
“Bukankah dia lelaki yang pernah bersama dengan Kyara ?” Tanya Agam dalam hati saat ia tengah menghadiri pesta pernikahan bersama Sarah, calon istrinya. Tentu saja Sarah memaksa Agam untuk menemani dirinya karena Sarah sangat mengenal keluarga tuan Adam.
Namun bukan Agam namanya jika ia tidak bisa kabur dari Sarah. Saat Sarah lengah ia berbohong pergi ke toilet padahal ia meninggalkan Sarah seorang diri di lokasi pesta pernikahan tersebut.
Saat Agam hendak berjalan ke luar netranya menangkap sosok wanita yang sudah satu bulan ini tak ia temui, setelah merampok dirinya. Tangan Agam terkepal kuat dan ia tersenyum smirk kala menemukan rivalnya, rasanya ia ingin membalaskan dendam dengan Kyara yang telah berani mengusik dirinya.
Agam mengikuti kemana Kyara pergi ia bahkan menyaksikan sendiri bagaimana dengan santainya Kyara meminum minuman beralkohol sampai menghabiskan tiga botol. Agam sampai berpikir mungkinkah Kyara sedang merasa sakit hati karena kekasihnya menikah dengan wanita lain dan melampiaskan kemarahannya dengan minuman keras.
Agam kemudian berjalan mendekati Kyara bahkan mendudukkan diri di kursi sebelah Kyara. Tangannya kemudian menahan Kyara untuk meminum kembali minumannya.
“Hei ini minumanku !” ucap Kyara yang sudah dalam keadaan mabuk.
“Kau sudah terlalu banyak minum !” balas Agam masih dalam sifat manusia kulkas dua pintu yang tak pernah mencair.
“Berikan padaku” Kyara mencoba meraih gelas yang ada ditangan Agam. “Kau siapa ? Ah…kau mengingatkanku dengan makhluk astral yang dingin !” ucap Kyara terkekeh melihat wajah Agam ia tak sadar jika sedang bicara dengan Agam.
“Makhluk astral katamu ?” Tanya Agam menatap tajam Kyara.
“Iya, tak hanya itu dia adalah bujang lapuk yang mungkin tidak laku dan karatan karena sifatnya yang dingin seperti kulkas dua pintu !” racau Kyara dan itu membuat Agam mengangkat alisnya sebelah karena ia tak mengerti siapa orang yang Kyara maksud.
“Mau tahu siapa orangnya ? uh…kasih tahu tidak yaa…” Kyara kali ini meracau dengan menempelkan wajahnya ke dada Agam dan membisikkan sesuatu ditelinga Agam yang membuat Agam begitu marah. “Dia Agam Josephine !” Kyara tertawa setelah membisikkan hal tersebut pada Agam.
“Dia..begitu baik padaku, tapi mengapa dia tidak ditakdirkan untukku !” racau Kyara, Agam menyaksikan Kyara yang mabuk sambil merekam aksi mabuk Kyara sebagai bahan balas dendamnya pada Kyara.
“Apa kau tahu, aku sangat mencintainya. Tapi mengapa takdir memisahkan kami dengan begitu buruknya. Dia menikah dengan wanita lain pilihan kedua orang tuanya.” Kyara menangis meratapi nasib percintaannya.
“Oh..jadi pacarmu menikah dengan wanita lain ?” ucap Agam dengan santainya ia bahkan mengeluarkan rokok dari saku jas nya dan menghidupkan api menyulut rokoknya dan menghisapnya. Sepertinya begitu menarik melihat Kyara dalam keadaan mabuk dan tak mengenali siapa dirinya saat ini.
“Kau jangan main api, nanti kau terbakar.” Kyara tertawa kala melihat Agam menghidupkan api. “Ahh…bagaimana jika aku mati saja. Ayo bakar aku, aku sudah muak hidup seperti ini.” Racau Kyara ia berjalan perlahan mendekati Agam yang duduk di kursi sofa.
Hiks
Hiks
Hiks
“Apa yang kau lakukan !” Agam mempertahankan korek api ditangannya bahkan ia menjatuhkan rokok yang baru saja ia hisap.
“Berikan padaku…” lirih Kyara berusaha mengambil korek api di tangan Agam. Namun Agam tetap mempertahankan korek apinya, karena ia tahu Kyara pasti akan berbuat yang tidak-tidak.
Kyara…