
Setelah menerima kartu undangan pernikahan Rex, tubuh Itje nampak limbung. Beruntung Azam dan Aksara sigap menahan tubuhnya agar tak jatuh ke lantai.
" Mama gapapa kan...?!" tanya Azam dan Aksara bersamaan.
Kecemasan nampak di wajah Aksara dan papanya hingga membuat keluarga Rex tak enak hati.
" Mama gapapa Sa. Tapi bisa kan Mama berbaring sebentar...?" tanya Itje lirih.
" Iya Ma. Mama bisa istirahat di ruangan Aku, ayo Aku anter Ma...," sahut Aksara sambil berusaha memapah sang Mama.
" Biar Aku bantu Sa...," kata Rex menawarkan diri.
" Iya, makasih Rex...," sahut Aksara.
Kemudian Rex dan Gama mengalungkan lengan Itje di bahu mereka masing-masing lalu membawa tubuh Itje ke ruangan yang dimaksud Aksara.
Setelah membaringkan Itje di atas tempat tidur, Rex dan Gama pun berniat keluar dari ruangan itu. Namun langkah Rex terhenti karena Itje menahan tangannya.
" Bisa Kita ngobrol sebentar Rex...?" tanya Itje dengan suara parau.
" Mmm..., tapi Tante kan harus istirahat...," sahut Rex ragu.
" Gapapa, sebentar aja kok. Bisa ya...," pinta Itje penuh harap.
" Jangan kaya gitu Ma. Rex juga ditunggu sama keluarganya di luar...," kata Aksara tak enak hati.
" Santai aja Sa, Kami ga buru-buru kok. Kalian selesaikan aja urusan Kalian, Kami tunggu di luar...," kata Gama tiba-tiba.
" Emangnya gapapa Mas...?" tanya Aksara.
" Gapapa, iya kan Rex...," kata Gama sambil menepuk pundak adik iparnya itu.
" Iya...," sahut Rex dengan enggan.
Kemudian Gama bergegas keluar dari ruangan itu untuk memberi kesempatan pada Itje, Rex dan Aksara bicara dari hati ke hati.
" Makasih Mas...," kata Aksara sambil mengantar Gama hingga ke pintu.
" Sama-sama...," sahut Gama sambil berlalu.
Setelah menutup pintu Aksara pun mendekat kearah sang Mama yang tengah berbaring itu. Tapi Rex justru berdiri dari duduknya lalu melangkah ke pintu.
" Maaf ya Sa. Pintunya Aku buka aja biar ga jadi fitnah...," kata Rex sambil membuka pintu yang tertutup rapat itu hingga terbuka lebar.
Aksara nampak mengangguk pasrah. Kali ini ia benar-benar harus menerima kenyataan jika Rex tak akan pernah jadi miliknya.
" Jadi apa yang mau Tante omongin...?" tanya Rex sambil menarik kursi agar bisa duduk lebih dekat dengan Itje.
" Tante mau minta maaf Rex...," sahut Itje dengan mata berkaca-kaca.
" Tante ga perlu minta maaf lagi. Aku udah maafin Tante kok...," kata Rex sambil tersenyum.
" Tapi kenapa Kamu menghukum Aksara kaya gini Rex...?" tanya Itje.
" Menghukum gimana maksud Tante...?" tanya Rex tak mengerti.
" Kamu menghukum Aksara dengan cara memupuskan harapannya untuk bersanding dengan Kamu Rex. Kamu tau kan kalo Aksara masih mencintai Kamu...?" tanya Itje dengan air mata berderai.
" Ini bukan hukuman Tante. Aku juga ga pernah memupuskan harapan Aksara. Hubungan Kami udah selesai dan itu artinya Kami bebas dari ikatan yang membatasi Kami. Aksara bebas menjalani hidupnya sesuai dengan pilihannya, begitu pula Aku. Dan Aku memutuskan menikah dengan gadis lain jauh setelah hubunganku dengan Aksara berakhir Tante...," sahut Rex dengan sabar.
" Tapi Tante kira Kamu kembali karena mau melanjutkan mimpi Kalian...," kata Itje gusar.
" Apa semua karena Tante Rex...?" tanya Itje sambil menatap Rex dalam-dalam.
" Maaf kalo Aku harus jujur. Ucapan Tante adalah salah satu faktor yang bikin Aku mundur dan memilih mengejar mimpi yang lain...," sahut Rex cepat.
Jawaban Rex membuat suasana di dalam ruangan hening dalam sekejap. Itje nampak menghela nafas kuat berkali-kali untuk membuang sesak di dalam dadanya. Sedangkan Aksara nampak menghapus air mata yang mengalir deras di wajahnya dengan tissu yang dibawanya.
" Ehm..., kalo ga ada yang mau diomongin lagi Aku pamit ya Tante...," kata Rex dengan santun.
" Iya Rex. Maafkan Tante sekali lagi dan makasih karena masih mau berteman dengan Aksara...," sahut Itje dengan suara parau.
" Sama-sama Tante. Aku pamit ya, Assalamualaikum..., " kata Rex setelah mencium punggung tangan Itje dengan takzim.
" Wa alaikumsalam...," sahut Itje dan Aksara lirih.
Kemudian Rex keluar dari ruangan itu dengan langkah mantap pertanda dia siap menyongsong masa depannya. Sedangkan Itje dan Aksara hanya bisa melepas kepergian Rex dengan pikiran berkecamuk.
" Tinggalin Mama sendiri Sa. Kamu masih harus menjamu tamu kan...," pinta Itje tiba-tiba.
" Ok, Aku panggilin Papa buat nemenin Mama ya...," kata Aksara.
" Iya...," sahut Itje sambil memejamkan matanya.
Aksara pun menyelimuti tubuh sang Mama hingga ke perut lalu berjalan pelan menuju pintu. Sebelum menutup pintu, Aksara kembali menoleh kearah Itje untuk memastikan sang Mama baik-baik saja.
Saat Aksara menutup pintu rapat-rapat Itje pun membuka matanya.
" Maafkan Mama Sa. Mama telah merenggut kebahagiaan yang seharusnya jadi milik Kamu. Maaf...," gumam Itje sambil menangis.
\=\=\=\=\=
Setelah hadir di acara pembukaan klinik Aksara, Rex dan keluarganya memutuskan mampir di sebuah Rumah makan.
" Rumah makan ini kan ga jauh dari apotik tempat Shezi kerja ya Rex. Kenapa Kamu ga jemput dia biar bisa makan bareng sama Kita...?" tanya Lanni.
" Shezi lagi sibuk Bu. Dia ga bisa diganggu untuk beberapa waktu ke depan...," sahut Rex sambil meneguk kopi dari gelasnya.
" Ibu ga percaya. Coba Ibu telephon dia...," kata Lanni sambil meraih ponselnya.
" Ga usah Bu. Jangan bikin posisi Shezi jadi sulit karena terpaksa memenuhi undangan Kamu...," kata Ramon menengahi.
" Kok Ayah ngomong gitu sih ?. Wajar dong Aku mau ngajak calon menantuku itu makan bersama...," sahut Lanni membela diri.
" Tapi justru itu bikin Shezi ga enak sama temen-temennya Bu. Kan selama ini dia udah bolak balik ijin untuk mengurus dokumen pernikahannya dengan Rex. Walau Ayah yakin mereka ngerti tapi Shezi juga ga bisa seenaknya kan. Apalagi pernikahan mereka juga udah deket, dan itu artinya Shezi bakal ijin cuti lagi nanti. Makanya kasih kesempatan Shezi untuk mengerjakan tugasnya dengan baik sebagai bentuk tanggung jawabnya...," kata Ramon bijak.
" Oh gitu. Ok deh Ayah Sayang...," sahut Lanni sambil mendaratkan ciuman di pipi sang suami.
Tindakan Lanni diikuti Gama yang juga mencium pipi Lilian dengan mesra. Melihat aksi Ibu dan iparnya itu membuat Rex mendengus kesal.
" Sabar Rex. Sebentar lagi Kamu juga bisa kaya gini...," kata Ramon sambil tersenyum untuk menenangkan Rex.
" Tapi Shezi tuh bukan type cewek yang suka mengekspos kemesraan di depan umum Yah...," sahut Rex cepat.
" Gapapa Rex, Ibu juga dulu gitu kok. Tapi setelah menikah dan punya anak, Ibu malah suka nunjukin kemesraan di depan orang banyak biar semua orang tau kalo Pak Ramon yang ganteng ini milik Ibu. Cuma milik Ibu dan anak-anak Ibu...," kata Lanni sambil memeluk suaminya dengan erat.
" Betul. Ayah juga gitu kok...," sahut Ramon sambil tertawa lalu mengecup pipi sang istri dengan lembut.
Aksi Lanni dan Ramon itu mau tak mau membuat Lilian dan Gama tertawa tapi membuat Rex berdecak sebal.
\=\=\=\=\=