Kidung Petaka

Kidung Petaka
245. Berbeda...


Tinggal di tempat baru dengan adat istiadat yang berbeda tak membuat Rex dan Shezi gentar. Dengan cepat mereka beradaptasi dengan lingkungan sekitar termasuk dengan adat istiadat dan budaya di Aceh.


Memasuki bulan keempat, kesibukan mereka pun bertambah. Saking sibuknya bahkan keduanya nyaris tak pernah makan malam bersama. Itu karena Rex akan kembali ke rumah saat jam menunjukkan pukul sebelas malam dan itu artinya jam makan malam telah lewat. Dan biasanya Shezi akan makan bersama asisten rumah tangga di rumah dinas mereka itu.


Karena Rex kembali hampir tengah malam, kadang ia menjumpai Shezi telah tertidur di kamar mereka. Rex tak mempermasalahkan hal itu karena ia mengerti jika Shezi juga sibuk dengan kegiatan Persit.


Malam itu sama seperti malam sebelumnya. Saat Rex kembali Shezi tak menyambutnya karena sudah berada di kamar. Rex menduga istrinya telah tertidur karena lelah menunggu kedatangannya.


Rex bergegas masuk ke dalam kamar setelah mengucapkan terima kasih pada asisten rumah tangga yang telah membukakan pintu untuknya.


Saat membuka pintu kamar Rex tersenyum melihat istrinya tengah berbaring sambil menelungkup. Saat itu Shezi tengah tertawa membaca chat yang masuk ke ponselnya.


" Assalamualaikum...," sapa Rex tiba-tiba sambil mengecup pipi sang istri hingga membuat Shezi terkejut lalu menoleh kearahnya.


" Wa alaikumsalam. Kok ga bilang kalo mau pulang sih Sayang, Aku kan bisa siap-siap buat nyambut Kamu...," kata Shezi sambil bangkit untuk memeluk suaminya.


" Mau nyambut pake apa, kan Kamu aja udah di kamar kaya gini...," sahut Rex sambil mendaratkan ciuman di kening istrinya.


" Emang maunya Kamu disambut pake apa...?" tantang Shezi sambil tersenyum penuh makna.


" Wah nantangin nih. Tunggu Aku selesai bersih-bersih ya. Jangan tidur dulu, awas kalo berani tidur. Aku malah bakal bikin Kamu ga bisa bangun besok...," kata Rex setengah mengancam.


Shezi tertawa mendengar ucapan suaminya itu. Ia pun membantu Rex menyiapkan pakaian saat sang suami pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Rex kembali lalu memeluk sang istri dari belakang. Shezi pun membalikkan tubuhnya agar bisa leluasa memeluk suaminya.


Malam itu mereka kembali mengarungi kebahagiaan bersama. Mereka menyalurkan hasrat dengan penuh cinta. Berkali-kali melakukan penyatuan cinta tak membuat keduanya lelah, seolah dahaga akan satu sama lain tak juga ingin berakhir.


Setelah perjalanan yang panjang akhirnya Rex dan Shezi tiba di tujuan yang entah untuk ke berapa kalinya. Keduanya terkapar di atas tempat tidur sambil tersenyum puas.


" Kenapa malam ini Kamu beda banget sih Sayang...," kata Shezi sambil mengusap peluh di kening suaminya.


" Masa sih. Aku pikir justru Kamu yang berbeda lho Sayang...," sahut Rex sambil mengecup ujung hidung Shezi yang berpeluh itu.


" Kok Kamu ngomong gitu sih. Kamu tau kan kalo Aku bukan perempuan hyper...," protes Shezi sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


" Gapapa, Aku suka kok. Lagian hyper sama Suami sendiri kan berpahala...," kata Rex sambil tersenyum lalu menarik Shezi ke dalam pelukannya.


Shezi pun ikut tersenyum lalu membenamkan diri ke dalam pelukan suaminya. Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus pertanda Shezi telah terlelap.


" Capek banget keliatannya, sampe tidur pun ga sempet pake baju...," gumam Rex sambil tersenyum lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya.


Setelah memperbaiki posisi tidur sang istri, Rex pun ikut memejamkan mata sambil memeluk istrinya yang terlelap.


Beberapa saat kemudian Rex kembali membuka matanya karena mendengar suara Nyai Hadini di balik jendela.


Namun berbeda dari biasanya, kali ini Nyai Hadini tak masuk ke dalam kamar. Nyai Hadini hanya berdiri di luar jendela dan meminta Rex untuk mendekat kearahnya.


" Ada apa Nyai, kok tumben ga mau masuk. Pake nyuruh Aku keluar segala. Aku lagi ga pake apa-apa nih...," kata Rex setengah berbisik.


" Kamu boleh memakai pakaianmu dulu Rex, setelah itu temui Aku si sini...," kata Nyai Hadini dengan tenang.


Rex pun mengangguk. Ia meraih pakaiannya dan Shezi yang berserakan di lantai. Lalu Rex melangkah cepat ke kamar mandi untuk berwudhu dan mengenakan pakaian. Beruntung kamar dalam kondisi gelap, hingga Rex merasa tak terlalu khawatir jika Nyai Hadini bisa melihatnya yang tanpa busana itu.


Setelah berwudhu, penampilan Rex terlihat lebih fresh. Rex pun melangkah lalu membuka pintu kamar yang mengarah ke taman mungil di samping kamar.


Saat itu Rex melihat penampilan Nyai Hadini jauh berbeda dari biasanya. Nyai Hadini nampak mengenakan setelan kebaya berwarna biru cerah dan jarik batik berwarna coklat. Rambutnya disanggul rapi, beda dari biasanya yang dibiarkan terurai lepas. Ada mahkota kecil berwarna keemasan di atas kepalanya.


" Malam ini Nyai beda banget. Lebih rapi dan cantik. Emangnya Nyai mau kondangan kemana...?" gurau Rex.


" Aku mau pamit Rex. Aku harus pergi sebentar lagi...," sahut Nyai Hadini lirih.


" Pamit gimana maksud Nyai ?. Bukannya Nyai juga biasa datang dan pergi tanpa pamit. Emangnya Nyai mau pergi kemana...?" tanya Rex dengan perasaan yang mulai tak nyaman.


" Aku harus pergi ke tempat yang seharusnya Rex. Tugasku sudah selesai, jadi sudah waktunya Aku pergi...," sahut Nyai Hadini.


" Nyai serius mau pergi ?. Kalo Nyai pergi, siapa yang bakal ngingetin Aku kalo di sekitarku bakal ada bahaya Nyai...?" tanya Rex gusar.


" Kamu harus belajar mandiri Rex. Kenali tanda-tanda alam, maka Kamu akan tau jika di sekitarmu bakal terjadi sesuatu yang buruk...," sahut Nyai Hadini sambil tersenyum.


" Itu sulit Nyai. Aku kan ga sepeka itu...," kata Rex.


" Tempat menitis, siapa maksud Nyai...?" tanya Rex penasaran.


" Istrimu...," sahut Nyai Hadini mantap hingga membuat Rex terkejut.


" Istriku, Shezi maksud Nyai...?!" tanya Rex tak percaya.


" Iya. Setelah ini Aku akan menitis padanya Rex...," sahut Nyai Hadini sambil tersenyum.


" Apa yang terjadi jika Kamu menitis ke dalam tubuh Istriku Nyai. Apa Shezi bisa hidup normal seperti manusia pada umumnya atau justru jadi tak normal...? " tanya Rex cemas.


" Kamu ga perlu khawatir Rex. Aku hanya mewariskan bakatku saja tapi tidak ragaku apalagi ruhku. Jadi Shezi tetap Istrimu yang bisa Kau sentuh dan Kau gauli seperti biasanya. Hanya di saat tertentu dia akan memperlihatkan keistimewaan yang bisa membantumu dan orang-orang di sekitar Kalian...," kata Nyai Hadini menjelaskan.


Rex nampak terdiam sejenak sambil berpikir. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran Shezi yang telah mengenakan pakaian lengkap tampak berdiri di belakangnya dengan tatapan kosong.


" Kamu ngagetin aja sih Zi. Kapan Kamu bangun dan ganti baju Sayang...?" tanya Rex sambil menyentuh pipi Shezi dengan lembut.


Namun Rex terkejut saat merasakan kulit dingin sang istri.


" A... apa yang terjadi Nyai. Kenapa Istriku begini...?" tanya Rex panik.


" Gapapa Rex. Itu artinya raga Istrimu telah siap menerima kehadiranku...," sahut Nyai Hadini.


Rex mengangguk tanda mengerti lalu membantu mendudukkan Shezi di kursi teras. Setelahnya Nyai Hadini pun memulai aksinya.


" Sekarang Aku pamit ya Rex. Terima kasih untuk semua waktu yang telah Kau dan Istrimu berikan untukku. Terima kasih...," kata Nyai Hadini.


" Sama-sama Nyai. Terima kasih juga untuk semua yang telah Kamu berikan untukmu. Pergi lah, Aku akan membantumu dengan doa...," sahut Rex sambil mulai melantunkan doa.


Wujud Nyai Hadini perlahan pun berubah menjadi asap tipis yang sebagian masuk ke dalam tubuh Shezi dan sebagian lain melayang ke langit.


Perlahan Shezi membuka matanya dan terkejut melihat dirinya ada di teras kamar bersama suaminya.


" Apa yang Kita lakukan di sini Sayang...?" tanya Shezi tiba-tiba.


" Menikmati malam di tengah taman cantik buatan Istriku...," sahut Rex sambil tersenyum.


" Jangan memuji terus, Aku jadi malu nih...," kata Shezi sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.


Rex tertawa lalu menggendong Shezi untuk kembali ke kamar mereka. Shezi pun bersandar manja pada sang suami hingga mereka tiba di kamar yang telah kembali rapi.


Sikap Shezi yang malu-malu membuat Rex yakin jika kehadiran Nyai Hadini di dalam tubuhnya tak akan membuat istri cantiknya itu berubah.


Rex pun percaya jika masa depannya bersama Shezi akan bahagia. Apalagi belum lama ini Rex menemukan test pack bergaris dua dan surat keterangan dokter yang menyatakan kehamilan Shezi di laci meja rias.


Rupanya Shezi ingin memberi kejutan untuknya. Dan Rex berniat untuk berpura-pura terkejut saat Shezi mengakui kehamilannya nanti.


Dan kisah Kidung Petaka pun berakhir di sini.


\=\=\=\=\= S E L E S A I \=\=\=\=\=


# Assalamualaikum wr wb untuk para readers tersayang...


Terimakasih telah membaca novel 'Kidung Petaka' hingga selesai.


Terima kasih juga atas suportnya berupa like, komentar, hadiah, vote dan bintang yang telah readers berikan. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan readers sekalian.


Mohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangan yang penulis lakukan, baik disengaja atau tidak.


Insya Allah Kita bisa bersua lagi dalam novel-novel berikutnya.


Akhirul kalam, Walhamdulillah dan terima kasih.


Wassalamu'alaikum wr wb... #


Penulis


( ummiqu )