
Kyara mengerjapkan kedua matanya kepalanya terasa berdenyar-denyar, baru ia sadari jika kepalanya terluka dan mengingat insiden dimana dirinya memukul orang-orang yang mencelakai Rain dan ia sendiri terkena pukulan dikepalanya.
Kyara melihat sekeliling dimana ia berada, sebuah kamar tanpa ada siapapun selain dirinya. Kyara mencoba turun dari atas ranjang dan menuju pintu keluar. Saat ia hendak menuju pintu, tiba-tiba masuk tiga orang pria berbadan kekar dan membawanya secara paksa keluar dari kamar.
“Siapa kalian ?! Mau apa kalian ?!” teriak Kyara ia kemudian dibawa paksa oleh dua orang pria berbadan kekar itu, Kyara meronta namun ia tak berdaya. Kekuatan tubuhnya tak sebanding dengan dua orang yang membawanya, apalagi kepalanya terasa begitu sakit setelah di pukul.
“Lepaskan aku ! Lepaskan !” Kyara dibawa menuju ruang bawah tanah dimana terdapat ruangan rahasia dimana disana sudah ada pria yang ia kenal, yaitu kakaknya yang sudah besimbah darah.
“Kak Rain !” Kyara berteriak dan berlari mendekati Rain dan membawa Rain ke dalam pangkuannya. Kyara menangis pilu saat melihat Kakaknya sudah tak sadarkan diri.
“Bangunlah, ku mohon ! Hiks..hiks..Kak Rain bangun !” Air mata Kyara terus menetes dan ia berusaha membangunkan Rain.
Justin tertawa lepas saat melihat bagaimana adegan mellow kakak beradik di hadapannya tersebut.
“Hahaha….lihat.. kali ini aku bahkan bertemu langsung dengan putri kandung Morgan De Cocta !” ucap Justin dengan seringai diwajahnya.
“Kau apakan Kakak ku ! Kau tega sekali ! Apa yang kau ingin kan, hah ?” teriak Kyara dengan kilatan amarah dan emosi dalam dirinya pada Justin.
“Lepaskan aku !” teriak Kyara saat tubuhnya dengan paksa di dirikan oleh dua anak buah Justin dan didudukkan di kursi kayu serta di ikat dengan erat.
“Shut…” Justin mengarahkan jari telunjuknya ke bibir Kyara agar Kyara berhenti berteriak.
Kyara menggerakkan wajahnya agar tangan Justin tak menempel di bibirnya karena ia merasa jijik dengan Justin.
“Jika sebuah tangisan dibalas dengan tangisan maka nyawa pun juga harus dibalas dengan nyawa, nona Kyara De Costa !” Justin berbicara pelan ia menghisap rokok dimulutnya dan mengeluarkan asapnya tepat diwajah Kyara hingga Kyara terbatuk-batuk.
“Diam dan jangan menangis !” bentak Justin hingga Kyara terkejut dan terdiam.
“hik..hiks..”
Kemudian datanglah satu anak buah Justin mengeluarkan map ditangannya dan menyerahkannya pada Justin. Justin kemudian melepaskan satu ikatan ditangan Kyara dan memaksa Kyara untuk menandatangani berkas di dalam map tersebut.
“Tanda tangani, cepat !” teriak Justin memaksa Kyara untuk bertanda tangan.
Kyara menggelengkan kepalanya ia mengepalkan tangannya agar Justin tak bisa memaksanya. “Tidak…tidak..!” tolak Kyara dengan berderai air mata.
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi Kyara hingga wajahnya menoleh ke arah lain. Justin menampar Kyara tanpa merasa kasihan sedikit pun Kyara. Karena ia tak sabar pada Kyara dan kesal sebab Kyara terus saja memberontak.
Pipi Kyara memanas dan memerah bahkan sudut bibirnya mengelurkan darah setelah ditampar oleh Justin. Mata Kyara membulat sempurna saat sudut kepalanya merasakan benda tumpul yang ternyata itu adalah pistol yang diarahkan oleh Justin dikepalanya.
Pistol dengan satu kali tarikan yang bisa meledakkan kepalanya kapan saja.
Kyara….
...****************...