Kidung Petaka

Kidung Petaka
90. Gama Terluka


Lilian nampak mengerutkan keningnya saat melihat kedatangan Gama di loby Rumah Sakit Sentosa. Dengan enggan Lilian menghampiri Gama.


" Rex ga bisa jemput, lagi beresin kamar. Jadi Gue yang wakilin. Terserah Lo mau pulang bareng sama Gue atau mau manggil Taxi aja...," kata Gama santai.


Lilian terkejut karena tak biasanya Gama bersikap seacuh itu. Biasanya Gama akan memasang mode 'bucin akut' saat berada di dekatnya. Tapi kali ini jauh berbeda dan itu membuat Lilian merasa lega sekaligus bingung.


" Gue balik bareng Lo aja. Gapapa kan...?" tanya Lilian.


" Ga masalah. Yuk, mobil Gue di sana...," kata Gama sambil melangkah mendahului Lilian.


Lilian mengangguk lalu mengekori Gama. Namun langkah Lilian terhenti saat ia melihat Riko tengah berdiri di samping loby sambil menatap lekat kearahnya. Lilian merasa tak nyaman dan mulai khawatir. Namun saat melihat Gama berjalan di depannya, Lilian pun merasa lebih tenang.


Apa yang dikhawatirkan Lilian pun terjadi. Tiba-tiba Riko menyerang Gama dengan brutal. Beruntung Gama yang selalu bersikap waspada itu berhasil mengelak bahkan balas melayangkan pukulan kearah Riko. Namun rupanya Riko berbuat curang. Ia menggunakan senjata tajam dan langsung menghujamkannya ke perut Gama.


" Gama awaass...!" jerit Lilian mengingatkan Gama.


Gama menoleh dan itu mengakibatkan pisau yang dihujamkan Riko berhasil menggores perutnya. Gama mengerang sejenak lalu balik melayangkan tendangan kearah Riko dan berhasil menjatuhkan pisau yang digenggamnya ke lantai.


Pertarungan antara Riko dan Gama membuat suasana loby menjadi kacau. Jeritan para wanita mewarnai loby yang saat itu tengah dipadati pasien dan pengunjung. Suara jeritan itu juga memancing para security yang berdatangan ke loby untuk melerai pertarungan itu.


Melihat pisaunya terjatuh di lantai, Riko bergegas mengejarnya dan bersiap meraih pisau itu. Tapi dua orang security bertubuh besar datang dan langsung meringkusnya. Riko menjerit marah sambil terus meronta. Ia juga memaki dengan kalimat kasar hingga membuat seorang security kesal dan langsung meninju mulutnya hingga Riko terdiam.


" Jaga ucapan Lo. Banyak anak-anak di sini...!" hardik sang security setelah berhasil membungkam Riko.


Riko pasrah saat digelandang ke kantor security. Sedangkan Gama nampak memegangi perutnya yang tergores itu sambil meringis menahan sakit.


" Lo gapapa Gam...?" tanya Lilian cemas.


" Gapapa, cuma luka kecil aja...," sahut Gama cepat sambil bersiap melangkah menuju parkiran.


" Apa ga sebaiknya diobati dulu Gam...," kata Lilian sambil menahan lengan Gama agar mau mengikuti sarannya.


Gama menoleh dan menatap lengannya yang digenggam Lilian. Untuk sesaat tatapan keduanya bertemu dan Lilian pun segera melepaskan genggaman tangannya itu dengan gugup.


" Lukanya diliat dulu ya biar ketauan parah atau ga. Kalo parah harus segera diobati supaya ga infeksi. Kalo ga parah, bisa diobati di rumah aja...," bujuk Lilian penuh harap.


" Ok...," sahut Gama datar namun membuat Lilian tersenyum.


Kemudian Lilian membawa Gama ke ruangan perawat. Rekan-rekan Lilian pun menyambut kedatangan mereka dengan antusias.


" Ada apa sih, kenapa Riko nyerang temen Lo Li...?" tanya Devi sambil mengekori Lilian dan Gama.


" Ga tau, lagi stress kali...," sahut Lilian cuek sambil membantu membaringkan Gama di sofa.


" Pasti gara-gara Lo nolak pernyataan cintanya kemarin deh. Iya kan Li...?" tanya Nia.


" Kalo gara-gara ditolak terus dia nyakitin orang, artinya dia picik dan berpikiran sempit dong. Orang ga suka kok dipaksa, dasar aneh...," kata Devi.


" Udah jangan bahas dia bisa ga sih !. Sekarang minggir, Gue mau ngeliat lukanya Gama...," kata Lilian dengan tatapan galak.


" Galak amat sih Li, kaya Emaknya singa Lo...," gerutu Nia sambil menepi.


" Biarin...," sahut Lilian ketus.


Gama tersenyum diam-diam saat melihat interaksi Lilian dengan rekan-rekannya itu. Dalam hati Gama bersorak senang karena Lilian menolak Riko. Itu artinya peluangnya untuk mendapatkan cinta Lilian terbuka lebar.


Perlahan Lilian membuka kemeja Gama yang telah basah dengan darah itu. Gama hanya memejamkan mata karena mulai merasa pusing. Saat melihat luka gores yang lumayan dalam itu Lilian dan kedua temannya saling menatap sejenak.


" Apa lukanya parah Suster...?" tanya dokter Siska dari ambang pintu.


Rupanya ia juga menyaksikan pertarungan Gama dan Riko tadi.


" Luka goresnya ga terlalu dalam dok...," sahut Lilian sambil menepi.


Dokter Siska menghampiri Gama untuk mengecek lukanya. Ia nampak menekan luka itu lalu tersenyum.


" Beruntung ga sampe menyentuh organ dalam. Sekarang tolong bersihkan lukanya lalu dibalut supaya ga terkena debu...," kata dokter Siska.


Lilian pun bergegas membersihkan sekaligus membalut luka Gama. Selama lukanya dibersihkan dan dibalut, Gama hanya memejamkan mata. Gama baru membuka mata setelah lukanya diperban.


" Bisa Kita pulang sekarang kan...?" tanya Gama sambil menatap kearah Lilian.


" Bisa. Jangan lupa minum obatnya ya Mas Gama...," sela dokter Siska cepat hingga membuat Lilian dan Gama tersenyum.


" Makasih dok...," sahut Gama sambil tersenyum.


Kemudian Gama bangkit dari posisi berbaringnya lalu berjalan keluar ruangan karena tak nyaman berada bersama empat wanita di ruangan itu.


" Sama-sama. Saya harap Riko akan segera mendapat sanksi pemecatan karena telah beberapa kali berbuat onar di Rumah Sakit ini...," kata dokter Siska hingga membuat langkah Gama terhenti.


" Kenapa begitu dok...?" tanya Gama tak mengerti.


" Ini bukan kali pertama Riko membuat onar. Yang sebelumnya bahkan membuat seorang perawat mengundurkan diri karena tak tahan terus menerus diterror olehnya. Beruntung Suster Lilian cukup tangguh dan tak menggubris sikap Riko yang over pede itu...," sahut dokter Siska sambil berlalu.


" Gue sih setuju sama pendapat dokter Siska...," kata suster Devi.


" Gue juga...," sahut suster Nia.


" Kalo Lo gimana Li...?" tanya suster Devi.


" Kalo Gue mau pulang sekarang. Duluan ya, daahh...," sahut Lilian sambil tersenyum lalu melangkah meninggalkan ruangan.


Devi dan Nia saling menatap sejenak lalu menggelengkan kepala melihat respon Lilian.


\=\=\=\=\=


Sepanjang perjalanan Gama dan Lilian tak saling bicara. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Setelah mengantar Lilian pulang dengan selamat, Gama pun memilih pulang untuk istirahat.


" Assalamualaikum..., " sapa Lilian sambil membuka pintu.


" Wa alaikumsalam. Lho, Gama mana Kak. Kok sendirian...?" tanya Rex sambil mencari keberadaan Gama.


" Pulang. Dia harus istirahat biar lukanya cepet sembuh...," sahut Lilian.


" Luka kenapa ?. Dia baik-baik aja kok tadi...," kata Rex gusar.


Kemudian Lilian menceritakan semua yang terjadi di Rumah Sakit pagi ini. Rex nampak mengepalkan tangannya saat mendengar Gama terluka.


" Lukanya udah diobati dan dibalut tadi. Gama hanya harus istirahat dan minum obat supaya cepet pulih...," kata Lilian menenangkan sang adik.


" Alhamdulillah, syukur lah kalo ga parah...," sahut Rex sambil menghela nafas lega.


" Kata Gama Kamu lagi beresin kamar. Emangnya Kamu lagi nyari apa Rex...?" tanya Lilian sambil mengamati kamar Rex dari ambang pintu.


" Ada bau ga enak di kamarku. Aku kira ada bangk* tikus atau kodok, tapi ternyata bersih. Karena terlanjur bongkar-bongkar, sekalian aja Aku beresin...," sahut Rex.


" Jadi posisi tempat tidur diganti nih...?" tanya Lilian.


" Iya. Biar lebih fresh aja Kak. Kan enak kalo tidur deket jendela. Selain bisa dapat AC alam juga bisa menghemat pengeluaran...," gurau Rex sambil mengikat karung yang berisi sampah.


" Bagus juga. Kalo gitu Kakak ke kamar dulu ya Rex. Mau istirahat, ngantuk pengen tidur...," pamit Lilian sambil menguap.


Rex mengangguk lalu melangkah ke dapur untuk menyeduh kopi.


Setelahnya Rex membawa karung berisi sampah tadi keluar rumah untuk dibuang ke tempat pembuangan sampah.


Tanpa Rex sadari sehelai kain lusuh terjatuh dari karung. Kain itu bergerak perlahan, merayap pelan di atas lantai lalu masuk ke dalam kamar Rex melalui sela bawah pintu.


Di saat yang sama di kamar Lilian. Gadis itu baru saja terpejam, namun sesaat kemudian ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Nampaknya Lilian tengah bermimpi buruk hingga membuat tidurnya gelisah.


bersambung