
Pagi itu Rex sengaja mengantar Lilian karena ingin bicara empat mata tentang mimpinya semalam.
" Ya Allah. Jadi itu alasannya...?" tanya Lilian takjub.
" Iya Kak. Sekarang bisa kan Kakak membantu mengurus ulang pemakaman Martin...?" tanya Rex.
" Aku ga janji ya Rex. Aku kan cuma perawat yang ga punya wewenang memutuskan sesuatu. Tapi tenang aja Rex, insya Allah Aku bakal omongin ini sama dokter Siska. Beliau kan punya link khusus ke direksi yang pasti bisa membantu menyelesaikan kasus ini...," sahut Lilian.
" Kalo gitu Aku bisa anggap urusan pemakaman Martin selesai ya Kak. Aku yakin dokter Siska pasti mau membantu Martin mendapatkan haknya...," kata Rex.
" Ok. Sekarang Aku masuk ya Rex. Kamu jangan ngebut dan hati-hati di jalan...," kata Lilian sambil tersenyum.
" Siap Kak...," sahut Rex lalu mulai melajukan motornya meninggalkan Rumah Sakit Sentosa.
Rex berhenti di persimpangan jalan karena trafic light warna merah menyala. Ia sedikit kesal karena kondisi jalan saat itu macet parah. Rex mengedarkan pandangannya dan tak sengaja melihat Faisal alias Dion berada di dalam mobil bersama seorang wanita.
Yang menyebalkan adalah karena saat itu Faisal dan wanita itu sedang berciuman panas tanpa peduli dengan sekitarnya.
Namun Faisal dan wanita itu termasuk semua pengendara yang berada di persimpangan jalan itu terkejut saat seorang pria menghampiri mereka sambil menendang pintu mobil. Rex mengenali pria itu sebagai ayah dokter Aksara.
" Keluar Kau Faisal, dasar anak kurang ajar !. Menyesal Aku menjodohkanmu dengan Anakku...!" kata ayah dokter Aksara sambil terus menendang pintu mobil.
Faisal keluar dengan wajah pucat pasi. Ia mencoba membujuk pria itu namun hanya pukulan yang didapat.
" Denger dulu Om. Ini ga seperti yang Om liat, ini semua cuma salah paham...," kata Faisal.
" Breng**k !. Mulai sekarang Kubatalkan pertunanganmu dengan Aksara. Jangan berani datang dan mendekatinya lagi atau Kau akan menyesal bajin**n...!" kata ayah dokter Aksara lantang sambil meninju wajah Faisal hingga terjatuh membentur kap mobil.
Ucapan ayah dokter Aksara membuat Faisal terkejut namun di sisi lain justru membuat Rex tersenyum bahagia.
" Aku ga mau Om. Aksara itu milikku, dia hanya boleh menikah denganku...!" kata Faisal lantang.
" Dasar g*la. Pergi Kau ke neraka...!" kata ayah dokter Aksara sambil masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan tempat itu.
Kepadatan kendaraan di persimpangan jalan itu perlahan terurai. Rex pun melajukan motornya dengan perasaan berbunga-bunga. Sedangkan Faisal masih menjerit dan memaki di tengah jalan hingga dua petugas polisi datang dan memintanya menepi. Rupanya mobil Faisal berhenti di tengah jalan hingga menghambat laju mobil lainnya dan menyebabkan kemacetan.
\=\=\=\=\=
Rex sedang berada di bengkel Gama saat ponselnya berdering. Ia meraih ponselnya dan tersenyum saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu.
" Assalamualaikum, selamat malam dokter Aksara...?" sapa Rex dengan ramah.
" Wa alaikumsalam. Maaf Kapten. Apa Kapten bisa membantu Saya...?" tanya dokter Aksara dengan suara yang lirih hingga membuat Rex mengerutkan keningnya.
" Kamu dimana, kenapa suaramu kaya gitu...?" tanya Rex cemas.
" Saya masih di Rumah Sakit. Saya lagi sembunyi...," sahut dokter Aksara.
" Sembunyi dari apa dan kenapa harus sembunyi...?" tanya Rex tak mengerti tapi ia bergegas keluar lalu mulai menstarter motornya.
Gama dan ketiga karyawannya yang melihat aksi Rex nampak saling menatap bingung.
" Saya ga bisa cerita sekarang. Tolong jemput Saya sekarang, bisa kan...?" tanya dokter Aksara penuh harap.
" Ok. Saya ke sana sekarang...!" sahut Rex mantap lalu mengakhiri percakapan mereka.
" Mau kemana Rex...?" tanya Gama.
" Ke Rumah Sakit...," sahut Rex.
" Apa ada sesuatu yang membahayakan Lilian ?. Pake mobil aja Rex, Gue anter sekalian...!" kata Gama sambil melangkah cepat menuju mobilnya.
" Bukan Kak Lian Gam. Dia Gapapa kok. Gue cabut dulu ya, Assalamualaikum...! " kata Rex sambil melajukan motornya dengan cepat.
Gama mengerjapkan matanya melihat kepergian Rex. Ia menghela nafas lega saat mengetahui kondisi Lilian baik-baik saja.
" Kamu dimana sekarang ?. Saya di parkiran nih...," kata Rex sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru halaman Rumah Sakit.
" Saya di sini...," sahut dokter Aksara lirih.
" Di sini dimana...?" tanya Rex tak sabar.
" Di balik pohon mahoni. Saya ga berani keluar karena ada orang jahat yang ngikutin Saya...," sahut dokter Aksara.
Rex mencari pohon yang dimaksud dokter Aksara dan melangkah perlahan kearahnya. Saat itu suasana di parkiran memang sepi dan remang-remang. Wajar jika dokter Aksara merasa takut.
" Dokter Aksara...," panggil Rex.
Di balik pohon dokter Aksara tersenyum saat mendengar Rex memanggilnya. Perlahan ia keluar dari persembunyiannya lalu menghampiri Rex.
" Syukur lah akhirnya Kamu datang Kapten. Saya ga bisa bayangin kalo berada lebih lama di sana...," kata dokter Aksara sambil menggaruk tangannya yang merah karena digigit nyamuk.
" Kenapa sembunyi di sini ?. Apa ada orang jahat yang mencoba menyakitimu. Bukankah biasanya Kamu sangat tangguh dan hampir ga pernah butuh bantuan...?" tanya Rex.
" Tergantung...," sahut dokter Aksara salah tingkah.
" Tergantung apa...?" tanya Rex tak mengerti.
" Kalo dia, rasanya sulit buat Saya...," sahut dokter Aksara sambil melirik kearah seorang pria yang berjalan mendekat kearahnya.
" Ternyata Kamu di sini Sara...!" panggil seorang pria.
Rex menoleh kearah pria itu dan mengerti mengapa dokter Aksara memerlukan bantuannya.
" Kenapa masih mengejarku Faisal. Hubungan Kita sudah berakhir. Orangtuaku sudah tau kebusukanmu dan ga akan memaksaku lagi untuk bertahan...," kata dokter Aksara sambil berlindung di belakang Rex.
" Aku ga peduli Sara. Bagiku Kamu tetap tunanganku dan calon Istriku. Kemari Sara, Kita pulang sekarang...!" kata Faisal lantang tanpa mengindahkan keberadaan Rex di sana.
" Aku ga mau...!" sahut dokter Aksara.
" Aku ga cukup sabar Sara. Ayo ikut Aku sekarang...!" kata Faisal sambil berusaha menggapai tangan dokter Aksara.
" Dia sudah bilang ga mau, harusnya Kamu mengerti Bung...," kata Rex sambil mencekal tangan Faisal yang terulur kearah dokter Aksara.
" Siapa Lo, ga usah ikut campur urusan Gue...?!" kata Faisal marah sambil melayangkan pukulan kearah Rex.
Rex menyeringai lalu balas memukul Faisal sebelum tangan pria itu menyentuh kulitnya. Rex tak hanya memukul sekali bahkan beberapa kali karena kesal melihat tingkah sombong Faisal alias Dion itu.
Melihat aksi Rex membuat dokter Aksara menahan nafas karena khawatir Rex akan membunuh Faisal.
" Cu... cukup Kapten. Kamu bisa membunuhnya nanti...," kata dokter Aksara sambil menahan lengan Rex yang siap melancarkan pukulan sekali lagi kearah Faisal.
Rex menoleh dan melihat kecemasan di wajah dokter Aksara. Rex sedikit kecewa karena mengira jika gadis itu masih peduli dengan mantan tunangannya itu.
Rex mundur lalu menghela nafas panjang. Dokter Aksara pun melepaskan cekalannya pada lengan Rex perlahan saat yakin jika pria itu tak akan memukul Faisal lagi.
" Ayo Kita pergi sekarang...," ajak Rex sambil mengulurkan telapak tangannya kearah dokter Aksara.
Gadis itu mematung sesaat lalu menganggukkan kepalanya. Dengan ragu ia menyambut uluran tangan Rex dan menggenggamnya hingga membuat Rex tersenyum.
Kemudian Rex dan dokter Aksara melangkah bersama meninggalkan Faisal yang terduduk sambil memegangi perut dan wajahnya.
Beberapa meter dari Faisal, Rex menghentikan langkahnya lalu mengatakan sesuatu tanpa berpaling.
" Oh iya Aku lupa bilang. Martin titip salam untukmu...," kata Rex lalu kembali melangkah.
Mendengar ucapan Rex membuat Faisal membeku di tempat. Ia menatap nanar kearah Rex yang menjauh sambil menggandeng tangan dokter Aksara.
bersambung