
Setelah acara pernikahan itu selesai. Agam hendak kembali ke apartemen dimana pasti Kyara pasti merasakan hancur sedemikian rupa saat ia telah menikah dengan Sarah.
Melihat Agam yang hendak pergi meninggalka dirinya. Ia pun menahan Agam untuk tidak pergi. Tentu saja Agam bersikeras pergi dari hadapan Sarah.
“Agam kau kemana ?” ucap Sarah tak terima saat Agam ingin meninggalkannya dimalam pertama mereka.
“Apa pedulimu, ingat aku hanya menikahi mu sebatas tanggung jawab semata. Karena kau tengah mengandung anakku ! Jadi pahami batasanmu !” balas Agam dengan suara beratnya dengan memberikan tatapan tajam nan membunuh.
“Kau keterlaluan Agam ! Agam !” teriak Sarah saat Agam meninggalkan dirinya seorang diri di kamarnya.
Agam mengemudikan mobilnya secepat mungkin menuju apartemennya. Begitu ia sampai diapartemen, ia langsung membuka pintu dan mencari keberadaan Kyara.
Samar-samar ia mendengar suara di dapur ia menuju ke arah sana. Di lihatnya Kyara tengah memasak seorang diri. Ia tahu apa yang dimasak oleh Kyara, itu adalah makanan favorit Agam.
Hati Agam teriris sembilu, ia tahu pasti Kyara begitu kecewa dan terluka. Ingin sekali ia memeluk tubuh Kyara, ia tahu bahu itu tengah bergetar karena menangis. Ia tahu Kyara pasti menangis karena dirinya yang sudah menikah lagi.
Hingga suara tangis itu Agam dengar ditelinganya. Ya, Kyara tak sanggup lagi untuk membendung air matanya. Ia menangis sembari memasak membelakangi Agam, karena ia tak tahu jika Agam sudah berdiri dibelakang dirinya.
“Sayang…” panggil Agam dengan nada lirih. Matanya berkaca-kaca saat mengatakan itu.
Kyara membalikkan tubuhnya, mata mereka saling bersibobrok dengan air mata. Bahkan di lihatnya suaminya itu masih mengenakan setelan jas pernikahannya bersama Sarah. Secepat kilat Agam mendekat ke arah Kyara dan memeluk istrinya itu dengan erat.
Setelah beberapa menit mereka berpelukan. Agam melepaskan pelukannya saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Kyara yang mampu membuat dunianya terhenti.
Sekuat apapun Kyara melihat suaminya menikah lagi. Nyatanya dirinya tak sekuat itu saat akan melihat bagaimana kehidupan rumah tangganya bersama Sarah. Ia tak sekuat itu jika hidup dimadu.
“Wanita manapun tak akan sanggup jika hidup dimadu oleh suaminya.”
Ia tak bisa menyaksikan dan merasakan bagaimana keseharian hidupnya berdampingan dengan Sarah sebagai istri kedua. Meski ia tahu cinta Agam tidak akan pernah berpaling untuknya. Tapi tetap saja, Sarah juga memiliki hak yang sama sebagai seorang istri.
“Apa yang kau katakan, Kyara !” bentak Agam ia tak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Kyara barusan. Cerai ? yang benar saja !
Ia sudah menuruti apa yang Kyara minta dengan menikahi Sarah. Lantas mengapa Kyara meminta hal yang lebih besar lagi. Tak cukup kah satu permintaan saja diajukan untuknya ?
Nafas Agam memburu ia begitu kesal dan ingin marah. Menganggap Kyara seolah mempermainkan perasaannya. Bukan ia tak menyadari jika Kyara telah terluka karena ia pun sama merasa terluka.
“Ayo kita bercerai, Agam. Aku tak sanggup jika melihatmu bersama Sarah esok hari dan seterusnya. Aku tak sanggup jika harus terluka setiap detiknya.” Ucap Kyara menangis tersendu-sendu dihadapan Agam.
“Tidak, aku tidak akan melakukan itu, aku tidak akan menceraikan mu, tidak akan pernah !” bantah Agam ia tetap dengan pendiriannya untuk tidak akan melepaskan Kyara bagaimana pun.
“Ceraikan aku jika kau memang mencintaiku !”
Deg