuman itu sebenarnya adalah senyum terpaksa yang ia berikan.
"Daddy, aku ingin bermain kuda dengan kuda poni ku! " Pinta Amara menunjuk Nathan sedangkan Nathan sudah menelan kasar ludahnya setelah mendengar ucapan Amara pada Agam.
"Nathan." Ucap Agam menoleh pada Nathan.
"Tuan.. " Lirih Nathan.
"Please." Ucap Agam dengan lirihan juga.
"Tapi Tuan.... " Ucapan Nathan terpotong saat Agam melanjutkan ucapannya.
"Ku transfer kau uang 100 juta sekarang juga!" Ucap Agam dengan cepat.
Nathan membulatkan kedua matanya uang 100 juta, yang benar saja siapa yang tidak mau menerima uang sebanyak itu. Sebab Nathan sebenarnya juga sedang memerlukan uang. Ia pun mengangguk setuju kemudian mendekat ke arah Amara dan mengajak Amara untuk bermain kuda.
...****************...