
Di saat Reni mengejang tak berdaya, dua orang pria datang mendekat.
" Kita terlambat...," kata salah seorang pria sambil menyentuh urat nadi di pangkal leher Reni.
" Bawa ke Rumah Sakit sekarang...!" kata seorang pria dari belakang tubuh mereka.
" Siap Ndan...!" sahut dua orang pria yang ternyata adalah polisi itu bersamaan.
Taufan nampak mengedarkan pandangannya karena kehilangan jejak Hamidah dan kekasihnya.
Sebelumnya Taufan bersama sepuluh anggota pasukannya sengaja datang untuk mengamati pergerakan Hamidah. Mereka datang sedikit terlambat hingga mereka tak menjumpai apa pun di kios baso itu. Kios baso dan kios-kios lainnya telah tutup. Suasana jalan di sekitarnya juga sepi. Mungkin karena hujan deras yang mengguyur Jakarta membuat banyak orang enggan keluar rumah dan lebih memilih berdiam di rumah.
" Kalian berpencar...!" perintah Taufan setelah terdiam sejenak.
" Siap Ndan...!" sahut pasukan Taufan.
Setelah memastikan delapan anak buahnya menyebar, Taufan pun melirik kearah dua anggota pasukannya yang sedang menggotong tubuh Reni. Saat melintas di depannya Taufan terkejut karena tangan Reni mencengkram erat ujung jaketnya.
" Tenang Reni, Kamu bakal dibawa ke Rumah Sakit. Kamu pasti sembuh...," kata Taufan sambil tersenyum lembut.
" Ke... sa... na. Me... me... reka Ham... Hami... dah lari ke sa... na...," kata Reni terbata-bata sambil menunjuk ke gang sempit di samping kios yang telah tutup.
Taufan membelalakkan matanya lalu mengangguk.
" Makasih Reni, sekarang Kamu ikut mereka ya. Ayo cepat, bawa dia ke Rumah Sakit. Pake motor aja biar cepet...!" perintah Taufan.
" Siap Ndan...!" sahut kedua polisi.
Taufan pun turut membantu menggotong Reni dan mendudukkannya di atas motor hingga posisi Reni diapit oleh kedua anak buah Taufan. Tak lama kemudian motor melaju cepat membelah jalan raya yang sunyi itu.
Taufan menoleh saat beberapa anak buahnya kembali dan melaporkan apa yang mereka temui.
" Sekarang ikut Saya...," kata Taufan sambil berlari kecil menyusuri gang sempit yang ditunjuk Reni tadi.
Taufan beserta delapan anak buahnya menyusuri gang sempit itu dengan hati-hati. Taufan menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya pertanda mereka harus berjalan tanpa suara.
" Hati-hati, banyak pecahan kaca dan paku. Keliatannya tempat ini sengaja dipasangi ranjau supaya ga dilewati orang...," kata Taufan mengingatkan.
" Siap Ndan...," sahut delapan anak buah Taufan setengah berbisik.
Gang sempit itu berkelok-kelok dan bermuara pada sebuah tempat yang hingar bingar semacam diskotik. Terlihat sedang ada pesta miras di sana. Sebagian lainnya sibuk berjudi dan sebagian lainnya asyik menenggak minuman beralkohol.
Saat diamati lebih detail, ternyata di sudut ruangan terdapat beberapa pasangan tengah melakukan hubungan int*m. Mereka melakukan itu secara terbuka tanpa rasa malu. Walau sebagian pakaian mereka masih melekat di tubuh masing-masing, namun perbuatan itu sungguh membuat Taufan dan anak buahnya geleng-geleng kepala.
Taufan sadar jika deretan kios di depan sana hanyalah kedok untuk menyamarkan tempat maksiat itu. Saat itu Taufan dan pasukannya masih bertahan di dalam gang sempit yang gelap itu sambil terus mengamati seisi ruangan.
" Gimana nih Ndan, Kita kan ga mungkin nangkap mereka semua...?" tanya salah seorang anak buah Taufan.
" Betul. Kita fokus menangkap Hamidah dan pasangannya dulu. Sisanya Kita urus nanti. Yang penting jangan lupa amankan pemilik tempat ini...," sahut Taufan yang diangguki kedelapan anak buahnya.
Saat itu lah Taufan bisa mengenali siapa pria yang menjadi kekasih Hamidah. Pria itu adalah buronan polisi yang lama dicari. Pria itu bernama Codot, sering terlibat dalam berbagai tindak kriminal diantaranya perampokan dan penganiayaan.
" Kita beruntung karena ga perlu capek-capek mengejar si Codot. Ternyata dia ada di depan mata dan anggap dia menyerahkan diri dengan suka rela...," kata Taufan sambil tersenyum.
" Betul Ndan...," sahut anak buah Taufan.
" Codot bagian Saya, Kamu awasi Hamidah, Kamu tangkap bartender itu dan yang lain bisa menyebar...," kata Taufan membagi tugas dan diangguki kedelapan anak buahnya.
Saat Taufan memberi aba-aba, pasukan pun bergerak.
Kedatangan Taufan dan pasukannya menggemparkan tempat maksiat itu. Semua orang kocar-kacir berusaha menyelamatkan diri. Pasangan yang sedang bercinta pun terlihat panik. Para pria sigap meninggalkan pasangannya tanpa peduli jika sebagian anggota tubuh mereka terlihat.
Beberapa orang berhasil kabur dan menembus barikade polisi. Namun Taufan dan anak buahnya tak mengejar mereka karena fokus kepada Hamidah dan kekasihnya itu.
Orang-orang yang tersisa menjerit marah karena gagal melarikan diri. Rupanya tiga orang polisi berdiri menghadang di ambang pintu sambil mengacungkan senjata hingga membuat semua orang tak berkutik.
Di sisi lain Taufan telah berhasil melumpuhkan kekasih Hamidah yang berusaha kabur itu. Pria itu sempat melakukan perlawanan namun tak sebanding dengan tenaga Taufan. Apalagi pria itu dalam kondisi mabuk.
Melihat kekasihnya diringkus polisi, Hamidah terkejut dan berniat kabur. Dia nampak siap melompati jendela sambil membawa tas besar.
" Kalo Kamu berani lari, pacarmu bakal mati...!" kata Taufan sambil mengarahkan moncong pistolnya ke tubuh kekasih Hamidah.
Hamidah nampak ragu sesaat namun ia tersenyum tipis. Ia yakin jika polisi tak akan melukai kekasihnya itu. Mengetahui Hamidah tak menggubris peringatannya, Taufan pun menekan ujung pistolnya ke belakang kepala Codot. Tepat di saat Hamidah akan melompati jendela, di saat bersamaan Codot berhasil lepas dari cekalan tangan Taufan.
Taufan yang tak ingin kehilangan buruan pun langsung menembakkan pistolnya ke lutut Codot hingga tembus dan berdarah. Jerit kesakitan membahana di ruangan itu hingga membuat semua orang terdiam. Hamidah pun terkejut lalu menatap nanar kearah Taufan.
" Jahat !. Kenapa Lo tembak dia...?!" tanya Hamidah lantang.
" Itu salah Lo !. Kalo Lo masih sayang sama dia, turun dan duduk di sana. Cepat...!" kata Taufan lantang.
Hamidah nampak menelan saliva dengan sulit. Ia memang mencintai pria itu. Tapi ia tak mau tertangkap dan perjuangannya menjadi sia-sia.
Melihat keraguan di wajah Hamidah membuat pria yang merupakan kekasih Hamidah itu merintih.
" Jangan lari Midah. Tolong jangan lari. Gue ga mau sendirian Midah...," panggil pria itu menghiba.
" Sorry Bang, Gue ga bisa. Gue selesaikan dulu urusan Gue, nanti Gue bakal balik nemuin Lo...!" sahut Hamidah sambil menggelengkan kepalanya.
" Dasar jal**g ga tau terima kasih !. Begini cara Lo memperlakukan Gue. Awas Lo, Gue bakal kejar Lo nanti Midah. Ke ujung dunia pun bakal Gue cari. Denger kan Midah...!" kata pria itu dengan marah sambil memegangi kakinya yang terluka.
Hamidah tak peduli. Ia nampak melompati jendela dan menghilang entah kemana. Codot pun menggeram kesal mengetahui wanita yang ia perjuangkan meninggalkannya begitu saja.
Namun sesaat kemudian terdengar jeritan dan makian Hamidah dari luar ruangan. Rupanya salah satu anak buah Taufan berhasil menghadang dan menangkap Hamidah.
Mendengar suara jeritan dan makian Hamidah membuat Codot tersenyum puas.
\=\=\=\=\=