MARRY ME AGAIN

MARRY ME AGAIN
SURAT


Agam masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang ia tempati bersama Kyara hampir enam bulan lamanya. Masih terdengar jelas ditelinganya bahkan belum sedikit pun hilang dari ingatannya, saat dimana ia dan Kyara di kamar itu.


Suara manja Kyara padanya, apalagi Agam yang selalu mengerjai Kyara hingga mereka tertawa lepas di kamar itu. Bayang-bayang aktivitas diantara dirinya dan Kyara terus datang dan seolah menghantui dirinya.


“Agam, aku lelah !”


“Agam, ayo bangun ! Dasar tukang tidur !”


“Agam, ayo masakan mie instan untukku !”


“Agam, peluk aku !”


“Agam..Agam…Agam !”


Agam meneteskan air matanya saat mengingat suara manja itu. Ia begitu menyesali perbuatannya, sungguh sama sekali ia tak membayangkan akan seperti ini akhir kehidupan rumah tangganya.


Terserah jika orang akan mengatakannya lemah dan cengeng hanya karena bercerai dengan istrinya. Ia tak peduli akan hal itu, terserah ! Karena Agam begitu sangat mencintai Kyara.


Agam kemudian menoleh ke arah meja rias milik Kyara ia kemudian berjalan dan duduk di kursi meja rias itu. Bahkan Kyara pergi tanpa membawa barang-barangnya. Semua perlengkapan kosmetik dan skincare Kyara bahkan tersusun rapi disana. Bahkan Kyara hanya membawa pakaiannya beberapa helai saja, masih banyak pakaian, tas dan sepatu milik Kyara yang ditinggalkan begitu saja.


Jangankan hal itu, bahkan Kyara menolak pemberian harta darinya. Padahal sejak Agam jatuh cinta pada Kyara, ia memberikan saham perusahaan sebesar 70% dan itu juga atas persetujuan kedua orang tuanya. Kedua orang tua nya pun setuju asalkan dirinya dan Kyara hidup bahagia.


Agam lalu melihat laci yang sedikit terbuka. Ia kemudian menarik laci itu ternyata ada sepucuk surat yang dituliskan Kyara untuknya.


“Untuk Suamiku, Agam Josephine


Disaat aku tengah terluka dengan kenyataan hidup ku dimana aku bukanlah anak kandung Papa ku dan di buang olehnya. Ternyata Tuhan menghadirkan kau dalam hidup ku, mengisi hari-hari ku dan melupakan kesedihan ku.


Kita memang di pertemukan secara kebetulan dan disatukan dengan cara yang salah. Karena dulu kau yang memaksa ku untuk menikah dengan mu. Tapi aku tidak menyesal ketika menjadi istrimu, meski awalnya kau tidak bersikap baik padaku, namun siapa sangka nyatanya aku mampu menjadi pawang ke aroganan dalam dirimu dan mengubah mu menjadi pria yang berhati lembut dan manis.


Haruskah aku merasa bangga pada diriku, Agam ? Namun ternyata kebahagiaan yang ku rasakan hanyalah sementara.


Aku sakit dan terluka karena kau telah menghianati ku. Aku tahu semua yang terjadi bukan karena niat mu. Tapi aku tak sekuat itu untuk terus menerima kenyataan jika harus berbagi suami dengan wanita lain.


Agam, maaf kan aku yang menyerah. Aku sangat mencintai mu, namun untuk terus bersama bukan kah itu terasa menyakitkan.


Aku berdoa semoga kau selalu bahagia, apalagi kau akan segera memiliki anak. Sayangi anak mu seperti kau menyayangiku dan mencintaiku, ini permintaan ku yang terakhir padamu.


Jangan pernah menangis, karena kau sangat jelek ketika menangis !


Kyara.


Agam menangis tergugu ia memeluk erat surat yang telah ia baca dari Kyara. Ia begitu rapuh setelah perpisahaannya bersama Kyara. Apa yang harus ia lakukan sekarang ? Ia bahkan tak tahu harus memulai hidupnya yang baru seperti apa tanpa Kyara.


Agam terus menangis, hingga sesuatu menyadarkan dirinya dari tangisnya, suara wanita yang telah membuat kehancuran dalam rumah tangga nya.


Agam….