Kidung Petaka

Kidung Petaka
79. Liat Brosur


Malam itu Rex sengaja berkunjung ke bengkel Gama. Saat tiba di bengkel Rex melihat seorang pria yang merupakan sales properti sedang duduk menunggu mobil dinasnya diperbaiki.


Pria itu tersenyum kearah Rex dan dibalas senyum yang sama oleh Rex.


" Dimana Gama...?" tanya Rex.


" Di atas Bang, lagi nerima telepon kayanya...," sahut Riki.


" Oh gitu. Nih Gue bawa cemilan, bagi-bagi ya jangan berebut...," gurau Rex sambil meletakkan dua kotak kue balok dan tiga gelas kopi panas kemasan di atas meja.


" Siaapp..., makasih Bang...!" sahut Ipung, Edi dan Riki bersamaan.


" Sama-sama..., " sahut Rex sambil tersenyum.


" Cuma tiga kurcaci itu yang dibeliin Rex. Buat Gue mana...?!" tanya Gama lantang dari anak tangga.


" Tenang aja, Gue juga beli kok. Yang ini khusus buat Lo...," sahut Rex sambil menyerahkan dua gelas kopi.


" Alhamdulillah. Eh, khusus gimana nih maksud Lo ?. Kok Gue jadi was-was ya...," kata Gama sambil mengamati dua gelas kopi di tangannya.


" Khusus karena ditambahin sianida dikit...," gurau Rex.


" Anjrit, mau ngeracunin Gue Lo !. Oh Gue tau, Lo sengaja ngeracunin Gue karena ga sanggup bersaing sama Gue. Iya kan...?!" tanya Gama.


" Bersaing apaan maksud Lo, ngomong tuh yang jelas...," kata Rex.


" Bersaing dalam merebut perhatian cewek-cewek di luar sana lah. Semua orang di komplek ruko sini mengakui kalo Gue tuh emang keren dan famous...," sahut Gama bangga.


" Ish, pede Lo tuh emang ga ada tandingannya deh...," gerutu Rex kesal.


Ucapan Rex dan Gama membuat ketiga karyawan Gama tertawa keras, begitu pun sang sales properti yang memang sejak tadi mengamati tingkah Rex dan Gama.


" Jadi kopi ini buat Gue semuanya Rex...?" tanya Gama.


" Iya...," sahut Rex sambil melirik sales properti di kursi tunggu.


Gama mengerti isyarat yang diberikan Rex. Ia paham jika sahabatnya sengaja memberi kopi bagiannya untuk pria itu.


Kemudian Gama melangkah ke kursi tunggu lalu menyerahkan kopi kepada pria yang sedang duduk menunggu itu.


" Karena Saya ga mungkin ngabisin sendirian, kopi ini buat Masnya aja...," kata Gama sambil tersenyum.


" Eh, ga usah Bang. Saya udah minum kok tadi...," sahut pria itu.


" Diterima aja Mas. Lagian suasana malam kaya gini kan emang enak kalo ngopi, masih panas lagi. Aromanya tuh bikin mata melek...," kata Ipung sambil menghirup dalam-dalam kopi di gelasnya.


" Iya Mas. Ambil aja...," sela Riki dan Edi bersamaan.


Pria itu mengangguk lalu meraih kopi yang disodorkan Gama padanya. Gama pun tersenyum lalu duduk di samping pria itu. Ia berbagi kopi dengan Rex dan meminumnya bergantian dari gelas yang sama.


" Makasih ya Bang...," kata pria itu.


" Sama-sama. Jadi Masnya kerja di agen properti...? " tanya Gama sambil mengamati mobil dinas yang sedang diperbaiki oleh tiga karyawannya itu.


" Iya Bang. Oh iya kenalin, nama Saya Gusur. Saya punya beberapa brosur perumahan, mungkin Abang berminat. Liat-liat dulu juga boleh kok...," kata pria bernama Gusur itu sambil mengeluarkan beberapa lembar brosur dari tas besarnya.


Rex dan Gama saling menatap sejenak kemudian tertawa hingga membuat Gusur dan tiga karyawan Gama bingung.


" Maksudnya gimana ya Bang...?" tanya Gusur tak mengerti.


" Rex, namanya Rex. Kalo Gue Gama, kenalan dulu dong...," kata Gama hingga membuat Gusur tersenyum.


Setelah Rex, Gama dan Gusur saling berjabat tangan, Gama pun melanjutkan ucapannya.


" Dulu Rex pernah bilang kalo sales itu akan selalu keluar naluri salesnya kapan pun dan dimana pun dia berada. Ternyata Lo juga gitu kan tadi. Gue nawarin kopi eh Lo malah nawarin dagangan...," kata Gama kembali tertawa.


Ucapan Gama membuat semua orang tertawa termasuk Gusur. Ia nampak tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


" Masa sih, kok Saya ga ngeh ya...," kata Gusur malu-malu.


" Gapapa Sur, eh boleh kan Gue panggil nama aja. Kayanya Kita seumuran deh...," kata Gama.


" Boleh Bang. Gimana nih, mau liat-liat ga...?" tanya Gusur setengah memaksa.


" Ya udah siniin brosurnya...," kata Rex sambil tersenyum.


Gusur ikut tersenyum lalu menyerahkan brosur rumah yang jadi barang 'jualannya' itu kepada Rex.


Sesaat kemudian Rex nampak mengamati dengan serius gambar rumah-rumah yang ditawarkan dalam brosur. Melihat keseriusan Rex, Gama pun tertarik dan ikut melihat-lihat isi brosur yang dipegang Rex.


" Wah, yang ini bagus ya Rex, ga terlalu besar tapi menarik. Cukup lah buat pasangan yang baru married atau keluarga kecil dengan satu anak...," kata Gama sambil menunjuk sebuah rumah dengan type 70/100.


Rex melirik kearah Gama karena menangkap ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang sahabat.


" Tepat Bang. Yang itu emang banyak peminatnya. Luas bangunan tujuh puluh meter persegi dan luas tanah seratus meter persegi. Cocok untuk hunian pasangan muda yang sedang giat menabung...," kata Gusur sambil memperlihatkan deretan giginya.


" Berapa DP nya, terus per bulan atau per tahun nih bayar cicilannya...?" tanya Gama sambil menoleh kearah Gusur.


" Itu bisa dibicarain nanti Bang. Yang penting Bang Gama setuju sama rumah yang mana dulu. Saya bakal hubungin kantor buat ngabarin kalo rumah type itu punya satu peminat serius. Kalo mau Abang bisa liat lokasinya dulu dan prosentase pembangunan rumah yang dimaksud. Ini supaya Abang percaya kalo proyek kantor Kami nyata dan bukan hoax. Kan jaman sekarang banyak penipuan Bang, makanya perusahaan kaya Kami gini lah yang kena imbasnya. Nah, setelah Abang ngeliat kondisi realnya di lapangan dan merasa cocok, Abang Saya antar ke kantor buat tanda tangan dokumen yang diperlukan...," sahut Gusur antusias.


Gama nampak mendengarkan dengan serius penjelasan yang diberikan Gusur. Sedangkan di samping Gama terlihat Rex juga ikut mendengarkan sambil sesekali melirik Gama.


" Lo serius mau beli rumah Gam...?" tanya Rex tak percaya.


" Iya lah. Kalo ada yang bagus dan terjangkau, kenapa ga diambil. Iya ga...?" tanya Gama yang diangguki Gusur.


" Emang sebagus apa sih rumahnya Bang...?" tanya Edi tiba-tiba sambil ikut mengamati rumah pilihan Gama tadi.


" Lo liat aja sendiri...," sahut Gama sambil menyerahkan brosur itu kepada Edi.


" Lo serius mau beli rumah Gam...?" ulang Rex karena belum mendapat jawaban yang memuaskan dari Gama.


" Iya T-reeexxx...," sahut Gama gemas.


Rex melengos sebal dan kembali mengamati isi brosur. Melihat reaksi sahabatnya yang adem ayem itu membuat Gama sedikit kesal.


" Lo ga percaya sama Gue atau Lo ga yakin Gue bisa bayar ?. Eh, jangan lupa ya kalo Gue ini pengusaha bengkel, Gue juga punya penghasilan dan tabungan yang bisa jadi jaminan kelak. Selain itu Gue rasa Gue udah layak punya rumah. Karena Gue kan bakal married dan punya keluarga. Masa iya keluarga Gue tinggal sama mertua. Ga mau lah Gue !. Keluarga Gue itu tanggung jawab Gue, susah seneng ya harus sama Gue dan jangan sampe ngerepotin orangtua apalagi mertua...!" kata Gama berapi-api.


Rex hanya menggedikkan bahunya usai mendengar 'ocehan' Gama itu. Kemudian ia membolak-balik brosur untuk melihat type rumah lainnya.


\=\=\=\=\=