
Kyara pulang ke rumah kontrakannya, Diana sampai terkejut kala sahabatnya itu kembali ke rumah mereka.
“Apa suami mu tahu kau disini ?” Tanya Diana saat melihat Kyara sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Untuk apa diberi tahu !” lirih Kyara ia memejamkan matanya, namun sedetik kemudian Kyara terbangun dari rebahan nya kala ponselnya berbunyi.
Kyara mengangkat telpon Agam sudah dipastikan suami nya tersebut bertanya-tanya dimana dirinya karena Agam menyuruh pengawalnya menjemput dirinya di sekolah, namun tak menemukan Kyara di sana.
“Tentu saja aku di rumahku !” balas Kyara mendengus kesal.
Agam pun memerintahkan pengawalnya untuk menjemput Kyara dan membawa Kyara ke apartemen yang telah Agam beli beberapa waktu lalu. Agam berpikir mungkin untuk sementara dirinya dan Kyara akan tinggal di sebuah apartemen saja.
Beberapa saat kemudian Kyara dijemput oleh pengawal pribadi Agam. Kyara bahkan membawa beberapa pakaiannya di dalam koper. Sebelum ia pergi meninggalkan rumah kontrakan yang ia tempati bersama Diana, dia memeluk Diana. Rasanya begitu sedih kala harus berpisah tempat tinggal bersama sahabat yang selalu ada untuknya dalam suka mau pun duka.
“Rumah ini akan selalu terbuka untukmu, kau adalah sahabatku yang sudah ku anggap layaknya saudariku sendiri, Kyara.” Ucap Diana, mereka sama-sama menangis karena harus berpisah.
“Aku tidak akan melupakan kebaikanmu dan kebersamaan kita, Diana. Aku pamit, aku akan memberitahu dimana aku tinggal nanti.” Kyara mengeratkan pelukannya pada Diana.
Beberapa jam kemudian Kyara berdiri di depan pintu apartement, ia membuka pintu tersebut dan masuk ke dalamnya dan di lihatnya apartemen tersebut tampak sepi karena tidak ada siapapun di dalamnya kecuali dirinya.
Apartemen yang dibeli oleh Agam adalah sebuah apartemen penthouse yang lengkap dan mewah. Kyara mendudukkan dirinya di kursi sofa ruang tamu, tiba-tiba terdengar derap langkah seseorang masuk ke dalam apartemen dan ternyata itu adalah Agam.
“Selama kita menikah kita akan tinggal disini !” ucap Agam dengan tegas.
“Apa yang kau inginkan ?” Agam mengangkat satu alisnya, ketika Kyara memberikan permintaan padanya.
“Aku ingin kita tidur terpisah !” ucap Kyara, dan itu membuat Agam tersenyum sinis.
“Baiklah” Agam menjawab dengan santainya ia kemudian berjalan menaiki tangga dimana kamarnya berada meninggalkan Kyara yang masih diam ditempatnya.
Kyara menghembuskan pelan nafasnya dalam pikirannya kini ia tak sabar menanti waktu selama enam bulan, karena setelahnya ia dan Agam akan bercerai.
Malam harinya Kyara terbangun dari tidurnya ia benar-benar merasa lapar, ia menuju dapur dan mencari makanan yang dapat mengisi perutnya namun sayangnya tidak ada makanan yang dapat ia makan.
Kyara mendengus kesal lantaran tidak menemukan makanan sama sekali sedangkan cacing diperutnya sudah meronta-ronta bahkan mungkin tengah mengadakan sebuah orchestra.
Kyara kemudian mencari ponselnya dan memesan makanan melalui aplikasi, tak berselang lama pesanannya sampai. Ia meletakkan makanan yang ia beli di atas meja, banyak sekali makanan yang Kyara beli karena merasa lapar ia sampai lupa diri memesan makanan tidak sesuai porsi yang biasa ia makan.
Saat Kyara tengah asyik memakan makanannya, Agam menuruni anak tangga dan mendekati Kyara kemudian duduk di sebelah Kyara.
“Kau lapar ?”
“Tidak, aku tidak lapar !” jawab Kyara dengan sengit, pertanyaan bodoh macam apa yang disampaikan oleh suaminya itu pikirnya, sudah tahu ia sedang makan itu artinya ia tengah lapar.
Agam…