
Kate melemparkan paper bag berisikan tas bermerek yang baru saja ia beli di Mall, moodnya tiba-tiba saja berubah setelah bertikai dengan Kaylin. Kate begitu kesal karena Kaylin menyumpahi dirinya tidak akan punya cucu.
“Dasar wanita tua menyebalkan ! Pasti menantunya begitu tertekan punya mertua sepertinya !” omel Kate seorang diri dan itu membuat Morgan menggelengkan kapalanya melihat kelakuan istrinya yang baru saja pulang berbelanja bukannya merasa senang dan bahagia, tapi malah sebaliknya.
“Ada apa, hem ?” Morgan mendekati Kate dan hendak memeluknya, namun Kate dengan cepat membalikkan tubuhnya menghadap Morgan.
“Aku kesal sekali ! Ada orang menyumpahi aku tidak punya cucu ! Andai saja ini di Jerman akan ku bawa dia ke ruang pribadi mu dan memuntilasinya !” sunggut Kate pada Morgan.
“Siapa dia ?” tanya morgan lagi. Karena Morgan pun tak tahu cerita dan kejadian yang menimpa istrinya hari ini.
“Entah lah, aku tidak tahu. Sepertinya dia bukan wanita sembarangan karena aku tahu benar apa yang ia kenakan semuanya serba bermerek.” Jawab Kate kemudian ia mendudukkan dirinya di kursi sofa.
“Bagaima aku bisa memberikannya hukuman jika kau saja tidak tahu siapa orang yang telah membuat mu semarah ini.” Morgan membelai wajah cantik Kate, meski Kate sudah berusia lima puluh tahun namun Kate selalu menjaga dirinya dan merawat tubuhnya agar selalu kencang dan awet muda.
Kate hanya bisa berdecak sebal namun sedetik kemudian dirinya merasa seperti terbang melayang saat Morgan menyentuh area sensitive miliknya.
“Uuhh…” lengguh Kate saat jemari Morgan bergerak kesana kemari menyentuh tubuhnya.
“Mari luapkan ke kesalahanmu, baby.” Bisik Morgan saat ini dia dalam mode ingin.
Morgan membuka pakaian Kate hingga polos tanpa sehelai benang. Jangan ragukan bagaimana seorang Kate De Costa, meski ia sudah paruh baya ia masih terlihat muda seperti usia dua puluh tahunan.
Dan jangan juga ragukan bagaimana kemampuan seorang Morgan, ia masih perkasa diusia yang hampir mendekati angka 60 tahun. Wajah tampan, tubuh atletis dan sehat itu tentu saja Morgan begitu menjaganya, maka tak heran jika kaum hawa masih mendambakan dirinya.
“Aaaaahhhh…”
“Ahh…faster…”
“Aahh…”
Skip
... ……....
“Diana, rambut ku berantakan !” ucap Kyara tak terima saat Diana memukulinya dengan bantal sofa dan membuat tatanan rambutnya acak-acakan.
Namun sedetik kemudian Diana menangis dan memeluk Kyara dengan erat. “Huaaa…aku merindukan mu.”
“Aku juga..” Kyara pun ikut menangis, kedua sahabat itu mengharu biru saat mereka melepaskan kerinduan.
Setelah mereka puas menangis beberapa saat kemudian barulah ke duanya bisa berbicara dengan santainya.
“Jadi kau sudah bertemu Ayah kandung mu ?” tanya Diana menyesap minuman bersoda di tangannya.
“Aku akan mengajakmu bertemu mereka.” Jawab Kyara tersenyum manis pada Diana, karena Kyara ingin sekali Diana tahu siapa orang tuanya.
“Apa Papa Arsen mengetahuinya juga ?” tanya Diana pelan, karena Diana pikir tidak mungkin Arsen tidak mengetahui siapa Ayah kandung Kyara.
Kyara menghembuskan nafasnya saat dan mengingat bagaimana Morgan bertemu dengan Arsen lima tahun lalu, terjadi pekelahian diantara keduanya namun pada akhirnya mereka berdamai karena Kate dan Miranda yang memisahkan mereka.
Kedua pria itu tentu saja berhasil dipisahkan oleh wanita yang mereka cintai. Karena benar jantan yang mengamuk hanya bisa luluh dengan betina yang berhati lemah lembut. Sebab karena cinta, hati yang beku bisa mencair.
“Jadi kau kau sekarang adalah seorang…jaksa ?” Kyara mengalihkan pembicaraan lain saat tahu jika sahabatnya itu telah menjadi Jaksa diusia muda.
Diana hanya tersenyum menanggapi itu, banyak yang berubah saat Kyara pergi terlebih pada dirinya. Ia meneruskan pendidikannya dan bekerja sebagai seorang jaksa.
“Ku pikir kau lebih suka menjadi seorang panesehat hukum diperusahaan tempat mu bekerja dulu, Ah…kau memang hidup penuh dengan kejutan, Diana !”
Diana terkekeh mendengar ucapan yang lontarkan Kyara padanya. Ia pun juga tak menyangka jika menjadi seorang jaksa seperti sekarang.
“Lalu kau sendiri, apakah kau bahagia setelah bercerai dengan Agam ?” Diana mengatakan itu dan mambuat Kyara menoleh padanya saat mendengar nama Agam.
“Agam.” Ucap Kyara dalam hati.
...****************...