
Lain halnya dengan Kaylin dan Josephine.
Josephine tengah membujuk Kyalin untuk menerima Kyara sebagai menantu mereka. Lagi pula Josephine sudah tua dan ingin hidup tenang menikmati masa tuanya.
“Papa keterlaluan, bisa-bisanya Papa membela dan mendukung Agam !” protes Kyalin.
“Aku sudah tua, aku ingin menikmati masa tua ku dengan tenang. Lagi pula Kyara itu anak yang baik, sudahlah terima saja Kyara sebagai menantumu !” ucap Josephine memberikan nasehat pada Kaylin.
“Aku tidak sudi memiliki menantu yang tidak jelas asal usulnya ! Kita bahkan tidak tahu siapa Ayah kandungnya, dia itu anak dari hasil perselingkuhan ! Apa yang harus ku banggakan darinya ? Putraku menikah dengan anak haram, yang benar saja !”
Kyalin mengomel panjang lebar, namun bukan malah mendapatkan jawaban baik dari Josephine, Kaylin malah mendapatkan kemarahan dari suaminya itu.
“Kaylin !” ucap Josephine dengan suara meninggi dan itu membuat Kaylin menjadi takut.
“Tidak ada anak yang dilahirkan haram, semua anak itu suci ! Yang haram itu perbuatan kedua orang tuanya ! Apa kau tidak lelah mengatur-atur hidup putramu ! Cukup sekali aku menuruti ucapanmu untuk memisahkan Agam dengan Syeira dulu, aku tak ingin ada Syeira yang lain dalam cerita hidup Agam !” bentak Josephine ia benar-benar muak dengan sikap Kyalin yang selalu ingin di turuti jika menyangkut tentang pasangan hidup Agam.
“Kenapa Papa membahas anak pembantu itu ? Dia memang tidak pantas untuk masuk dan berada di keluarga kita, karena dia hanyalah anak pembantu !” bantah Kyalin karena merasa benar dulu pernah memisahkan Agam dengan Syeira.
Josephine menarik sudut bibirnya, ia jadi teringat bagaimana kehidupan Kaylin dulu sebelum menikah dengannya. Perusahaan Ayah Kaylin bangkrut dan Kaylin harus bekerja sebagai seorang pelayan restoran.
Josephine tidak habis pikir, Kaylin masih saja menilai seseorang dari status sosialnya. Ia tak berkaca pada dirinya jika dia pernah hidup susah, sebelum kembali hidup mewah setelah menikah dengannya.
“Kau tidak berkaca pada dirimu !” ucap Josephine dengan nada beratnya, ia kemudian meninggalkan Kyalin yang diam mematung setelah Josephine mengucapkan kalimat tersebut padanya.
Kyara menggeliat dari tidurnya kemudian membuka kedua matanya. Di lihatnya Agam disisinya namun tak ia dapatkan. Ia bengun dari tempat tidur dan membersihkan tempat tidur serta mengganti sprei.
Setelah membereskan kamar, ia un beranjak ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Kemudian ia menuju lantai bawah dimana pasti suaminya itu tengah berada disana.
Apalagi Kyara mencium aroma masakan di dapur, ia tahu pasti Agam tengah memasak sarapan.
Ya, semenjak Agam jatuh cinta pada Kyara dirinya berubah 180 derajat. Agam begitu perhatian pada Kyara, bahkan ia tak memperbolehkan Kyara untuk memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah kecuali kamar mereka, Kyara yang terus memaksa untuk membersihkannya seorang diri tanpa bantuan seorang pelayan.
“Selamat pagi, cinta !” Kyara mencium pipi Agam saat Agam tengah memasak.
“Selamat pagi sayangku !” Agam pun balik mencium pipi Kyara dan melanjutkan lagi aksi memasaknya.
“Ini hari libur, bagaimana jika kita pergi ke pantai ?” tawar Agam pada Kyara yang sedang meminum jus jeruk yang dibuatnya.
“Baiklah.” Jawab Kyara setelah meminum jus jeruknya separuh gelas.
Agam mematikan kompor dan melihat bibir Kyara yang terdapat sisa air jus jeruk disana. Agam menahan tangan Kyara saat Kyara hendak membersihkan bibirnya dengan tisu, ia dengan cepat menautkan bibir mereka seolah Agam membersihkan bibir Kyara lewat bibirnya.
Agam…