
Tiba-tiba Gama tersadar jika ia hampir merusak moment yang telah lama ia nantikan. Kemudian Gama menghela nafas panjang dan tersenyum. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Lilian.
" Maaf kalo terkesan memaksa. Kamu bisa pikirkan lamaranku di rumah nanti. Ga usah buru-buru, Aku pasti sabar menunggu sampe Kamu siap...," kata Gama sambil tersenyum lembut.
Lilian mengerjapkan mata tak percaya. Ia tak menyangka jika Gama di hadapannya adalah Gama yang selama ini dikenalnya karena terlihat lebih dewasa dan sabar.
" Kamu beneran ga marah kalo Aku ga jawab sekarang...?" tanya Lilian hati-hati.
" Ga dong Sayang. Udah ya. Kita pulang sekarang yuk...," ajak Gama lagi sambil menggamit tangan Lilian lalu membawanya melangkah menuju mobil.
Lilian tampak tersenyum sambil menatap punggung Gama yang berjalan di hadapannya. Gama membuka pintu mobil dan mempersilakan Lilian masuk.
Setelah keduanya duduk di dalam mobil, Gama pun melajukan mobilnya menuju rumah Ramon, rumah sang calon mertua.
\=\=\=\=\=
Hubungan Gama dan Lilian berjalan lancar. Kini keduanya kerap terlihat bersama. Bahkan Gama menggantikan tugas Ramon dan Rex untuk mengantar jemput Lilian bekerja.
Ramon dan Rex tampak bahagia melihat hubungan Gama dan Lilian yang membaik. Bahkan Rex mengingatkan Gama supaya ia dan kakaknya tak terlalu lama menjalani hubungan tanpa kepastian.
" Gue udah ngelamar Lian langsung setelah dia nerima Gue Rex. Tapi keliatannya dia masih perlu waktu...," kata Gama gusar.
" Oh ya ?. Jangan-jangan Kak Lian masih ragu sama Lo...," sahut Rex.
" Masa sih ?. Jadi Gue harus gimana Rex...?" tanya Gama.
" Kayanya Kita harus melibatkan orangtua Kita dalam hal ini Gam...," sahut Rex hingga membuat wajah Gama berbinar.
" Ide Lo boleh juga Rex. Sebaiknya Gue minta orangtua Gue datang buat ngelamar Lilian. Gitu kan maksud Lo...?" tanya Gama.
" Iya...," sahut Rex cepat.
" Ok, thanks ya Bro...," kata Gama sambil menepuk punggung Rex dengan lembut.
" Sama-sama...," sahut Rex sambil tersenyum.
Kemudian Rex bangkit lalu melangkah menuruni anak tangga untuk melihat pekerjaan Ipung, Edi dan Riki di lantai dasar.
Gama segera meraih ponselnya. Ia berniat menghubungi kedua orangtuanya dan meminta mereka melamar Lilian untuknya.
" Assalamualaikum Ma...," sapa Gama saat panggilan video call tersambung.
" Wa alaikumsalam..., Kamu masih di bengkel Nak...?" tanya Mira sambil tersenyum.
" Iya Ma. Papa mana Ma...?" tanya Gama.
" Ada di dalam. Apa Kamu mau bicara sama Papa...?" tanya Mira sambil berjalan menuju ruang kerja sang suami.
" Aku mau bicara sama Mama dan Papa...," sahut Gama serius hingga membuat Mira mengerutkan keningnya.
" Apa itu hal penting, ada apa Gama...?!" tanya Mira cemas.
Melihat istrinya datang sambil melakukan sambungan video call dengan putra semata wayang mereka membuat Gondo menghentikan pekerjaannya lalu mendekati Mira.
" Ada apa Ma...?" tanya Gondo sambil menyentuh punggung sang istri.
" Ga tau Pa. Gama minta ngobrol sama Kita berdua, penting katanya...," sahut Mira.
Gondo meraih ponsel Mira dan bicara dengan Gama.
" Ada apa Nak, jangan bikin Mama cemas kaya gitu dong...," kata Gondo yang tahu jika sang anak sedang mengerjai mereka.
" Ck, kenapa Papa bisa tau sih...," gerutu Gama sambil melengos hingga membuat Gondo tersenyum.
" Kamu liat Ma. Anak ini cuma ngerjain Kamu...," kata Gondo sambil memperlihatkan wajah Gama di layar ponsel itu.
" Iya iya, maaf ya Mamaku sayang. Sekarang Aku mau ngomong serius nih. Tolong dengerin dan bantu Aku ya...," kata Gama.
" Apalagi ini Gama. Kamu...," ucapan Mira terputus karena Gondo memotong cepat.
" Biarkan Gama bicara dulu Ma...," kata Gondo.
Mira mendengus kesal karena yakin jika yang akan dibicarakan oleh Gama bukan lah hal penting. Namun karena Gondo memintanya diam, maka Mira diam sambil menatap layar ponselnya dan menunggu apa yang akan Gama bicarakan.
" Aku punya seseorang yang Aku cintai. Aku mau minta tolong sama Papa dan Mama untuk melamarnya...," kata Gama dengan mimik wajah serius.
Ucapan Gama membuat Gondo dan Mira saling menatap tak percaya. Mereka tak merespon ucapan Gama karena ragu dengan keseriusan Gama.
" Pa... Ma...," panggil Gama hingga mengejutkan Mira dan Gondo.
" Oh baik lah. Jadi siapa wanita itu, orang mana, apa pekerjaannya, apa Kami pernah mengenalnya dan gimana keluarganya...?" tanya Mira beruntun.
" Ya Allah, kenapa Mama nanya sebanyak itu sih. Mama bukan petugas sensus kan...?" tanya Gama dengan mimik wajah tak suka.
" Anak kurang ajar !. Itu pertanyaan standart yang bakal ditanyain sama orangtua saat anaknya minta kawin...!" kata Mira dengan galak.
" Nikah Ma, bukan kawin...," protes Gama.
" Sama aja Gama !. Ujung-ujungnya kan ke sana juga. Lagian Kamu udah punya apa sampe berani ngelamar anak orang...? " tanya Mira dengan tatapan meremehkan.
" Aku punya pekerjaan dan penghasilan. Apa itu aja ga cukup Ma...?" tanya Gama.
" Kamu jangan bikin malu Mama sama Papa ya Gam !. Penghasilan dari bengkelmu berapa ?. Apa cukup memenuhi kebutuhan rumah tanggamu nantinya...?" tanya Mira gusar.
" Calon istriku kerja Ma. Jadi Mama ga usah khawatir soal itu...," sahut Gama santai.
" Ya Allah anak ini. Liat Anakmu Pa. Masa dia mau mengandalkan perempuan untuk membiayai pernikahan mereka nanti. Gimana sih Pa. Kasih tau dia supaya ga bikin malu Pa...!" kata Mira sambil mengguncang tangan suaminya dengan gusar.
Gondo menggelengkan kepala melihat perdebatan istri dan anaknya itu. Kemudian Gondo mengambil alih ponsel di tangan Mira lalu mulai bicara serius dengan Gama.
" Jadi gimana Gam. Kapan Papa sama Mama harus melamarnya...?" tanya Gondo to the point hingga mengejutkan Mira.
Bagaimana tidak, sang suami justru terlihat santai dan tak khawatir soal keuangan anaknya. Sedangkan Gama nampak tersenyum puas.
Bukan tanpa alasan Gondo melakukan itu. Ia yakin jika putra kebanggaannya itu telah memiliki bekal yang cukup untuk menikah, makanya Gama meminta ia dan istrinya melamarkan sang kekasih untuknya.
" Secepatnya Pa. Apa bisa Minggu ini...?" tanya Gama antusias.
" Baik lah. Insya Allah Papa sama Mama ke Jakarta Jum'at malam...," sahut Gondo.
" Ok, Aku tunggu ya Pa. Makasih. Assalamualaikum...," kata Gama dengan senyum mengembang.
" Sama-sama Nak, wa alaikumsalam...," sahut Gondo di akhir percakapan mereka.
" Apa-apaan sih Papa ini ?. Kok malah langsung diiyain. Tanya dulu dong Pa, apa Papa ga penasaran kenapa Gama mendadak minta nikah. Padahal Kita udah sering minta dia nikah tapi selalu cuek. Apa Papa ga curiga...?" tanya Mira kesal.
" Justru karena Papa penasaran makanya Papa iyain tadi. Papa mau tau, cewek mana yang udah bikin Gama Kita klepek-klepek dan mau memikirkan pernikahan...," sahut Gondo sambil tersenyum penuh makna.
" Maksud Papa...?" tanya Mira tak mengerti.
" Banyak pertanyaan di kepala Kita yang bakal terjawab kalo Kita datang dan menemui anak itu. Kalo lewat telephon kaya gini kan ga puas Ma...," sahut Gondo sambil melangkah ke meja kerjanya.
" Jadi Kita beneran ke Jakarta Pa...?" tanya Mira.
" Iya Ma. Jangan lupa beli souvenir cantik untuk calon besan Kita nanti ya...," sahut Gondo.
Mira termangu di tempat. Di satu sisi ia bahagia mendengar putranya akan menikah. Namun di sisi lain Mira curiga jika telah terjadi sesuatu dengan Gama hingga meminta mereka datang lebih cepat.
\=\=\=\=\=