MARRY ME AGAIN

MARRY ME AGAIN
MENANTU YANG TAK DIANGGAP


Beberapa hari Kyara dan Agam kembali ke tanah air. Hari ini Agam dan Kyara sudah bersiap untuk menuju mansions Josephine bertemu dengan Josephine dan Kaylin.


Setelah melewati perjalanan yang begitu panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Agam tiba di mansions Josephine.


Agam menautkan tangannya pada Kyara masuk ke dalam mansions dan menuju ruang keluarga dimana kedua orang tuanya pasti ada disana.


Saat Agam dan Kyara berada di ruang keluarga, Agam menyunggingkan senyuman di bibirnya kala melihat Papanya, Josephine. Tengah bersama dengan Mamanya, Kaylin.


“Papa…Mama..” ucap Agam yang kemudian Josephine dan Kaylin menoleh ke arah Agam.


“Agam !” ucap Kaylin antusias. Ia tak menyangka jika putranya datang ke mansions setelah kurang lebih dua bulan Agam tak pernah mengunjunginya.


Kaylin memeluk Agam, karena begitu merindukan putra semata wayangnya tersebut.


“Mama juga harus memeluk Kyara !” ucap Agam merangkul pundak Kyara.


“Apa kabar, Ma ?” sapa Kyara dengan lembut. Jujur saja ia ingin sekali memeluk Ibu mertuanya tersebut namun, ia tak seberani itu sebab takut jika Kaylin menolaknya.


“Untuk apa kau membawa wanita ini kemari, Agam ?” ucap Kaylin menatap tak suka pada Kyara yang datang ke mansionsnya.


Kaylin sebenarnya terpaksa menerima Kyara menjadi menantunya, karena sebuah alasan tak ingin membuat nama keluarganya malu jika Agam gagal menikah.


“Ma, bersikaplah baik pada Kyara, dia istriku !” pinta Agam memberikan pengertian pada Kaylin.


“Untuk apa Mama harus bersikap baik dengan dia, Agam ? lagi pula Mama tidak mengenal dia, bukan !” Kyalin membalikkan tubuhnya dan kembali ke tempat duduknya.


“Mama !” ucap Agam dengan suara agak meninggi, karena merasa jengkel dengan sikapnya pada Kyara.


Kyara menahan tangan Agam agar tidak emosi menghadapi Mama nya, sebab bagaimana pun dia adalah Ibu yang sudah melahirkan Agam ke dunia. “Agam, bersabarlah !” Kyara berkata lirih agar bisa meredamkan emosi Agam saat ini pada Mama nya.


“Seperti yang Papa lihat !” balas Agam. Agam pun mengajak duduk Kyara duduk bersama. Jangan tanyakan bagaimana sikap Kaylin, ia begitu risih dengan kehadiran Kyara.


“Kau membuat perusahaan keluarga kita semakin sukses, Agam. Papa bangga padamu !” puji Josephine pada Agam, karena merasa puas dengan apa yang dilakukan oleh Agam pada perusahaan yang diwariskannya pada Agam.


“Aku hanya membuktikan jika aku mampu, Pa !” balas Agam apa adaya.


Josephine menganggukkan kepalanya, ia begitu bangga pada putranya. “Lihat putramu, dia bahkan mampu membuat perusahaan kita menjadi nomor satu di Negara ini. Apakah kau masih tak mengizinkan putramu memilih kebahagiaannya sendiri ?” ucap Josephine pada Kaylin.


“Mama masih tidak suka dan tidak akan menerima menantu yang tidak jelas asal usulnya !” ucap Kaylin kemudian berdiri dari duduknya dan menatap tajam Kyara yang menatapnya dengan raut wajah yang sendu.


“Mama !” protes Agam, karena tak terima jika Kaylin menghina Kyara.


Kyara memegangi ujung pakaian yang ia kenakan, beginikah rasanya tak dianggap oleh Ibu mertua sendiri, sakit hati tentu saja !


“Sudahlah, Agam sudah memilih jalannya sendiri. Lagi pula selagi Agam bisa mempertahankan kepercayaan yang aku berikan padanya, bahkan dia bisa membuatku bangga dengan hasil kerja kerasnya mengembangkan perusahaan kita, apakah aku juga harus menghalangi kebahagiaannya ?” ucap Josephine memberikan nasihat pada Kaylin agar menerima keputusan Agam dan juga menerima Kyara sebagai menantunya.


“Tapi dia tidak selevel dengan keluarga kita, Pa ! Aku bahkan malu jika ditanya oleh teman-teman arisanku karena memiliki menantu yang tak jelas !” protes Kyalin ia merasa kesal karena menganggap Josephine tak membela dirinya.


“Mama ! Apa sebegitu pentingnya penilaian orang lain terhadap istriku ? Seharusnya Mama tidak perlu malu sebab dia adalah menantu Mama, istri dari putra Mama sendiri !” kali ini Agam benar-benar tak dapat menahan emosinya, sebab Kaylin yang memancing amarah di dalam dirinya.


Kyara menitihkan air matanya, rasanya ia sudah tak sanggup jika terus berlama-lama diantara kedua orang tua dan suaminya.


“Terserah, Mama tidak peduli !” Kaylin pergi meninggalkan ruang keluarga dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya karena kesal sekaligus kecewa tidak ada yang memihak dirinya.


Kyara…