Kidung Petaka

Kidung Petaka
55. Menghindar Lagi


Pagi itu suasana di dalam rumah Ramon lebih ramai dari biasanya. Gelak tawa terdengar memenuhi seisi rumah. Itu dikarenakan Rex yang menceritakan pengalaman lucunya saat bertugas.


" Daritadi cerita tentang anak pengungsi, program TTMD sama begal terus sih Rex. Yang lain dong...," pinta Lilian sambil menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya.


" Yang lain gimana sih maksud Kamu Kak. Kan Rex emang berhadapan sama pengungsi dan begal di sana...," kata Lanni menengahi.


" Ga percaya Bu. Pasti ada cewek juga kan di sana...," sahut Lilian sambil melirik kearah sang adik dengan tatapan usil.


Rex yang mengerti maksud sang kakak pun hanya menggelengkan kepalanya.


" Ga ada Kak...," kata Rex.


" Ga ada atau Kamu yang sok jual mahal...?" tanya Lilian tak percaya.


" Sok jual mahal gimana sih maksud Kakak...?" tanya Rex.


" Maksud Kak Lian tuh Lo sok kegantengan Rex...!" sahut Gama lantang dari ambang pintu.


Semua menoleh kearah pintu dan tersenyum melihat kehadiran Gama kecuali Lilian. Gadis itu langsung menekuk wajahnya saat melihat Gama berjalan masuk ke ruang makan.


" Salam dulu dong Gam, kebiasaan nih Kamu...," celetuk Lanni sambil menggelengkan kepala.


Gama tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Maaf Bu, Aku lupa. Assalamualaikum semua...! " sapa Gama lantang dengan gaya tengilnya.


" Wa alaikumsalam..., " sahut Ramon dan keluarganya.


Setelahnya Rex berdiri menyambut Gama yang berjalan cepat kearahnya. Kedua pria itu saling memeluk sambil melompat dan tertawa layaknya dua anak kecil yang menang lomba. Ramon, Lanni dan Lilian pun ikut tertawa melihat tingkah mereka.


" Makan sekalian yuk Gam...," kata Lanni sambil menyodorkan piring kosong kepada Gama.


" Mau banget Bu. Aku kesiangan dan belum sempet masak tadi...," sahut Gama sambil duduk di samping Rex dan tepat bersebrangan dengan tempat Lilian duduk.


" Cih, alesan !. Bilang aja Lo sengaja nebeng makan di sini...," kata Rex sambil mencibir.


Ucapan Rex membuat Gama tertawa. Namun Gama nampak tak peduli dan mulai meletakkan nasi beserta lauknya di atas piring.


" Tau aja Lo Rex. Abis masakan Ibu kan enak, beda sama masakan Gue...," sahut Gama cuek lalu mulai menyantap makanan di hadapannya dengan lahap.


" Ga usah modus deh Lo. Gue tau kok maksud Lo...!" kata Rex tegas namun membuat Gama tersedak dan terbatuk-batuk.


Saat itu lah Gama sengaja melirik kearah Lilian. Ia ingin tahu bagaimana reaksi gadis itu. Ternyata Lilian juga sedang menatap kearahnya. Dan saat tatapan mereka bertemu, dengan cepat Lilian membuang pandangannya kearah lain dengan mimik wajah yang sulit dibaca.


" Eh, kok batuk sih Gam. Hati-hati dong makannya, ga usah buru-buru. Ga ada yang minta kok...," kata Ramon sambil tertawa.


Wajah Gama memerah dan itu membuat Rex iba. Ia menyodorkan gelas miliknya kearah Gama yang langsung meraihnya lalu meneguk isinya hingga tandas.


Tingkah Gama membuat Lilian gelisah. Ia nampak mengeratkan genggaman tangannya pada sendok dan garpu yang ada di tangannya. Rupanya Lilian juga merasa jika ucapan Rex mengenai sasaran dengan telak.


" Alhamdulillah, akhirnya...," kata Gama setelah batuknya reda.


" Pake batuk segala, mau tambah pinter Lo Gam...?!" tanya Rex sambil menatap Gama kesal.


" Apaan sih Rex, ga mudeng Gue...," sahut Gama sambil melanjutkan makannya yang terhenti tadi.


" Biasanya kan kalo anak kecil sakit katanya mau tambah pinter Gam. Nah barusan Lo batuk-batuk, jangan-jangan Lo mau pinter juga...," kata Rex santai.


Gama terdiam sejenak lalu tertawa keras diikuti semua orang.


" Sakit monyong !. Lepasin ga...!" protes Rex sambil menepis tangan Gama hingga membuat Ramon dan Lanni tertawa.


" Aku berangkat sekarang ya Bu...," kata Lilian tiba-tiba.


Lanni menoleh lalu menganggukkan kepalanya. Kemudian Lilian mencium punggung tangan kedua orangtuanya bergantian dengan khidmat.


" Ok. Bareng sama Gama kan...?" tanya Lanni.


" Ga usah Bu. Gama belum selesai makan tuh. Lagian kan Rex juga masih kangen sama Gama...," sahut Lilian sambil meraih tas miliknya yang ia letakkan di atas sofa.


" Aku udah selesai kok Bu. Kalo ngobrol sama Rex kan bisa ntar aja pas Rex ke bengkel...," sela Gama.


" Ga perlu Gam. Gue udah janji sama temen Gue...," sahut Lilian tanpa menoleh kearah Gama lalu bergegas melangkah keluar sambil mengenakan jaketnya.


" Ok, ga masalah...," sahut Gama sambil menatap kepergian Lilian.


Diam-diam Gama mengepalkan tangannya di bawah meja karena tahu Lilian sedang menghindar darinya.


" Ibu ke depan sebentar ya, Kalian lanjutin aja makannya...," kata Lanni yang diangguki Ramon, Rex dan Gama.


" Terus gimana bengkel Lo Gam...?" tanya Rex sambil menatap Gama yang kembali meletakkan nasi dan lauknya di atas piring.


" Alhamdulillah kondisi aman. Rame lancar, mirip jalan raya...," sahut Gama cepat hingga membuat Rex tersenyum.


" Kata Lo tadi udahan makannya, kok sekarang malah nambah...?" sindir Rex hingga membuat Gama tertawa.


" Lo tau kan gimana Kak Lian. Dia pasti marah kalo harus nunggu. Makanya daripada ribut, lebih baik Gue ngalah dan bilang kalo udah selesai makan tadi. Iya ga...," sahut Gama santai.


Jawaban Gama berhasil membuat Rex dan ayahnya mengangguk maklum.


Tak lama kemudian Lanni kembali bergabung dan melanjutkan makannya yang sempat terhenti karena melepas kepergian Lilian tadi.


" Kakak udah berangkat Bu...?" tanya Rex.


" Udah...," sahut Lanni cepat.


" Siapa sih temennya Lian itu Bu, cewek atau cowok...?" tanya Ramon tiba-tiba.


" Cowok Yah. Katanya sih security di Rumah Sakit. Sekarang dia ngontrak deket sini, makanya bisa berangkat dan pulang bareng sama Lian kalo pas shiftnya samaan...," sahut Lanni.


" Sekali-sekali suruh mampir lah Bu. Ayah juga mau kenal sama dia...," pinta Ramon.


" Iya Yah, Ibu juga bilang gitu sama Lian. Tapi katanya cowok itu masih sibuk gantiin shift temennya yang pulang kampung, jadi belum sempet mampir. Insya Allah kalo udah senggang dia mau mampir dan kenalan sama Kita...," sahut Lanni.


" Bagus deh. Ayah cuma mau Lian jujur dan terbuka. Siapa pun pria yang dipilihnya nanti Ayah harap bisa melindungi Lian, menyayanginya dengan tulus dan membimbingnya ke jalan yang benar...," kata Ramon bijak.


" Ibu setuju Yah...," sahut Lanni sambil tersenyum.


Obrolan Ramon dan Lanni membuat Gama gelisah. Satu sisi ia senang karena merasa memiliki kriteria yang dimaksud Ramon. Tapi sisi hatinya yang lain merasa cemburu dan tak ingin Lilian dekat dengan pria lain.


Sejak insiden ciuman Gama malam itu, sejak saat itu pula hubungan Gama dan Lilian merenggang. Gama berusaha mendekati Lilian dan meminta maaf. Gama juga bertekad mengungkapkan perasaannya pada gadis itu dan melamarnya, walau dengan resiko Lilian akan menolaknya. Gama juga siap menanggung segala resiko yang akan terjadi jika keluarga mereka tak merestui niat baiknya itu.


Namun Lilian yang terlanjur kecewa nampak enggan berinteraksi dengan Gama dan memilih terus menghindar.


Ramon dan Lanni sama sekali tak mengetahui jika Lilian dan Gama sedang terlibat perang dingin. Rupanya Gama dan Lilian pandai menyembunyikan permusuhan mereka hingga Ramon dan Lanni tak menyadari sikap mereka yang berbeda.


\=\=\=\=\=