Kidung Petaka

Kidung Petaka
121. Sudahi Saja


Lilian bergerak cepat. Ia segera menghubungi Taufan dan meminta bantuannya untuk melepaskan Gama dari jerat hukuman.


" Ok, Aku bakal bantu nanti Li. Kamu tenang aja ya...," kata Taufan dari seberang telephon.


" Alhamdulillah..., makasih ya Mas...," sahut Lilian dengan mata berkaca-kaca.


" Iya. Ngomong-ngomong kenapa Kamu hubungin Aku Li. Emangnya Rex kemana...?" tanya Taufan.


" Rex lagi ikut misi kemanusiaan di Afrika Mas. Dia yang nyaranin Aku buat telephon Kamu karena dia lagi ga bisa bantuin Aku...," sahut Lilian.


" Oh gitu. Makanya Aku sempet bingung waktu Kamu minta tolong sama Aku tadi. Soalnya Aku aja dibantuin sama Rex dan Gama di beberapa kasus yang sulit...," kata Taufan sambil tersenyum.


" Gitu ya Mas. Terus apa yang harus Aku lakuin Mas ?. Apa Aku perlu ikut jemput Gama ke kantor Polisi nanti...?" tanya Lilian.


" Ga usah Li. Ini cuma salah paham aja kok. Aku bisa handle sendiri nanti. Lagian Aku ga mau timbul masalah baru karena Gama liat Aku datang sama Kamu nanti. Bisa-bisa dia salah paham karena jelous sama Aku. Tau sendiri kan gimana posessif nya Gama sama Kamu...," sahut Taufan sambil tertawa.


Lilian pun tersenyum mengingat sikap posessif Gama padanya.


" Iya juga sih. Maaf ya Mas udah ngerepotin. Sekali lagi makasih...," kata Lilian.


" Ok, sama-sama. Aku langsung urus aja sekarang ya Li. Assalamualaikum...! " kata Taufan lalu mengakhiri pembicaraan mereka.


" Wa alaikumsalam..., " sahut Lilian sambil menatap ponselnya.


Lilian tampak tersenyum mengingat percakapannya dengan Taufan tadi. Ingatan Lilian kembali berputar ke saat dimana Taufan datang untuk menjemputnya dulu. Saat itu Gama juga tengah berbincang dengan Rex di teras rumah.


Lilian melihat api kemarahan di kedua mata Gama saat melihat kedekatan Taufan dengannya. Saat itu Lilian tak tahu menahu tentang perasaan Gama padanya. Lilian menganggap jika saat itu Gama kesal dan mencoba menggertak Taufan. Lilian mengira kemarahan Gama hanya sebagai bentuk kasih sayang Gama padanya yang sudah seperti kakak kandung.


Lilian menggelengkan kepala sambil tersenyum saat mengingat betapa posessif nya Gama sekarang. Lilian pun mengerti dan paham dengan sikap Gama setelah sang suami menjelaskan alasan sikap posessifnya itu.


\=\=\=\=\=


Saat itu Taufan dan Gama sedang berada di dalam mobil yang tengah melaju di jalan raya. Rupanya Taufan berhasil menjemput Gama bahkan memberi jaminan jika Gama tak terlibat dengan kasus mayat pria tak dikenal itu.


" Makasih udah bantuin Gue ya Fan...," kata Gama dengan tulus.


" Sama-sama Gam. Ga usah sungkan gitu lah, Kita kan udah lama temenan. Bahkan Lo sama Rex juga beberapa kali bantuin Gue mecahin kasus yang sulit...," kata Taufan sambil tersenyum.


" Iya juga. Eh, ngomong-ngomong Lo tau darimana Gue ditahan Polisi...?" tanya Gama sambil menatap Taufan yang saat itu sedang mengemudi.


" Dari Lian...," sahut Taufan cepat.


" Lian, Istri Gue...?" tanya Gama.


" Iya. Emang Lian mana lagi. Tapi Lo ga usah marah sama Lian atau curiga sama Gue ya Gam. Lian juga disuruh sama Rex buat hubungin Gue kok...," sahut Taufan.


" Oh gitu. Gue Kirain Lo masih suka sama Istri Gue dan neleponin dia di belakang Gue. Yang lebih parah Lo juga mencoba menikung Gue...," kata Gama sambil melengos.


" Anjrit Lo !. Mana ada Gue kaya gitu. Gue ini menghargai persahabatan Kita, walau Lo ga ngerasa sahabatan sama Gue. Lagian Gue udah punya calon Istri Gam. Mana mungkin Gue ngejar-ngejar Istri orang...!" kata Taufan berapi-api.


Mendengar ucapan Taufan membuat Gama tak kuasa menahan tawa. Taufan hanya mendengus kesal saat sadar dirinya dikerjai oleh Gama.


Tak lama kemudian mereka tiba di rumah Gama. Lilian nampak berlari keluar untuk menyambut kedatangan suaminya.


" Alhamdulillah Kamu pulang Sayang...," kata Lilian sambil menghambur ke pelukan Gama.


" Alhamdulillah Aku dinyatakan ga bersalah. Dan itu juga karena bantuan Taufan Sayang...," sahut Gama sambil mengecup kening Lilian.


Lilian mengurai pelukannya saat sadar jika Taufan ada di sana dan tengah mengamati mereka. Sedangkan Taufan tampak berdiri mematung menyaksikan adegan romantis Gama dan Lilian tadi. Dalam hati Taufan bahagia melihat kemesraan Lilian dan Gama.


" Makasih ya Mas Taufan. Maaf udah ngerepotin...," kata Lilian malu-malu.


" Masuk dulu yuk Fan. Ngopi sambil ngobrol di dalam...," ajak Gama.


" Kapan-kapan aja deh Gam. Gue masih harus lanjutin kerjaan Gue di kantor...," sahut Taufan.


" Oh gitu. Beneran kapan-kapan mampir ya. Ajak juga calon Istri Lo itu dan kenalin sama Kita. Iya kan Sayang...?" tanya Gama sambil merengkuh bahu Lilian.


" Iya Sayang...," sahut Lilian sambil tersenyum.


" Insya Allah kapan-kapan Gue ke sini lagi. Sekarang Gue pamit ya. Assalamualaikum...! " pamit Taufan setelah menjabat tangan Gama dan Lilian bergantian.


" Wa alaikumsalam..., " sahut Gama dan Lilian bersamaan.


Kemudian Taufan melajukan mobilnya perlahan meninggalkan kediaman Gama dan Lilian.


\=\=\=\=\=


Rex sedang duduk di teras sambil mengamati langit malam yang gelap. Tiba-tiba suster Tami datang lalu duduk merapat di samping Rex sambil merebahkan kepalanya di bahu sang kapten.


Rex pun terkejut dan langsung berdiri untuk menghindar dan itu membuat suster Tami tersungkur jatuh.


" Aduuhhh..., sakit Kapten...," rintih suster Tami sambil meringis.


" Apa yang Kamu lakukan Suster Tami...?!" tanya Rex dengan suara lantang hingga membuat beberapa relawan yang ada di pinggir lapangan menoleh ke teras rumah.


" Saya ga ngapa-ngapain. Kan Kapten yang manggil Saya dan memeluk Saya tadi...," sahut suster Tami dengan wajah tak berdosa.


" Ck. Ga usah drama Suster Tami. Semua orang tau kok apa yang Anda lakukan...," kata seorang tentara dari pinggir lapangan.


" Emang Saya ngapain...?" tanya suster Tami dengan berani.


" Cukup !. Ingat Suster Tami, Kita di sini sedang menjalankan tugas penting. Walau bukan medan perang dan suasana tenang, tapi sikap Kamu ini bikin kondisi di tempat ini ga nyaman. Saya ga bisa mentolerir perbuatan Kamu lagi dan Saya memutuskan mengirim Kamu ke team lain besok...!" kata Rex tegas hingga mengejutkan suster Tami.


" Jangan Kapten !. Saya ga mau dikirim ke tempat lain. Saya takut...!" sahut suster Tami menghiba.


Bahkan untuk melengkapi dramanya suster Tami bersimpuh di depan Rex sambil memegangi kakinya hingga membuat Rex risih. Rex menepis tangan suster Tami lalu berjalan menjauh.


" Maafkan Saya Suster Tami. Keputusan Saya sudah bulat. Jadi sebaiknya Kamu berkemas malam ini karena besok pagi akan ada orang yang menjemput Kamu...," kata Rex sambil berlalu.


Suster Tami nampak marah, kedua matanya pun berkaca-kaca. Ia tak menyangka jika perasaan cintanya untuk sang kapten justru membuatnya tersingkir dan jauh dari pria itu.


Dari balik jendela kamar terlihat Elvira dan dokter Lita yang saling menatap kemudian menggeleng pasrah.


" Ini resiko yang harus dia tanggung...," gumam Elvira sedih.


" Iya. Saya ga nyangka kalo dia senekad itu. Kenapa dia ga nyari yang lain aja sih, kan di sini tentara bukan cuma Kapten Rex...," kata dokter Lita kesal.


" Tapi tentara yang keren, ganteng dan punya jabatan ya cuma Kapten Rex dok...," kata Elvira sambil tertawa kecil.


" Iya juga. Tau ah, Saya ga mau ikut campur lagi. Suster Tami emang udah meresahkan dengan sikap beraninya itu. Saya aja sampe ketar-ketir ngeliatnya..., " kata dokter Lita sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur lipat.


Elvira mengangguk lalu ikut berbaring di kasur lainnya. Tak lama kemudian dokter Lita dan Elvira pun kembali tertidur.


Sementara itu di kamarnya Rex tengah menyandarkan tubuhnya yang lelah itu ke dinding kamar dengan kedua mata terpejam. Rupanya Rex tertidur sambil duduk. Itu adalah posisi favorit Rex saat ini.


Rex memang terbiasa tidur sambil duduk dan makin sering ia lakukan sejak suster Tami berani masuk ke kamarnya tanpa ijin.


Dalam tidurnya kali ini Rex kembali bermimpi. Ia mimpi bertemu pria berbaju putih yang merupakan mayat tak dikenal di dasar danau buatan itu.


bersambung