Kidung Petaka

Kidung Petaka
192. Bertemu Keluarga


Perbincangan hangat pun terjadi antara keluarga Rex dengan dokter Aksara.


Lanni, Mira dan Lilian nampak langsung akrab dengan sang dokter. Rex pun tersenyum bahagia melihat keakraban mereka.


" Jadi dia dokter...," kata Gama sambil duduk di samping Rex.


" Iya...," sahut Rex cepat.


" Ketemu dimana...?" tanya Gama.


" Kan Aksara udah bilang tadi kalo Gue sama dia ketemu pertama kali waktu tugas di Madura. Emang Lo ga nyimak dia ngomong apa daritadi...?" tanya Rex.


" Ga lah, ngapain nyimak omongan cewek-cewek itu. Bikin puyeng...," sahut Gama sambil melengos.


Rex tersenyum mendengar ucapan Gama. Ia tahu jika sejak mengikrarkan hubungannya dengan Lilian, sejak itu lah Gama membatasi diri untuk berinteraksi dengan wanita. Itu dilakukan sebagai bukti cintanya pada Lilian dan Rex bangga akan hal itu.


Tak lama kemudian Ramon dan Gondo datang hingga membuat suasana kamar menjadi lebih ramai.


Dokter yang mengecek kondisi Lilian pun tampak menggelengkan kepala.


" Ngeliat suasana yang seperti ini Saya yakin Kamu bakal cepet sembuh Suster Lilian...," kata sang dokter sambil tersenyum.


" Alhamdulillah. Itu artinya Saya bisa pulang besok kan dok...?" tanya Lilian penuh harap.


" Tentu. Tapi sore ya, karena pagi Saya mau ngecek Kamu sekali lagi...," sahut sang dokter.


" Baik dok, makasih...," kata Lilian dengan wajah berbinar.


" Sama-sama. Saya permisi dulu ya. Mari Pak, Bu...," kata sang dokter dengan ramah.


" Iya dok, makasih...," sahut semua orang.


" Aku seneng ngeliat Kamu pulih lebih cepat Sayang...," kata Gama sambil memeluk Lilian dengan erat.


" Itu karena suport semua orang terutama Kamu yang udah bikin Aku merasa jauh lebih baik...," sahut Lilian sambil menyentuh wajah Gama dengan lembut.


" Setelah ini Kita bisa program hamil lagi kan Sayang. Aku janji bakal lebih hati-hati jagain Kamu nanti...," kata Gama lalu mengecup pipi Lilian dengan lembut.


Belum sempat Lilian menjawab sudah terdengar teriakan Gama yang mengaduh kesakitan. Rupanya kepalanya baru saja ditimpuk dengan sandal oleh Mira.


" Aduuhh...!, apaan sih Mama. Sakit tau Ma...!" kata Gama sambil menoleh kearah sang mama.


" Ga usah lebay deh, itu cuma sandal gabus bukan kayu...," sahut Mira sambil melengos sebal.


" Tapi kenapa Mama nimpuk Aku pake sandal...?!" tanya Gama tak terima.


" Karena omongan Kamu tuh nyeleneh...," sahut Mira ketus.


" Nyeleneh gimana sih Ma...?" tanya Gama tak mengerti.


" Lilian baru aja keguguran, masih sakit, masih nyeri, masih pendarahan juga. Eh, bisa-bisanya Kamu rencanain punya bayi lagi dalam waktu dekat. Kamu tuh egois banget Gam !. Mama malu ngedengernya...," sahut Mira sambil melotot.


" Ya Allah, Mama tuh salah paham. Aku juga ga maksud gitu Ma. Aku cuma mau menghibur Lian supaya ga sedih berlarut-larut karena Kami masih punya banyak kesempatan untuk punya bayi lagi...," kata Gama menjelaskan.


" Oh gitu toh. Maaf deh kalo Mama salah...," sahut Mira dengan santai hingga membuat semua orang tertawa termasuk Lilian dan dokter Aksara.


" Ck, minta maafnya santai banget kaya ga sadar kalo udah bikin kepala orang benjol...," gerutu Gama sambil berdecak sebal.


" Jangan ngambek dong Sayang. Mama kan udah minta maaf tadi...," bujuk Lilian sambil mengusap lengan sang suami dengan lembut.


" Iya Sayang...," sahut Gama sambil tersenyum.


Semua orang ikut tersenyum melihat sikap Gama yang melunak itu.


" Jadi Aksara ini dokter juga...?" tanya Ramon tiba-tiba sambil menoleh kearah dokter Aksara.


" Iya Om. Sekarang Saya masih dokter umum...," sahut dokter Aksara.


" Masih dokter umum, apa itu artinya Kamu bakal ikut pendidikan lagi untuk ambil gelar dokter spesialis nanti...?" tanya Ramon.


" Insya Allah kalo ga ada halangan rencananya sih gitu Om...," sahut dokter Aksara cepat.


" Wah hebat. Rencananya mau ambil spesialis apa...?" tanya Ramon.


" Mungkin gigi atau kulit Om. Saya juga masih nimbang mana yang lebih baik untuk Saya...," sahut dokter Aksara malu-malu.


" Bagus. Pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan. Jangan lupa doa, minta petunjuk sama Allah mana yang terbaik. Karena yang terbaik menurut Kita kadang bukan terbaik menurut Allah lho Nak...," kata Ramon bijak.


" Iya Om...," sahut dokter Aksara.


" Yang penting sekarang lakukan tugasmu dengan baik, insya Allah Kamu juga bakal dapat yang terbaik nanti...," sela Lanni sambil mengusap punggung dokter Aksara dengan lembut.


Ucapan Ramon dan Lanni telah membuat hati dokter Aksara tersentuh. Ia merasa terharu dengan perhatian yang diberikan oleh kedua orangtua kekasihnya itu.


" Kenapa melamun...?" tanya Rex saat mereka tengah menyusuri koridor Rumah Sakit menuju parkiran.


" Gapapa. Aku seneng aja bisa ngobrol sama keluarga Kamu tadi. Hangat dan kocak...," sahut dokter Aksara sambil tersenyum.


" Apa Kamu merasa nyaman bersama mereka...?" tanya Rex sambil mengeratkan genggaman tangannya pada jemari sang kekasih.


Saat itu mereka telah tiba di parkiran Rumah Sakit tepat di samping mobil dokter Aksara.


" Iya...," sahut dokter Aksara malu-malu.


" Kamu merasa ga kalo mereka merestui hubungan Kita...?" tanya Rex.


" Apa Kamu merasa begitu...?" tanya dokter Aksara sambil menengadahkan wajahnya.


" Iya...," sahut Rex sambil menatap sang kekasih dengan lembut.


Dokter Aksara pun tersenyum mendengar ucapan Rex. Ia mengeratkan genggaman tangan kanannya dan satu tangan lainnya ia gunakan untuk menyentuh wajah Rex.


Tiba-tiba Rex memajukan wajahnya lalu mengecup bibir sang kekasih dengan cepat hingga mengejutkan dokter Aksara.


" Apaan sih Kamu...," kata dokter Aksara sambil membuang pandangannya kearah lain dengan wajah merona.


Rex pun tersenyum lalu meraih sang kekasih ke dalam pelukannya. Dokter Aksara pun membalas pelukan Rex dengan lembut.


Sesaat kemudian keduanya saling mengurai pelukan lalu tertawa bersama.


" Aku anter pulang ya...," kata Rex.


" Boleh, tapi pake mobil Aku aja ya...," pinta dokter Aksara.


" Ok Sayang...," sahut Rex.


Dokter Aksara tersenyum lalu menyerahkan kunci mobilnya kepada Rex. Dan tak lama kemudian mobil dokter Aksara terlihat keluar dari area Rumah Sakit.


\=\=\=\=\=


Setelah mengantar sang kekasih pulang ke rumah, Rex memutuskan kembali ke Rumah Sakit tempat Lilian dirawat.


Saat membuka pintu kamar hanya terlihat Gama dan Lilian. Rupanya orangtua mereka telah pulang untuk istirahat.


" Assalamualaikum..., " sapa Rex sambil menutup pintu kamar.


" Wa alaikumsalam. Kok balik lagi Rex, emangnya ada yang ketinggalan...? " tanya Lilian.


" Ga Kak. Aku cuma mau nemenin Kakak aja di sini. Kemana empat sekawan itu...?" tanya Rex sambil duduk lalu melepaskan sepatunya.


Lilian dan Gama tersenyum mendengar julukan yang diberikan oleh Rex untuk orangtua mereka.


" Udah pulang. Kasian mereka, kalo di sini ga bisa tidur nyenyak. Lagian kan udah ada Suamiku dan Aku baik-baik aja sekarang, jadi ga perlu ditungguin rame-rame...," sahut Lilian sambil tersenyum kearah suaminya.


Gama balas tersenyum sambil mengusap pipi sang istri dengan lembut.


Rex tersenyum melihat kemesraan Gama dan Lilian. Kemudian Rex melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian Rex keluar dengan wajah fresh.


" Pake ini Rex...," kata Gama sambil melempar kaos miliknya kearah Rex yang dengan sigap menangkapnya.


" Siiipp, thanks Bro...," sahut Rex yang diangguki Gama.


Kemudian Rex menuju sofa dan berbaring di sana. Gama pun mendekati Rex lalu duduk di sampingnya.


" Apa makhluk itu masih di sini Rex...?" tanya Gama.


" Iya. Makanya Gue di sini sekarang...," sahut Rex cepat.


" Apa maunya sih, apa ga cukup dia bikin Istri Gue sakit...?" tanya Gama kesal.


" Sssttt..., ga usah berisik. Sebaiknya Lo temenin Kak Lian di tempat tidur. Biar Gue yang ngawasin di sini...," kata Rex sambil mendorong Gama agar menjauh.


Gama pun menuruti saran Rex. Ia naik ke atas tempat tidur Lilian lalu memeluk sang istri dengan erat. Lilian yang mulai terpejam pun kembali membuka matanya.


" Kenapa tidur di sini...?" tanya Lilian.


" Kangen...," bisik Gama sambil mengeratkan pelukannya.


Lilian pun tersenyum lalu membenamkan wajahnya ke dalam pelukan sang suami. Sementara itu Rex masih terjaga sambil mengamati pergerakan bayangan hitam itu.


\=\=\=\=\=