Kidung Petaka

Kidung Petaka
137. Belum Lengkap


Kemudian Arini memulai ceritanya.


" Zada memang sulit beradaptasi. Mungkin karena masih trauma sama penyiksaan yang dilakukan Bapak tirinya itu. Sebelumnya Saya udah membicarakan hal ini dengan keluarga dan Kami berniat menitipkan Zada pada salah satu famili yang belum memiliki keturunan. Tapi Suami dan anak-anak Saya justru meminta Zada tinggal bersama Kami. Dan saat pertama kali dibawa masuk ke keluarga ini Zada terlihat ga nyaman. Dia selalu ketakutan melihat Suami dan anak laki-laki Saya yang bernama Andra. Kalo sama Aira, dia bisa langsung dekat...," kata Arini sambil tersenyum.


" Pasti butuh waktu lama untuk membiasakan diri dengan anak dan suami Ibu itu...," kata Ramon.


" Betul Pak Ramon. Tiap kali berdekatan dengan Andra dan Papanya, tubuh Zada menggigil hebat. Kami udah mendatangkan psikolog untuk menangani Zada. Alhamdulillah kondisi Zada berangsur membaik. Dia mulai bisa tertawa bersama suami dan anak Saya tanpa takut akan dilukai. Bahkan Zada udah jadi anak bungsu di rumah ini karena Kami semua menyayanginya...," sahut Arini sambil tersenyum.


Ucapan Arini membuat Rex dan Ramon ikut tersenyum bahagia. Apalagi Arini juga menunjukkan foto-foto bukti kebersamaan keluarga kecilnya itu dengan Zada.


" Ini waktu Kami lagi jalan-jalan ke Jogja pas liburan sekolah. Yang ini saat Kami di dalam penginapan. Nah ini Zada waktu berdiri di dekat jendela sambil menatap takjub pemandangan di luar jendela...," kata Arini dengan suara bergetar.


Ramon dan Rex menatap lembaran foto-foto Zada saat remaja itu dengan hati miris. Meski luka gores di wajah dan tangan Zada masih terlihat jelas, tapi kedua mata Zada berbinar bahagia pertanda gadis itu nyaman dengan lingkungan dan semua orang yang ada di sekitarnya. Sayangnya di foto itu wajah Zada tak terlihat jelas karena Zada selalu menyembunyikan wajahnya di balik rambut panjangnya itu.


" Apakah Zada sekolah...?" tanya Ramon.


" Iya. Awalnya Zada ikut program kejar paket A dan B untuk mengejar ketinggalannya Setelah mendapat ijasah SD dan SMP, Zada kami daftarkan sekolah di SMA swasta di kota ini...," sahut Arini cepat.


" Apa Zada bisa hidup normal layaknya remaja seusianya Bu...?" tanya Ramon.


" Bisa Pak Ramon. Zada bisa mengikuti pelajaran dan berinteraksi dengan teman-temannya. Walau nilai Zada terbilang rendah, tapi Saya dan Suami selalu menyemangati Zada. Kami bilang tiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Mungkin Zada rendah dalam nilai akademik, tapi siapa tau Zada punya kemampuan lain yang bisa bermanfaat untuk membantu banyak orang nanti. Dan Zada senang mendengarnya. Berkali-kali dia bilang terima kasih sama Saya dan Suami Saya. Kami sempet bingung waktu itu, tapi Kami mencoba berpikir positif aja...," sahut Arini dengan mata berkaca-kaca.


" Setelah lulus SMA apa kegiatan Zada...?" tanya Ramon.


" Zada kuliah di salah satu kampus swasta. Awalnya dia menolak karena khawatir membebani Saya dan Suami. Tapi paksaan Aira dan Andra bikin Zada menuruti keinginan Kami. Apalagi Aira memberitahu pentingnya pendidikan untuk masa depan mereka kelak. Tapi setelahnya Saya menyesali keputusan itu. Karena keputusan Kami menguliahkan Zada justru telah menjauhkan Zada dari Kami untuk selamanya...," kata Arini sambil menitikkan air mata.


Rex dan Ramon saling menatap sejenak. Mereka sadar jika cerita Arini akan sampai pada penyebab kematian Zada. Mereka berusaha sabar menunggu Arini selesai meluapkan emosinya.


" Pagi itu Zada pamit mau berangkat kuliah. Biasanya dia mau diantar, tapi pagi itu Zada menolak dan bilang kalo udah janjian sama seseorang. Sebelumnya Aira lah yang rutin mengantar Zada kuliah sekalian berangkat kerja...," kata Arini sambil mengusap matanya yang basah.


" Apa yang terjadi Bu Arini...?" tanya Rex tak sabar.


" Siang itu masuk sebuah telephon dari nomor tak dikenal ke ponsel Saya. Karena tak mengenal nomor tersebut, Saya mengabaikannya begitu saja. Tapi nomor asing itu mengirim pesan dan foto Zada dalam kondisi terikat. Itu yang bikin Saya panik. Saya langsung menghadap atasan Saya dan meminta bantuan untuk melacak keberadaan Zada...," kata Arini.


" Apa isi pesannya Bu...?" tanya Rex penasaran.


" Terus...?" tanya Rex dan Ramon tak sabar.


" Saat Polisi berhasil mendatangi tempat itu, Zada sudah tewas bersimbah darah. Zada meninggal sebelum Kami datang Pak. Dan yang menyedihkan Zada juga dilecehkan sebelum tewas...," sahut Arini sambil menangis.


Rex dan Ramon terkejut mendengar ucapan Arini. Keduanya hanya bisa saling menatap dalam diam tanpa mengatakan apa-apa.


Sambil menunggu tangis Arini mereda, Rex mencoba mengamati foto-foto Zada semasa hidupnya. Rex mengerutkan keningnya saat melihat semua foto Zada tak terlihat jelas. Posisi Zada saat difoto kebanyakan menampilkan Zada dari tampak samping dan belakang. Jika ada dari tampak depan biasanya Zada akan menunduk atau menutupi wajahnya dengan benda yang dipegangnya. Entah mengapa Zada terlihat sengaja menyembunyikan wajahnya dari jepretan kamera.


Diam-diam Rex mengambil dua lembar foto Zada lalu memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Mungkin terlihat tak sopan, tapi Rex merasa jika cerita Arini belum lengkap dan dia berniat menyelidikinya nanti.


" Dimana Zada dimakamkan Bu...?" tanya Ramon.


" Di pemakaman umum Pak Ramon. Apa Pak Ramon mau ke sana juga...?" tanya Arini.


" Maafkan jika terkesan memaksa. Saya hanya merasa ikut bertanggung jawab pada Zada. Bagaimana pun Saya dan keluarga Saya yang melaporkan tindak kekerasan yang diterima Zada kepada Polisi...," sahut Ramon memberi alasan.


" Saya mengerti Pak Ramon. Justru Saya mau minta maaf karena telah menjauhkan Zada dari Anda dan keluarga. Waktu itu Saya hanya menuruti saran psikolog yang mengatakan jika trauma Zada bisa sembuh jika dijauhkan dari semua yang memicu traumanya termasuk lingkungan dan orang-orang yang berada di dalamnya...," kata Arini tak enak hati.


" Oh ya. Bukannya seharusnya Zada diperlihatkan semuanya supaya bisa lebih kuat menghadapi hidupnya nanti Bu...?" tanya Ramon.


" Itu bisa dilakukan saat Zada sudah sembuh dan normal Pak Ramon. Dia bisa dipertemukan dengan semua orang dari masa lalunya dan datang ke lingkungan tempat trauma itu terjadi tanpa harus takut histeris lagi...," sahut Arini hingga membuat Ramon mengangguk.


Ramon ingat jika ia kesulitan mendapat informasi tentang Zada setelah Tako dan istrinya ditangkap. Semua seperti raib begitu saja. Ramon hanya tahu jika Zada tinggal di rumah keluarga salah seorang polisi di sana.


Ramon melakukan itu karena ingin memastikan Zada hidup dengan baik di luar sana. Saat salah seorang rekan Arini menyampaikan jika Zada hidup bahagia bersama Arini dan keluarganya, Ramon pun mundur teratur. Ia yakin Arini bisa menjaga Zada jauh lebih baik darinya mengingat profesi Arini dan suaminya yang juga polisi.


Setelahnya Arini membawa Ramon dan Rex ziarah ke makam Zada. Suasana mencekam di sekitar makam Zada membuat bulu kuduk Rex meremang, padahal saat itu siang hari dan cuaca cerah.


Ramon dan Rex mengirimkan doa tulus untuk Zada. Dan entah mengapa saat itu Ramon menitikkan air mata seolah merasa sedih yang amat sangat. Padahal jika diingat ia baru beberapa kali bertemu Zada. Pembicaraan diantara mereka pun hanya terjadi dua kali saat di rumah Rusminah dan di kantor polisi.


Sedangkan Rex nampak menatap nisan bertuliskan nama Zada dengan perasaan yang berkecamuk. Dan saat itu lah Rex berjanji untuk mencari dan menemukan siapa dalang di balik Kematian Zada.


bersambung