Kidung Petaka

Kidung Petaka
156. Mendadak Sembuh ?


Rex masih termenung sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk bisa mengungkap Kematian Zada.


" Pelakunya harus ditangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tak peduli ia anak siapa atau menantu siapa. Keadilan tetap harus ditegakkan...," kata Rex pada akhirnya.


Ucapan Rex membuat Nyai Hadini tersenyum.


" Aku senang Kamu melakukan itu Rex. Aku akan mendukung upayamu agar Zada bisa mendapatkan keadilan...," kata Nyai Hadini.


" Bukan kah selama ini Nyai selalu membantuku...?" tanya Rex sambil menoleh kearah Nyai Hadini.


" Apa maksudmu...? " tanya Nyai Hadini.


" Ayo lah Nyai. Aku ingat sekarang kalo Kita pernah bertemu dalam beberapa kesempatan. Bukan kah Nyai yang selalu mengirimiku tanda jika akan terjadi sesuatu yang buruk di sekitarku...?" tanya Rex gusar.


" Tanda apa...?" tanya Nyai Hadini.


Mendengar pertanyaan Nyai Hadini membuat Rex ragu jika wanita di hadapannya itu adalah wanita yang telah bersenandung untuk mengingatkannya bahwa akan terjadi sebuah musibah di dekatnya.


Nyai Hadini tersenyum melihat wajah Rex yang kebingungan. Ia menepuk pundak Rex dengan lembut. Dan saat itu lah Rex merasa hembusan udara sejuk menyapa seluruh permukaan kulitnya. Sangat sejuk dan nyaman hingga membuat kedua matanya terpejam.


Tiba-tiba Rex mendengar suara gaduh di sekitarnya. Rupanya saat itu team medis tengah berada di ruangan dimana Rex dirawat dan sedang melakukan pemeriksaan pada luka bakar yang dideritanya.


" Ini mustahil. Saya sendiri yang membalut lukanya kok...," kata seorang perawat.


" Betul dok. Saya emang ga ikut membalut, tapi Saya bantu megangin tangan dan kaki pasien saat dibalut supaya pasien ga kesakitan...," kata perawat lainnya.


" Iya iya. Saya percaya Suster. Lagi pula kan Saya juga ada di sana saat itu. Cuma yang bikin bingung kemana semua lukanya ?. Kenapa kulitnya bersih seperti ga pernah terjadi apa-apa...?" tanya dokter Hari gusar.


" Jangan-jangan luka yang kemarin itu salah diagnosa dok...," kata seorang perawat tanpa sadar.


Ucapan sang perawat membuat semua mata menatap kesal kearahnya termasuk dokter Hari.


" Maksud Kamu Saya yang salah mendiagnosa sakit pasien padahal jelas-jelas terlihat lukanya adalah luka bakar...?!" tanya dokter Hari dengan mimik wajah tak suka.


" Eh, maaf dok. Bukan begitu maksud Saya...," sahut sang perawat tak enak hati.


" Terus apa maksud Kamu ?. Kamu ingat ga kalo Polisi yang mengantar pasien ke sini bilang kalo pasien adalah korban ledakan mobil Travel di SPBU. Dan itu artinya jelas ada unsur api di sana. Jadi luka yang terjadi pun bisa dipastikan sebagai luka bakar. Paham kan Sus...?!" tanya dokter Hari lantang.


" I... iya dok. Saya paham, maaf...," sahut perawat itu sambil menundukkan kepalanya..


Mendengar perdebatan tiga perawat dan seorang dokter itu membuat kepala Rex berdenyut nyeri. Ia pun berusaha bangkit dari posisi tidurnya hingga membuat perawat dan dokter terkejut.


" Eh, mau kemana Mas...?" tanya dua perawat bersamaan sambil memegangi kedua tangan dan pundak Rex.


" Mau keluar...," sahut Rex cepat.


" Tapi Kami sedang mengecek kondisi kesehatan Anda Mas...," kata perawat lain sambil menahan senyum.


" Kondisi kesehatan, tapi Saya gapapa kok...," sahut Rex sambil mengamati sekujur tubuhnya.


Rex terkejut saat melihat perban bekas di sekitarnya. Ia ingat jika sebelumnya ia mengalami luka bakar parah akibat ledakan mobil si SPBU beberapa waktu yang lalu. Dan yang membuat Rex lebih terkejut adalah kondisi kulitnya yang baik-baik saja, tetap mulus dan bersih seperti sebelumnya.


" Ini..., bukannya sebelumnya Saya mengalami luka bakar parah ya...?" tanya Rex ragu sambil menatap dokter dan ketiga perawat di hadapannya bergantian.


" Betul...!" sahut dokter dan tiga perawat itu bersamaan.


" Itu yang sedang Kami perdebatkan tadi Mas. Luka bakar di sekujur permukaan kulit Anda lenyap tak bersisa. Bukankah ini aneh...?" tanya dokter Hari sambil menatap Rex lekat.


" Masa sih. Semuanya dok...?" tanya Rex tak percaya.


" Kami belum liat semua. Suster tolong bantu buka perban di bagian kakinya ya. Hati-hati, jangan terburu-buru karena bisa melukai pasien nanti...," kata dokter Hari.


" Baik dok...," sahut ketiga perawat lalu mulai membuka perban yang membalut kaki dan bagian bawah tubuh Rex dengan hati-hati.


Rex dan dokter Hari menahan nafas saat perawat mulai menggunting perban yang membalut kaki Rex. Sesaat kemudian sang perawat nampak tersenyum lebar saat mendapati kondisi kulit Rex yang baik-baik saja.


" Ternyata kulitnya memang ga kenapa-kenapa dok. Mulus kaya ga pernah kebakar sama sekali...!" kata seorang perawat dengan takjub.


" Yang sebelah sini juga sama dok...," kata perawat lain.


Dokter Hari nampak mengusap wajahnya saat mendapati keajaiban di depan matanya. Bagaimana mungkin luka bakar yang mencapai enam puluh persen itu bisa hilang begitu saja.


" Masya Allah. Ini memang keajaiban dari Allah. Selamat ya Mas. Setelah ini Mas bisa dipindahkan ke ruang rawat inap biasa...," kata dokter Hari sambil menjabat tangan Rex.


" Alhamdulillah. Apa itu artinya Saya dinyatakan sembuh dok...?" tanya Rex penuh harap.


" Luka bakar Anda memang sembuh, tapi Anda masih harus menjalani proses pengobatan untuk menangani sesak nafas akibat menghirup asap kemarin Mas. Saya harap ini ga jadi pemicu penyakit lain seperti asma misalnya...," sahut sang dokter.


" Oh begitu. Makasih ya dok...," kata Rex sambil tersenyum lebar.


" Sama-sama. Kalo gitu biar perawat membantu membersihkan bekas luka dan perban di tubuh Anda. Setelahnya Anda bisa pindah ke ruang rawat inap biasa...," kata dokter Hari sambil tersenyum.


" Baik dok...," sahut Rex cepat.


" Kalo udah, tolong bantu proses pemindahan pasien ke ruang rawat inap ya Sus...," kata dokter Hari sambil berjalan keluar ruangan diikuti seorang perawat m


" Baik dok...!" sahut dua perawat yang membantu membuka perban Rex bersamaan.


Rex menatap kepergian sang dokter sambil tersenyum. Kemudian ia mengalihkan pandangannya untuk mengamati kedua perawat yang tengah membuka perban yang membalut lukanya.


" Apa ini di luar kebiasaan Sus...?" tanya Rex.


" Apanya Mas...?" tanya sang perawat.


" Luka bakar Saya Sus. Emang biasanya luka bakar itu gimana sih, kok Kalian keliatan bingung tadi...?" tanya Rex penasaran.


" Oh itu. Begini Mas, luka bakar Mas ini kan lumayan parah. Kalo diprosentase tuh mencapai enam puluh persen lho Mas. Bahkan dokter aja masih harus melakukan observasi untuk memastikan metode apa yang tepat untuk menangani luka bakar ini. Tapi pas perban dibuka tadi Kita kaget. Soalnya luka bakar yang Mas derita mendadak hilang tanpa bekas...," sahut seorang perawat.


" Betul Mas. Padahal dokter dan keluarga Mas juga sudah merencanakan akan melakukan tindakan operasi untuk memulihkan kondisi kulit Anda nanti...," kata perawat lain menambahkan.


" Oh ya. Jadi dengan kata lain ini keajaiban karena luka bakar Saya sembuh, hilang dengan sendirinya tanpa harus menjalani operasi...?! " tanya Rex tak percaya.


" Betul Mas...," sahut kedua perawat sambil tersenyum.


" Alhamdulillah..., " gumam Rex sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Rex memang terlihat bahagia saat mengetahui dirinya sembuh. Dan ia yakin jika Nyai Hadini lah yang telah membantu menyembuhkan luka bakarnya itu.


bersambung