Kidung Petaka

Kidung Petaka
148. Tentang Hadini


Di saat semua orang berduka karena kondisi Rex yang terbaring lemah di atas tempat tidur, justru saat itu Rex tengah pergi ke dimensi lain.


Saat itu Rex sedang berada di tepi sebuah sungai. Ia duduk di atas batu besar sambil mengamati seorang wanita yang juga tengah duduk di batu besar lainnya.


Wanita itu adalah Nyai, istri pangeran Jareka yang merupakan seorang Sultan yang pernah dilihat Rex beberapa waktu lalu.


Rex di sana seolah ingin mengejar sebagian informasi tentang Nyai dan Zada yang masih belum lengkap itu.


Dari tempatnya duduk Rex bisa melihat sang Nyai tengah melamun di atas batu. Meski jarak mereka lumayan jauh, namun Rex bisa melihat jelas aktifitas wanita itu. Sesekali sang Nyai nampak mengusap matanya yang basah pertanda saat itu ia sedang sangat terpuruk.


" Padahal Aku yang memintanya pergi tapi kenapa Aku merasa kesepian. Aku juga yang memintanya menikahi wanita lain tapi kenapa Aku merasa sakit hati...," gumam wanita itu lirih namun anehnya terdengar jelas di telinga Rex.


" Itu karena Kamu sangat mencintai dia. Situasi memaksa Kalian berpisah dan menempuh jalan ini walau hati Kalian sama-sama enggan...," sahut Rex sama lirihnya namun membuat sang Nyai tersentak kaget lalu menoleh cepat kearahnya.


" Kamu di sini juga Rex...," kata sang Nyai sambil tersenyum.


" Iya, walau Aku ga tau kenapa ada di sini. Mungkin rasa penasaranku lah yang membawaku ke sini. Apalagi terakhir kali Kita ketemu Kamu meninggalkan teka-teki rumit untukku...," sahut Rex santai.


" Teka-teki...? " ulang sang Nyai tak mengerti.


" Ya. Itu semacam pertanyaan tanpa jawaban yang ada di kepalaku...," sahut Rex menjelaskan.


" Oh begitu...," kata sang Nyai sambil mengangguk.


Untuk sejenak Rex dan sang Nyai terdiam. Mereka menikmati suara aliran sungai di bawah kaki mereka. Suasana pagi itu terasa hangat karena sinar matahari menyapa mereka dengan lembut.


" Apa yang ingin Kamu ketahui Rex...?" tanya sang Nyai sambil memainkan kakinya di dalam air.


Pertanyaan sang Nyai membuat Rex tersenyum. Ia ingat ucapan sang ayah jika makhluk tak kasat mata punya cara sendiri untuk menyampaikan keinginannya. Rex merasa kesabarannya menanti sang Nyai bicara tak sia-sia.


" Sederhana aja. Aku ingin tau siapa Kamu sebenarnya, apa hubunganmu dengan Zada dan Aku...?" tanya Rex sambil menatap sang Nyai lekat.


" Pertanyaan sederhana tapi memiliki makna yang dalam. Bukan begitu Rex...?" tanya sang Nyai sambil tersenyum tipis.


" Masa sih. Aku ga tau kalo Kamu ga jelasin apa pun...," sahut Rex cepat.


" Apa yang Kamu liat belum cukup jelas Rex...?" tanya sang Nyai sambil menatap jauh ke depan.


" Aku memang melihat apa yang terjadi di rumah itu tapi Aku tak tau apa pun. Walau nilai akademik ku lumayan tinggi, tapi tak cukup untuk mengerti apa yang terjadi denganmu, Suamimu dan hubungan Kalian dengan semuanya. Itu sulit untukku...," sahut Rex jujur.


" Maafkan Aku Rex. Baik lah, Aku akan mulai dari awal. Ijinkan Aku memperkenalkan diriku. Namaku Hadini. Aku menikah dengan Sultan Jareka, seorang penguasa di wilayah tenggara. Awalnya Aku tak tahu jika Suamiku seorang Sultan. Saat Aku tau itu udah terlambat...," kata Hadini sambil tersenyum kecut.


" Bagaimana akhirnya Kamu sadar kalo Suamimu bukan orang biasa...?" tanya Rex.


" Suamiku sering pamit pergi berburu. Setiap kembali ke rumah dia membawa banyak barang dan sebagian hasil buruan. Suamiku bilang dia mendapat banyak hasil buruan, makanya dia menjualnya ke pasar dan menukarnya dengan barang lain seperti pakaian, perhiasan dan lain-lain. Semula Aku ga curiga sama sekali. Tapi lama kelamaan Aku curiga karena dia pulang dengan hasil yang berlipat ganda. Aku mencoba mengikuti diam-diam. Dan akhirnya Aku tau siapa Suamiku sesungguhnya...," sahut Hadini dengan wajah berbinar.


" Dan Suamimu tetap menyayangimu meski pun dia seorang Sultan...?" tanya Rex.


" Betul. Tapi rupanya ada kendala lain yang mengganggu hubungan Kami. Kakak tiriku juga mencintai dia dan selalu berusaha mencelakaiku. Dia juga memanfaatkan pria yang membenciku karena pernah kutolak saat menyatakan cintanya padaku dulu...," kata Hadini.


" Apa Suamimu tau itu...?" tanya Rex.


" Suamiku ga tau apa-apa. Aku selalu berusaha menyelesaikan semuanya sendiri. Setiap algojo atau pembunuh bayaran yang dikirim padaku selalu berakhir mati di tanganku. Aku ga pernah memberi kesempatan mereka untuk menyentuhku seujung rambut pun...," sahut Hadini kesal.


" Dan kejadian saat Suamimu tau itu...," ucapan Rex terputus karena Hadini memotong cepat.


" Itu pengecualian dan lagi-lagi Aku dijebak. Amir sengaja berada di rumah saat tau Suamiku sedang di dalam perjalanan menuju ke rumah. Dua orang pria yang Aku penggal adalah pembunuh bayaran. Mereka tak hanya berniat membunuhku tapi juga berniat melecehkan Aku. Apalagi saat itu Aku sedang sakit. Mereka pikir Aku lemah dan ga berdaya, tapi mereka salah...," kata Hadini sambil tersenyum kecut.


" Oh begitu. Saat itu Aku dengar Suamimu berjanji untuk mengangkatmu menjadi permaisurinya. Kenapa Kamu ga mau...?" tanya Rex penasaran.


" Aku cukup tau diri Rex. Aku bukan berasal dari keluarga bangsawan asli. Aku ga ingin menyulitkan Suamiku dengan terus mempertahankan pernikahan Kami. Walau akhirnya Kami ga bercerai, tapi Aku harus merelakan Suamiku menikahi wanita lain yang merupakan bangsawan tulen...," sahut Hadini sambil mengusap matanya yang basah.


" Terus kenapa Kamu menangis ?. Apa Kamu menyesal telah merelakan Suamimu menikahi perempuan lain...?" tanya Rex.


" Hari ini adalah hari pernikahan Suamiku dengan wanita itu. Aku memang diundang untuk menghadiri pesta pernikahan mereka. Suamiku juga berjanji akan mengumumkan pernikahan Kami nanti. Tapi Aku merasa ga akan sanggup membantu Suamiku mempertahankan tahtanya...," sahut Hadini.


" Apa maksudmu...?" tanya Rex tak mengerti.


" Kalo Aku datang dan Suamiku mengakui pernikahan Kami, bukan kah itu namanya Aku mengungkap aib Suamiku. Di wilayah tenggara seorang Sultan tak diperkenankan memiliki istri lain selain permaisurinya. Sedangkan di saat yang sama tahta Sultan itu juga sedang diperebutkan oleh saudara laki-laki Suamiku yang lain. Mereka sedang berlomba mencari titik kelemahan Suamiku untuk merebut tahta itu dari tangannya. Dan Aku adalah kelemahannya. Aku ga mau membuat Suamiku terbebani dengan kehadiranku nanti...," kata Hadini.


" Aku merasa Kamu mempersulit dirimu sendiri. Harusnya Kamu mendukung Suamimu yang ingin membuat sebuah gebrakan baru. Walau pun Kamu bukan permaisuri, tapi Kamu adalah istrinya dan berhak mendapatkan pengakuan semua orang...," kata Rex sedikit kesal.


" Suamiku tak pernah menginginkan tahta itu, tapi rakyatnya lah yang membutuhkannya. Karena menurut mereka hanya Suamiku yang bisa memimpin dengan adil dan bijaksana di sana. Dengan memiliki permaisuri yang bangsawan asli, maka kedudukan Suamiku akan semakin kuat dan diakui hingga bisa membuat peraturan baru yang berpihak pada rakyat nanti...," sahut Hadini sambil tersenyum getir.


Rex menggeleng takjub karena kagum dengan pengorbanan Hadini.


\=\=\=\=\=