
Gama tiba di rumah dengan tubuh yang ssngat letih. Tapi ia tak terbiasa tidur dengan tubuh dan pakaian yang kotor. Karenanya saat masuk ke dalam rumah, yang dituju pertama kali adalah toilet.
Gama membersihkan tubuhnya dengan air hangat untuk mengusir letih yang mendera. Setelahnya ia beranjak menuju dapur untuk membuat secangkir kopi. Walau di rumah Ramon ia minum kopi tadi, tapi Gama merasa perlu meminum kopi lagi sebelum berangkat tidur nanti.
Saat menuang bubuk kopi ke dalam gelas Gama teringat ucapan Lilian yang menasehati Rex agar jangan terlalu banyak minum kopi.
Gama ingat saat itu ia sengaja datang ke rumah Ramon karena ingin nobar bersama Ramon dan Rex untuk menyaksikan pertandingan bola di televisi.
" Kalo seharian Kamu udah minum kopi, ada baiknya Kamu minum susu sebelum tidur. Walau pun mungkin ga ada pengaruhnya untuk Kamu, tapi setidaknya biarkan tubuhmu menikmati minuman bergizi tinggi itu sekali saja sehari...," kata Lilian saat Rex hendak menyeduh kopi untuknya dan Gama.
Rex dan Gama saling menatap lalu mengangguk. Kemudian Rex mengganti kopi dengan susu coklat panas untuk menemani nobar mereka. Sedangkan Ramon memilih air putih sesuai permintaan istrinya.
" Yang Lian bilang emang bener. Ya udah lah, ga ada salahnya nurutin nasehatnya. Dia kan perawat, ga mungkin dia asal bicara...," gumam Gama sambil tersenyum.
Setelahnya Gama menyeduh susu untuk menemaninya sebelum tidur nanti. Walau memiliki stok susu yang cukup di rumah, namun Gama lebih menyukai kopi. Ia sengaja menyiapkan susu hanya karena tak ingin sang mama memarahinya. Mira memang selalu menekankan agar Gama minum susu setiap hari. Biasanya saat berkunjung Mira akan mengecek isi lemari. Dan dia akan marah jika tak mendapati susu di sana.
" Itu baik untuk tubuh dan otak Gama...!" kata Mira kala itu.
" Aku udah dewasa Ma, untuk apa lagi minum susu...," sahut Gama.
" Susu itu baik untuk semua usia Gama. Rasulullah juga suka minum susu kok. Apa Kamu mau meremehkan kebiasaan Rasulullah itu...?" sela Gondo kesal.
Gondo jenuh mendengar perdebatan anak dan istrinya yang membahas hal yang sama tiap kali mereka sarapan.
Setelah mendengar ucapan papanya Gama pun bergegas meraih gelas berisi susu itu dan meneguknya hingga tandas. Mira tersenyum puas sedangkan Gondo menghela nafas lega.
Gama kembali tersenyum mengingat perdebatannya dengan sang mama. Dulu teman-temannya beranggapan jika Gama adalah anak yang dimanja dan tak pernah dimarahi oleh kedua orangtuanya. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Gama dan mamanya kerap bertengkar dan papanya lah yang menjadi wasit.
Lamunan Gama buyar saat ponselnya berdering. Gama bergegas meraih ponselnya dan melihat nama sherif Taufan di layar ponselnya. Ia tersenyum lalu menerima panggilan itu.
" Assalamualaikum Fan, ada apa malam-malam begini nelephon...?" sapa Gama.
" Wa alaikumsalam. Ada perlu lah Gam, masa kangen sama Lo. Ga mungkin lah itu...," sahut Taufan hingga membuat Gama tertawa.
" Perlu apaan...?" tanya Gama pura-pura tak tahu.
" Emangnya Rex belum cerita sama Lo...?" tanya Taufan.
" Cerita tentang apa...?" tanya Gama sambil meneguk susu di gelasnya perlahan.
" Soal ledakan kios mie ayam itu Gam...," sahut Taufan.
" Oh itu. Iya, Rex udah bilang tadi...," kata Gama cepat.
" Nah, rencananya Lo sama Lian akan dimintai keterangan karena Kalian berada di tempat itu sebelum ledakan terjadi. Gapapa kan Gam...?" tanya Taufan.
" Gapapa Fan. Insya Allah Gue siap. Kapan Gue ke kantor Polisi...?" tanya Gama sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
" Mungkin lusa, karena petugas juga masih harus minta keterangan ke beberapa saksi lainnya...," sahut Taufan.
" Oh gitu. Tapi kalo bisa Gue sama Lian dijadwalin bareng aja ya Fan. Gue khawatir dia takut dan ga datang nanti. Bisa kan...?" tanya Gama penuh harap.
" Bisa. Lo sama Lian boleh datang untuk ngasih keterangan lusa sore ya...," sahut Taufan.
" Insya Allah siap. Makasih Fan...," kata Gama.
" Sama-sama, Gue yang harus berterima kasih karena Lo bersedia membantu tugas Polisi. Kalo gitu Gue tutup dulu ya Gam. Assalamualaikum...," pamit Taufan.
Gama pun meletakkan ponselnya di atas nakas lalu meneguk habis susu di gelasnya. Setelahnya Gama berbaring di tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamar sambil mengingat kembali apa yang ia alami tadi.
Gama ingat bagaimana perasaannya saat melihat Lilian datang ke bengkelnya bersama seorang pria. Saat itu Gama sangat cemburu, namun ia berusaha tenang dan tak memperlihatkan kecemburuannya itu.
Gama juga tak suka melihat sikap pria yang diakui Lilian sebagai temannya itu. Terlihat sok dan egois. Beruntung Lilian bersikap waspada dan tak membiarkan pria itu mengaturnya apalagi menyentuhnya.
Saat Lilian menolak mengakui pria itu sebagai kekasihnya, Gama pun tersenyum lega. Apalagi Lilian juga menolak diantar oleh pria itu dan lebih memilih bersama Gama.
Gama mengusap wajahnya saat mengingat moment dimana ia memeluk Lilian dengan erat karena tak ingin gadis itu mendekati lokasi kebakaran.
Jantung Gama juga kembali berdetak lebih cepat dari biasanya saat ia menyentuh luka di bahunya akibat gigitan Lilian tadi. Entah mengapa Gama merasa hasrat laki-lakinya bangkit mengingat gigitan kecil Lilian itu.
" Untung ga khilaf. Kalo sampe khilaf lagi, alamat tamat deh Gue...," gumam Gama sambil menggelengkan kepalanya.
Gama mencoba memejamkan mata karena merasa butuh istirahat. Tak lama kemudian Gama pun tertidur.
\=\=\=\=\=
Di hari yang dijanjikan Gama pun datang memenuhi panggilan kepolisian. Sebelumnya Gama sengaja menjemput Lilian di Rumah Sakit Sentosa.
Jam empat sore Gama tiba di parkiran Rumah Sakit Sentosa. Ia bergegas turun dari mobil karena ingin menunggu Lilian di loby.
Sambil melangkah menuju loby Gama melihat sepasang pria dan wanita sedang bertengkar di taman samping. Awalnya Gama ingin mengabaikan mereka namun saat ia mengenali suara wanita itu Gama pun berhenti dan mengamati mereka.
Gama membulatkan mata saat melihat Lilian tengah berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan pria yang tak lain adalah Riko.
" Jangan kurang ajar Ko, lepasin Gue...!" jerit Lilian marah.
" Ga bakal, sampe Lo jelasin semuanya...!" sahut Riko sambil menatap Lilian lekat.
" Semuanya apaan sih. Inget ya Ko, Lo bukan siapa-siapa Gue dan Gue ga harus ceritain apa pun sama Lo...!" kata Lilian kesal.
" Kalo gitu bakal Gue bikin Lo jadi seseorang yang penting di hidup Gue...!" kata Riko sambil menarik tangan Lilian dengan kasar dan bersiap membawanya pergi.
" Lepasin Lilian...!" kata Gama tiba-tiba sambil berdiri menatap tangan Lilian yang ada dalam cekalan tangan Riko.
Melihat kehadiran Gama membuat Riko tersenyum sinis. Ia menoleh kearah Lilian yang masih terus berusaha melepaskan cekalan tangannya.
" Dia, dia juga termasuk dalam daftar orang yang harus Lo jelasin sama Gue Li...!" kata Riko sambil menunjuk Gama.
" Sakit jiwa Lo ya...," sahut Lilian sambil meringis kesakitan.
Gama yang tak sabar pun akhirnya melayangkan tinjunya kearah Riko. Dua pukulan yang dilancarkan Gama membuat Riko terjengkang jatuh mencium tanah. Setelahnya Gama meraih tangan Lilian dan menyembunyikan gadis itu di balik tubuhnya.
" Sekali lagi Lo ganggu Lian, abis Lo...!" ancam Gama.
Kemudian Gama membawa Lilian pergi dan meninggalkan Riko begitu saja. Riko nampak menundukkan kepala sambil mengusap darah yang keluar dari lubang hidungnya.
" Anj*ng. Tunggu pembalasan Gue...," maki Riko lirih sambil berusaha bangkit.
Setelahnya Riko berjalan gontai meninggalkan taman sambil membawa dendam di hatinya.
\=\=\=\=\=