
Kyara menata sarapan pagi di atas meja makan, ini adalah hari ke dua dirinya menjadi seorang istri Agam Josephine. Meskipun mereka menikah bukan berlandaskan rasa cinta, bukankah pernikahan mereka sah di mata hukum dan agama ? Kyara hanya mencoba menjalankan kewajibannya sebagai istri Agam, paling tidak untuk urusan makan suaminya, lagi pula Agam memberikan nafkah padanya, tidak ada salahnya jika ia hanya sekadar memasak untuk Agam, pikirnya.
Kyara melihat jam dipergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, namun belum ada tanda-tanda Agam akan turun dari kamarnya di lantai atas.
Kyara kemudian masuk ke dalam kamarnya guna merapikan dirinya, karena ia pun harus berangkat ke sekolah sebab ada jam mengajar pada pukul delapan pagi.
Agam menuruni anak tangga, matanya menyipit kala ia mendekat ke arah meja makan yang ternyata telah tertata rapi sebuah sarapan pagi. Ia berpikir, apakah yang memasak sarapan pagi itu adalah Kyara ?
Tiba-tiba Kyara keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamar , dan itu membuat Agam membalikkan tubuhnya melihat Kyara yang sudah berpenampilan rapi hendak berangkat bekerja.
“Aku membuat sarapan, apa kau ingin…” ucapan Kyara terhenti kala Agam mendudukkan dirinya di kursi makan dan membuka piringnya.
“Aku akan memakannya !” balas Agam tanpa menoleh ke arah Kyara.
Kyara pun bergabung duduk disebelah Agam untuk sarapan bersama. Hening menyelimuti diantara keduanya, tidak ada percakapan sedikitpun hingga Agam selesai dengan makannya, ia pun berdiri dari duduknya.
“Aku selesai !” Agam berdiri dari duduknya, Kyara menatap suaminya itu dengan menganggukkan kepalanya.
“Aku akan pergi ke Thailand selama beberapa hari, aku yakin kau bisa menjaga dirimu !” Agam meninggalkan Kyara tanpa mendengarkan jawaban Kyara.
Kyara yang awalnya ingin menjawab pertanyaan Agam namun sayang pria yang menjadi suami nya itu seakan enggan untuk mendengar jawaban sepatah kata darinya.
“Semoga kau sampai dan pulang dalam keadaan selamat, Aamiin.” Ucap Kyara seorang diri.
Kyara berjalan menyusuri trotoar jalanan, hari sudah menunjukkan pukul dua siang. Setelah ia pulang mengajar, ia memutuskan untuk menemui anak-anak pengamen jalanan yang dulu sering ia kunjungi bersama Diana.
Entah mengapa ia merasa kesepian semenjak Mama nya telah tiada, apalagi Papa nya sudah tak mengakui lagi jika dirinya putrinya. Namun jangan ragukan kasih sayangnya pada Arsen, ia tetap menyayanginya sama seperti dulu dan menganggapnya tetaplah Papa nya.
Kyara bertemu dengan beberapa anak pengamen jalanan, mereka sangat gembira kala Kyara menghampiri dirinya apalagi Kyara mengajak mereka makan di restoran pizza yang ada di dekat lampu merah.
“Apa Kakak tengah gajian ?” Tanya salah satu anak pengamen jalanan pada Kyara sambil menggigit pizza yang ia makan, baginya itu adalah makanan enak yang tidak mungkin ia dapatkan dengan mengamen.
Kyara tersenyum kemudian terkekeh kala ditanya hal demikian dari salah satu anak pengamen jalanan tersebut, baginya berkumpul dengan mereka dapat menghilangkan kesepiannya sejenak dan menghibur diri.
“Kasih tahu tidak ya…” balas Kyara dengan terkekeh, dan para anak pengamen jalanan pun merasa penasaran dan memancing Kyara untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
Namun tiba-tiba salah satu diantara mereka menatap jari manis Kyara yang terdapat sebuah cincin. “Kak Kyara sudah menikah ?”
Kyara menoleh ke arah salah satu anak pengamen tersebut, dan ia hanya mampu terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan dari anak itu.
“Katanya jika wanita dewasa memakai cincin dijari manisnya sebelah kanan, itu artinya dia sudah menikah, jika Kak Kyara sudah menikah kami doakan semoga Kak Kyara bahagia bersama suami Kakak !” Seru anak tersebut dan anak-anak lainnya pun mengaminkannya.
“Aamiin.”