
“Kau sudah datang ?” Agam mengisi air minum di dalam gelasnya tanpa melihat siapa yang masuk ke dalam kamar pribadinya.
Seketika Kyara menoleh ke sumber suara ia terpekik kaget kala melihat tampilan Agam yang hanya bertelanjang dada dan menggunakan celana bokser nya.
“Aaaa.” Kyara refleks menutup matanya dan menjatuhkan paper bag berisi pakaian Agam dari tangannya. Karena telah melihat tubuh Agam setengah polos yang berbalut celana bokser saja, sebab baginya ini adalah kali pertama ia melihat lelaki dalam tampilan semacam itu.
Agam juga seketika menyemburkan air di dalam mulutnya begitu tahu siapa yang masuk ke dalam kamarnya, bukanlah Nathan melainkan Kyara.
“Apa yang kau lakukan di sini !” bentak Agam yang tak suka jika kamar pribadinya di ketahui oleh orang lain kerena baginya hanya asissten pribadinya yang setia, Nathan yang tahu keberadaan kamar pribadinya itu.
Kyara masih menutup matanya dengan kedua tangannya karena tak berani membuka matanya dan menyaksikan kembali tubuh setengah polos milik Agam. “Sa..saya mengantarkan pakaian anda, Tuan.” Balas Kyara dengan terbata-bata.
Melihat Kyara yang masih menutup matanya Agam menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, ia berpikir apakah Kyara begitu polos hingga tak mau melihat penampilan dirinya yang sedang setengah polos.
“Dimana Nathan ?” ucap Agam dengan santainya namun masih dalam mode manusia kulkas dua pintu. Agam mendekat ke arah Kyara secara perlahan rasanya ingin sekali ia mengerjai sekretaris pribadinya itu.
“Di…dia sedang pergi ke toilet, tuan !” jawab Kyara takut.
“Aku tidak suka berbicara dengan orang yang tidak menatap wajahku !” Agam mengatakan itu dengan suara beratnya.
Kyara menelan kasar silvanya kala mengerti ia harus membuka matanya dan melihat Agam. Tapi ia sendiri tidak seberani itu melihat tampilan Agam yang sedang seperti itu.
“Berani sekali kau !” bentak Agam yang membuat Kyara terkejut namun tak mengindahkan tangannya untuk membuka matanya.
Agam kemudian dengan paksa menarik tangan Kyara hingga terjadilah aksi pemaksaan dan pertahanan diantara Agam dan Kyara. “Lepaskan tanganmu !”
“Tidak mau !” Kyara bersikeras mempertahankan dirinya, kali ini ia benar-benar harus ekstra sabar menghadapi Bos nya yang ini semaunya.
“Lepaskan atau kau ku pecat !” ancam Agam yang membuat Kyara kemudian dengan terpaksa menurunkan tangannya dan menatap Bos nya yang ternyata sudah berada tepat di hadapannya dengan jarak wajah diantara keduanya yang mungkin hanya berjarak lima senti.
Deg
Mereka saling menatap satu sama lain, jantung diantara keduanya berdetak dua kali lipat. Entah apa yang dirasakan oleh Kyara dan Agam mereka seolah merasakan hal yang sulit di definisikan.
Agam yang tak ingin terlalu larut dengan sebuah perasaan yang aneh dengan Kyara, ia lantas mengusir Kyara keluar dari kamarnya dengan mendorong tubuh Kyara. “Pergilah selesaikan pekerjaanmu yang lain.” Agam kemudian menekan tombol dan seketika pintu rahasia kamar pribadi Agam tertutup meninggalkan Kyara yang diam terpaku.
“Aku kenapa ?” ucap Kyara kemudian tersadar setelah menatap wajah Agam.
Lain halnya dengan Agam, pria itu merasa aneh dengan dirinya setelah menatap manik mata Kyara.
“Ada apa denganku ?” Agam mengusap kasar wajahnya, ia berpikir lama-lama ia bisa menjadi gila karena Kyara.